Arin menyandarkan kepalanya di pundak Adam, selagi matanya fokus menatap layar televisi yang menampilkan sebuah film survival di bawah laut.
Aksi Kristen Stewart melawan para monster laut yang menegangkan membuat Arin sesekali mencengkram lengan Adam. Ini memang bukan film horor, tapi suasana menegangkan dalam setiap adegannya cukup membuat Arin berkali-kali menahan napas.
"Kata kamu, lebih serem monster laut yang ini atau Megalodon?" tanya Arin, di sela-sela mereka menonton.
"Dua-duanya serem, aku udah pasti langsung mati sih kalo meet up sama mereka."
"Duh, udah nggak aman berarti nih liburan ke pantai. Apa kita harus jadi anak gunung aja?"
"Tapi di gunung juga banyak hewan buas sih, Rin. Terus katanya ada pasar setan juga lagi."
"Oh, iya juga. Emang udah paling bener kita di kamar aja, lebih aman dan nyaman."
Arin melingkarkan kedua lengannya di pinggang Adam, lalu memeluknya sambil menyandarkan kepalanya di dada Adam.
Punggung mereka yang semula bersandar pada headboar tempat tidur, perlahan merosot hingga berbaring di atas kasur.
Adam dapat merasakan suara halus dari napas Arin yang mulai beraturan, lalu mendapati bahwa kekasihnya malah tertidur.
Adam berusaha menarik tangannya yang semula menjadi bantalan Arin tertidur dengan perlahan, lalu merapikan selimut untuk menutupi tubuh wanita itu.
Arin terlihat sudah sangat terlelap dalam tidurnya. Mereka memang cukup kelelahan setelah senam SKJ yang dirapel dengan senam pramuka tadi pagi.
Adam berdiri untuk menuntup gorden kamar Arin, agar teriknya cahaya matahari siang ini sedikit terhalang oleh goden Arin yang bersifat blackout.
Ponsel Arin tiba-tiba berdering panjang, menandakan ada telepon masuk. Adam yang baru akan keluar dari kamar wanita itu, melirik sejenak nama si pemanggil untuk memastikan apakah itu panggilan penting atau tidak.
Nama 'Kak Ilham' muncul di layar, yang Adam kenali sebagai kakaknya Arin.
Kakak-kakak Arin tergolong jarang menelpon, biasanya Arin bertukar kabar hanya via chat karena dirasa sudah cukup.
Adam pun terpaksa harus membangunkan Arin.
"Sayang," panggil Adam lembut, sambil menepuk pelan lengan Arin.
Arin menggeliat pelan, tapi matanya masih terpejam.
"Rin, Kak Ilham nelpon."
"Hah? Tumben ... kenapa sih?"
Arin membuka matanya secara perlahan, lalu mengambil ponselnya yang tergeletak di dekat bantal.
Arin mengusap layar ponselnya, mengangkat panggilan tersebut. Namun, pandangannya kini tertuju pada Adam.
"Kamu mau ke mana, Dam?"
"Balik ke kamar aku, kamu mau tidur lagi, kan?"
"Kamu nggak mau tidur di sini? Tidur doang ... nggak ngapa-ngapain, sumpah deh!"
Adam tertawa pelan, mendengar ajakan Arin untuk tidur siang di kamarnya. Ia melirik ponsel yang sudah menempel di telinga Arin, tapi wanita itu malah berbicara dengan dirinya.
"Kak Ilham nungguin kamu tuh, jawab dulu aja. Aku ke kamar dulu bentar ya, nanti balik lagi ke sini."
Arin mengangguk, lalu mulai fokus pada panggilan di ponselnya.
"Kenapa, Kak? Kok tumben nelpon."
"Kamu sibuk banget ya main rumah-rumahan sama Adam?"
Arin tertawa mendengar kalimat pembuka dari kakaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Friendhome
RomanceArin gak suka tinggal di apartemen, gara-gara kartu aksesnya sering hilang dan harus bayar denda setiap kali membuat laporan untuk pergantian kartu. Arin juga gak suka tinggal di kos-kosan. Sempit dan sumpek. Sebesar-besarnya kamar kos, tetap aja c...
