Part 14

105K 9.2K 522
                                        

Arin terdiam di depan pintu rumah. Sudah lima menit ia berdiri di sana, dengan tangan yang berkali-kali memegang gagang pintu, lalu mengurungkan niatnya kembali untuk mendorong benda tersebut.

Motor Adam sudah terparkir di halaman rumah, pertanda lelaki itu sudah ada di dalam. Tadi pagi, Arin tak bertemu dengan Adam saat bangun tidur. Ia tidak tahu Adam pergi ke mana, yang jelas motornya sudah tidak ada di tempatnya.

Sialan! Bayangan kejadian yang samar-samar berputar di kepalanya membuat wanita itu malu sendiri saat mengingatnya. Arin kini kesulitan untuk memastikan kejadian tersebut mimpi atau benar-benar terjadi semalam.

Jika mimpi, keterlaluan sekali alam bawah sadarnya, sampai bisa memimpikan berciuman dengan Adam. Jika nyata, Arin ingin mengubur dirinya hidup-hidup, karena tak sanggup untuk menghadapi sahabatnya itu.

Oke, ini konyol. Arin tidak mungkin berdiam diri di depan pintu sampai pagi, ia juga harus memastikannya dengan Adam agar hidupnya bisa berlanjut dengan tenang. Setelah mengatur napasnya beberapa kali, akhirnya tangan Arin kembali meraih gagang pintu. Perlahan, pintu tersebut mulai terdorong hingga terbuka sepenuhnya.

Arin berjalan memasuki rumah. Matanya menangkap sosok Adam yang duduk di sofa sambil memangku laptop, dari posisinya saat ini Adam tampak membelakanginya.

Menyadari kedatangan Arin, Adam menoleh. "Udah makan belom, Rin?"

"Hah?" Arin yang tidak fokus, kini terlihat bingung dengan pertanyaan Adam yang membuyarkan pikirannya. Ia menghentikan langkahnya sejenak, sebelum memasuki kamar.

Adam mendapati ekspresi Arin yang seperti orang linglung. Matanya tampak tidak fokus, bahkan saat mereka bertemu pandang, Arin seolah mengalihkan pandangannya ke segala arah dengan tangan yang sesekali merapikan rambutnya.

"Lo udah makan, belum?" tanya Adam lagi, mengulang pertanyaannya.

"Oh ... udah sih, tadi makan dulu sama Bian." Arin berusaha bersikap normal. Kejadian semalam itu belum pasti, ia bahkan tidak terlalu mempercayai ingatannya yang samar-samar itu karena setengah sadar. "Tadi pagi, lo ke mana, Dam? Gue mau berangkat kerja, kok udah gak ada?"

"Ke tempat Nesya, sekalian nganter kerja." Adam memilih untuk tidak menceritakan kejadian tadi pagi pada Arin, karena enggan membuat wanita itu kembali mendebatkan sikap Nesya. "Gue masak ayam yang lo beli kemaren, kalo lo mau makan lagi."

Arin mengangguk. "Maleman gue makan deh, kalo laper lagi." Ia pun melanjutkan langkahnya, bergerak untuk membuka pintu kamar. Namun, bayangan itu terus mengganggu pikirannya.

Tak ingin perasaan tak nyaman ini terus berlarut, Arin membalikkan lagi tubuhnya untuk bertanya pada Adam.

"Dam," panggilnya.

Adam yang tengah memfokuskan pandangan pada laptopnya lagi, menoleh saat mendengar panggilan tersebut. "Ya?"

Arin meremat tangannya sendiri, tampak kebingungan untuk menanyakan hal ini.

"Itu ... semalem, pas mabok, gue gak ngelakuin yang aneh-aneh, kan?" tanya Arin hati-hati.

Adam terdiam untuk beberapa saat. Kepalanya kembali mengingat kejadian semalam yang membuat paginya berusaha menghindari Arin, dengan buru-buru pergi sebelum wanita itu bangun. Dilihatnya wajah Arin yang juga tampak tidak nyaman, entah Arin mengingatnya atau tidak, tapi dengan sikapnya yang berusaha mempertanyakan hal tersebut pada Adam, terbukti bahwa Arin tidak begitu yakin dengan apa yang diingatnya.

"Gak aneh sih, cuma nyusahin karena gue harus gendong-gendong lo yang gak sadar sama sekali."

Arin mengembuskan napas lega, mendengar jawaban Adam yang membuatnya merasa tenang. Ia buru-buru tertawa pelan, merespon ucapan Adam barusan. "Gak tiap hari kok, Dam!"

FriendhomeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang