Part 58

11.2K 1.1K 191
                                        

Hey, everyone!!

Today is my birthday, yeayy...

Aku buat voucher diskon karya karsa dalam rangka merayakan ulang tahunku. Buat kalian yg punya wishlist beberapa part cerita / ebook novelku di karya karsa, boleh langsung pake ajaa~

Kode Voucher : MYBIRTHDAY28

- potongan sebesar Rp. 28.000
- hanya berlaku untuk full ebook Titik Nadir, Win-Win Solution, dan Zeigarnik Effect

Kode voucher : BIRTHDAY28TODAY

- potongan sebesar Rp. 2.800
- berlaku untuk semua part berbayar yg ada di karya karsa (bisa digunakan berkali kali)

Mungkin kalo kalian ada yg belum baca additional part Friendhome, bisa dipakee jugaa

Yaudah, yuk lanjut baca Friendhome

***

Adam menutup pintu kamarnya, lalu berusaha menghirup napas sebanyak-banyaknya, setelah beberapa detik yang lalu ia nyaris lupa caranya bernapas saat mengucapkan kalimat paling berengsek yang pernah ia ucapkan.

Dada Adam terasa semakin sesak. Keputusan ini juga bukan pilihan yang mudah untuknya, tapi Adam tak menemukan pilihan lain di tengah segala kesulitan yang terus menekannya.

Adam tidak menampik betapa hari-hari yang ia lewati bersama Arin terasa menyenangkan. Bahkan sejak awal mereka saling kenal, hingga Arin menjadi satu-satunya sosok yang paling dekat dengan Adam, meski hanya sebatas sahabat.

Adam pikir, perubahan status ini bisa lebih mudah ia jalani, mengingat mereka sudah lama saling akrab dan mengenal satu sama lain. Namun, semakin ia menjalani hubungan ini, setiap harinya justru terasa semakin serba salah.

Tangis yang sejak tadi ditahannya, meluruh bersamaan dengan tubuhnya yang merosot di belakang pintu kamarnya.

Adam benar-benar lelah. Ia membenci perasaan ini. Ia membenci dirinya sendiri yang terus-terusan menyalahkan Arin hanya karena ketidakmampuan finansialnya. Rasa marah yang terus bersarang di benaknya, kian menggerogoti Adam hingga membuatnya terpuruk dalam kecemasan tak berujung.

Hal tersebut membuat Arin tidak bisa lagi menjadi tempat untuknya menumpahkan segala keluh kesahnya, di saat Arin sendiri menjadi salah satu masalahnya.

Angan yang selama ini mulai berani ia impikan bersama Arin, perlahan meluruh bersama isakannya yang terlepas semalaman.

Suara tangis Arin dari lantai bawah pun turut terdengar, membuat dada Adam semakin sesak karena harus menyakiti sosok yang amat dicintainya.

***

Kepala Adam masih berdenyut pelan, saat pagi hari terbangun dengan keadaan mata yang terasa sembap.

Seperti hari-hari sebelumnya, pukul delapan pagi Adam sudah rapi menggunakan pakaian kerjanya. Berbanding tebalik dengan hatinya yang berantakan.

Adam kembali menggeret koper yang bahkan belum dibukanya sama sekali, sejak ia sampai ke Jakarta.

Hari ini, ia memutuskan untuk keluar dari rumah ini seiring dengan kandas hubungannya dengan Arin.

Adam belum mencari tempat tinggal baru, mungkin ia akan mencarinya saat tiba di kantor. Yang jelas, ia tidak mungkin bisa pulang ke rumah ini lagi, setelah menghancurkan hubungan antara dirinya dan Arin.

Atmosfer saat Adam melangkahkan kaki di lantai bawah terasa masih menyesakkan.

Tempat yang menyimpan banyak aktivitas yang kerap kali ia lakukan bersama Arin, justru semalam menjadi tempat mereka bertengkar hebat hingga tercetus kalimat perpisahan.

FriendhomeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang