Part 54

8.8K 921 102
                                        

Pukul dua siang, musik hipdut milik Tenxi mulai berputar dari laptop milik Bayu, yang terdengar oleh karyawan lain yang mejanya berdekatan dengan lelaki itu.

Adam sudah tidak heran, di jam-jam mengantuk begini, suara Naykilla dan Tenxi cukup membantu untuk membuat mata mereka tetap terbuka, karena musiknya yang membuat tubuh sesekali ikut bergoyang hingga membangkitkan semangat untuk menyelesaikan pekerjaan yang sudah dikejar deadline.

"Lagu Nadin Amizah aja dong, Bay. Atau Backburner Nikki deh." Olivia terdengar memprotes playlist milik Bayu.

"Duh, nggak mau! Bikin ngantuk. Siang-siang gini suara Nadin yang Bun Bun itu malah kedengaran jadi Nina Bobo," tolak Bayu.

"Lagu Nadin 'kan banyak, bukan bertaut doang," balas Olivia tidak terima.

"Sebanyak itu juga Nadin Amizah gak bakal nyanyi koplo."

"Yaa karena bukan genrenya Nadin lah!"

"Ininih pentingnya nyari jodoh tuh harus seiman, sefrekuensi, dan seplay-list. Biar nggak ribut kayak lo berdua." Sofi yang mendengar pertengkaran dua teman kantornya, langsung menengahi.

Adam yang mendengar ucapan Sofi tertawa pelan.

"Lagi, siapa juga yang mau jodoh sama Bayu. Norak, alay, jamet, iyuhh."

"Hey, jaga ucapanmu Olivia. Kalo tiba-tiba malaikat lewat dan dicatat, gue juga nggak sanggup seumur hidup harus galau karena jadi pasien Nikki dan Nadin lo itu."

Dering pendek dari telepon di meja Adam, membuat celotehan teman-teman kantornya itu berhenti sejenak.

"Dam, ke ruangan saya, ya." Suara Sabda terdengar dari sambungan teleponnya.

"Oke, Mas."

Adam yang langsung berdiri dari kursinya, lantas menarik perhatian teman-teman satu divisinya itu.

"Lo jadi ke China ya, Dam?" tanya Sofi.

Kabar tentang application-nya ke China itu sudah menyebar di beberapa divisi, berkat Pandu yang sibuk menyuruh seluruh tim di divisi mereka, untuk bisa menghandle pekerjaan Adam.

"Belum tahu, Sof. Belum ada info lagi."

"Itu lo dipanggil, kayaknya mau ngasih info terbaru kali, Dam." Bisma ikut menimpali.

Adam mengangkat bahunya. "Nggak tau deh."

Adam pun beranjak dari posisinya untuk berjalan ke ruangan Sabda.

Wajah Sabda yang tampak serius langsung menyambutnya, saat memasuki ruangan sang bos yang menjadi wajah untuk kantornya ini.

Setelah beberapa detik Adam duduk di hadapan Sabda, suara Sabda pun akhirnya terdengar.

"Kamu lagi ada masalah finansial, Dam?"

Jantung Adam terasa berhenti beberapa detik, saat mendengar pertanyaan Sabda yang di luar ekspektasinya.

Bagaimana mungkin bosnya itu bisa tahu?

"Tadi saya lewat resepsionis, terus denger Gisel lagi dibentak-bentak di telepon, katanya udah beberapa kali ada debtcollector yang telepon ke kantor nyari kamu." Sabda langsung menjelaskan, saat melihat wajah Adam yang tampak terkejut.

"Maaf, Mas. Saya belum diinfoin sama Gisel."

"Berarti bener, kamu lagi ada masalah pinjol?"

Adam masih agak kebingungan, karena tidak paham, kenapa bisa debtcollector sampai menelpon ke kantornya padahal bukan dia yang berhutang? Apakah bosnya akan percaya?

FriendhomeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang