Part 44

85.5K 6K 1K
                                        

Suasana mall menjelang jam makan siang tampak ramai dikunjungin oleh para karyawan yang ada di gedung sekitar. Tanggal akhir bulan begini, membuat banyak karyawan yang merasa harus melakukan self reward, baik dengan makan fancy atau pun berburu branded stuff.

Arin melihat punggung Adam yang kini tengah menghadap pada buku menu yang ada di depan restoran, bersama dua orang lainnya yang Arin perkirakan adalah Tania dan bos dudanya Adam.

Arin melangkah dengan semangat, membayangkan akan makan siang bersama Adam. Hingga di detik berikutnya ia terkekeh sendiri, padahal ia juga bertemu Adam setiap hari di rumah, tapi rasanya masih seantusias ini untuk menghabiskan waktu bersama Adam.

"Dam!" panggil Arin, setelah sampai di dekat Adam.

Adam menoleh, diikuti dengan Tania dan Pandu.

"Loh, kamu udah sampe? Tadi katanya masih di jalan?"

"Jalan dari parkiran masuk ke mall, maksudnya."

"Hey, Rin!" Tania yang melihat sosok Arin langsung menyapa.

"Hai, Tan. Apa kabarr?" Arin langsung memeluk Tania, khas dua wanita yang sudah lama tidak bertemu.

"Baik ... sahabatan kalian udah aku - kamu nih, sekarang?" Tania melirik Adam dan Arin bergantian dengan tatapan menyelidik.

"Udah upgrade jadi pacar dong, biar bisa sayang-sayangan. Iya 'kan, Sayang?"

Arin menggandeng lengan Adam seraya menunjukkannya pada Tania.

"Wow, congrats! I'm happy for you two!" Tania berseru antusias, sebagai salah satu pengikut kisah persahabatan mereka melalui media sosial Arin.

Arin melirik ke arah Pandu, lalu berbisik pelan pada Tania. "Kalo itu siapa, Tan?"

"Bosnya Adam."

"Siapanya lo, maksudnya."

Tania tertawa pelan. "Partner bisnis, dia yang nyariin gue investor biar lo bisa nongkrong terus di Sky Life."

Lalu Arin turut tersenyum sopan pada Pandu, yang dibalas tak kalah ramah oleh lelaki itu.

"Oh iya, Mas. Ini Arin." Adam buru-buru memperkenalkan Arin secara resmi, meski mereka sudah pernah bertemu saat sarapan di dekat kantor Adam kala itu. "Rin, ini Mas Pandu."

Mereka berdua bersalaman dan saling menyebutkan nama masing-masing.

"Ini kita masuk waiting list, Rin. Resto lain juga pada penuh, ini yang waiting listnya paling sedikit." Tania menjelaskan alasan mereka masih berdiri di luar, alih-alih sudah menempati meja yang ada di dalam restoran.

Arin mengangguk pelan.

"Iya sih, tadi juga sepanjang gue lewat emang penuh. Padahal masih jam setengah 12 yaa."

Tak lama, seorang karyawan yang mengatur waiting list pun memanggil nama Tania. Namun, karyawan tersebut justru memberikan opsi bahwa meja yang sudah tersedia harus terpisah untuk masing-masing dua orang. Tak ingin menunggu lama, mereka pun menyetujuinya.

"Bagus nggak sih kita pisah meja sama mereka. Jadi kita bisa fokus pacaran, Dam!"

Arin langsung mengoceh saat duduk di kursi yang jaraknya lumayan jauh dari meja Tania dan Pandu.

"Iya sih, aku juga canggung deket-deket mereka. Kayaknya mereka emang lagi deket sih, Rin."

"Hah? Gimana-gimana? Coba kamu jelasin, kenapa bisa ngambil kesimpulan kayak gitu."

Arin selalu menyukai insting Adam. Katanya, Adam itu tidak suka membicarakan orang. Namun, setiap kali Arin membahas sesuatu, Adam selalu nyambung dan meresponnya dengan tak kalah informatif.

FriendhomeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang