Bismillah aku udah mulai nulis lagi, jadi ayo kita kembali update ini yaa
Ini masih repost sebenernya, mungkin ada yg udh pernah baca part ini. Tapi gapapa dibaca lagi aja, karna nnt di pertengahan ada lumayan banyak detail yg berubah
***
Arin menikmati hari-hari pacaran sehat nan produktifnya bersama Adam.
Sabtu pagi, ia sudah berada di rooftop rumah kontrakannya untuk senam pagi bersama Adam.
Setelah berdebat panjang mengenai agenda olahraga sehat, tapi tidak terlalu melelahkan, pilihan mereka akhirnya jatuh pada senam dengan instruktur dari youtube yang mereka putar melalui laptop Adam.
"Dua ... dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan!"
Arin ikut menghitung dengan semangat, sambil menggerakkan anggota tubuhnya mengikut sang instruktur senam yang ada di layar laptop.
Adam yang berdiri di sebelahnya turut menaruh kedua tangannya di pinggang, lalu menggerakkan kakinya untuk jalan di tempat, serta kepalanya yang turut bergerak mengangguk-angguk.
"SKJ banget gini kayak anak SD nggak sih, Rin?" protes Adam meski tetap menggerakkan tubuhnya.
"Enggak kok, Dam. Lihat itu, instruktur senam kita ibu-ibu kok."
"Nggak sekalian senam pramuka?"
"Oh iya, bener-bener, Dam! Aku dulu pas sekolah suka senam pramuka. Di kamu juga, ya?"
Adam menyesal mengatakan hal tersebut, sebab setelah musik senam kebugaran jasmani ini berakhir, Arin justru melanjutkannya dengan senam pramuka yang mana gerakannya juga tak jauh berbeda.
Sekitar satu jam mereka melakukan gerakan berbagai senam yang ada di youtube, hingga keduanya mulai kelelahan dan merebahkan diri di atas keramik rooftop yang teksturnya lebih kasar dibanding keramik di dalam rumah.
"Ternyata senam kayak gitu doang, capek juga ya, Dam," keluh Arin dengan suara napasnya yang sesekali tersengal.
Adam turut mengatur napasnya yang naik turun. Ia memejamkan kedua matanya, lantaran teriknya sinar matahari pagi yang terasa menyorot ke mata, dengan posisi mereka yang berbaring menghadap langit begini.
"Namanya juga olahraga, Rin. Bagus deh kita keringetan juga."
Arin memiringkan tubuhnya untuk menghadap ke Adam, tangannya mengapit lengan Adam seiring dengan kepalanya yang menempel di bahu lelaki itu itu.
Aroma dari keringat yang bercampur dengan tubuh Adam kini terasa di hidungnya. Namun, Arin justru menyukainya.
Adam itu tipikal lelaki yang rajin menjaga kebersihan tubuhnya. Meski tidak harus spa sebulan sekali seperti Arin, kulit tubuh Adam tetap terawat dan memiliki aroma khas yang tidak menyengat.
Arin dapat mencium aroma parfum yang rupanya sudah digunakan Adam, padahal mereka belum mandi pagi. Arin yang sudah gemas pun kini memeluk tubuh Adam.
"Habis ini kita ngapain lagi, Dam?"
Adam turut memiringkan tubuhnya, lalu balas memeluk Arin.
"Mandi dulu sih, Rin. Kita udah keringetan banget gini."
"Terus abis mandi, ngapain lagi, Dam?"
"Cari sarapan. Kamu mau makan apa?"
Adam merapikan rambut Arin yang menempel di dekat matanya, lantaran keringat yang tadi membanjiri wajah itu.
"Aku males keluar, pesen makan aja, kan?"
"Eh, di kulkas masih ada makanan yang kamu beli waktu itu 'kan, Rin?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Friendhome
RomansaArin gak suka tinggal di apartemen, gara-gara kartu aksesnya sering hilang dan harus bayar denda setiap kali membuat laporan untuk pergantian kartu. Arin juga gak suka tinggal di kos-kosan. Sempit dan sumpek. Sebesar-besarnya kamar kos, tetap aja c...
