Part 56

9.5K 1K 256
                                        

Sumpah part ini panjang banget, tapi dibaca pelan-pelan aja ya, soalnya ini bikin emang capek. Aku pun kelar nulis part ini energi langsung terkuras bgt 😭😭

Oh iya, btw, berhubung cerita yg aku upload di wattpad ini pengen cepet cepet aku upload biar kalian bisa baca, aku belum sempat buat menyesuaikan dialog dengan bahasa daerah kampungnya Adam. Mungkin ada yg sadar, kenapa orang sumatera bahasanya kayak gini, gak sumatera banget.

Iyaa, Aku tau kok huhu. Aku pilih kampung Adam di Sumatera karena punya banyak keluarga di sana. Jadi niatnya aku akan minta bantu mereka untuk translate, tapi aku belum sempat, jadi harap dimaklumi ya guys. Semoga kalian nggak terganggu dengan ini

***

Adam baru bisa merebahkan punggungnya di tempat tidur pada pukul sebelas malam, setelah seharian penuh ini mengurus masalah Lintang yang sudah melebar ke mana-mana.

Di mata ibu, Lintang hanya terlibat pergaulan bebas yang menimbulkan setumpuk hutang yang perlu Adam bayar. Padahal, akar masalahnya justru ada pada Lintang yang otaknya sudah rusak karena kecanduan judi online.

Adam mengurung Lintang di kamarnya setelah menyingkirkan seluruh alat komunikasi yang bisa membuat Lintang mengakses website judi online.

Awalnya, Lintang masih kooperatif dan menuruti ucapan Adam, hingga beberapa jam kemudian suara gedoran dari pintu kamar Lintang mulai terdengar.

Lintang merengek dan memohon untuk keluar dari kamar, tak luput dengan janji-janji kosong yang mengatakan akan berhenti dari lingkaran setan ini.

Adam langsung mencari informasi terkait proses untuk rehabilitasi Lintang, berkonsultasi dengan psikolog, serta melakukan survey ke beberapa rumah sakit jiwa untuk memastikan program rehabilitasi mereka.

Ia juga sibuk berkonsultasi dengan LBH untuk menangani kasus pinjaman online Lintang yang menjamur, sampai menciptakan teror-teror ke segala pihak akibat data pribadinya yang bocor, agar dirinya juga tidak terseret ke dalam teror yang sampai menghubunginya ke kantor. Ditambah lagi bunga denda yang tidak masuk akal, yang berkali-kali lipat dari pinjaman yang diajukan.

Kepala Adam kini serasa ingin meledak. Sepertinya ia juga perlu ke psikolog karena nyaris gila dengan semua masalah yang ada.

Adam berusaha memejamkan matanya untuk beristirahat. Besok pagi ia sudah harus pulang lantaran sudah harus masuk kerja. Cutinya tidak disetujui, hingga Adam hanya izin absen setengah hari.

Pekerjaan di kantor memang sedang padat, terlebih sejak kabar akusisi oleh perusahaan dari luar, membuat para karyawan nyaris lembur setiap malam.

Saat matanya baru terpejam beberapa menit, suara denting beruntun muncul dari ponselnya, pertanda ada beberapa pesan yang masuk berturut-turut

Mata Adam kembali terbuka, untuk memeriksa pesan yang masuk. Entah dari Arin atau pun dari bosnya yang mengatakan untuk tetap stand by di minggu ini.

Arin

Arin

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
FriendhomeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang