Part 53

8.5K 862 97
                                        

Btw, kalian yg baru pertama kali baca cerita aku, boleh mampir ke ceritaku yg lain yuk..

Udah ada beberapa yg tamat, bisa dibaca sambil nunggu Friendhome update 🥰

Jangan lupa komen yaa, biar aku makin semangatt updatenya

***

"It's pay day! Makan enak apa kita hari ini?" Arin berseru dengan semangat di pagi hari.

Wanita itu keluar dari kamarnya sambil membawa handuk untuk bergegas ke kamar mandi, dengan mata yang masih menyipit, rambut berantakan, dan sesekali menggeliat sambil menguap, tapi wajahnya tampak memancarkan cahaya kebahagiaan di hari gajian.

Adam yang baru selesai sarapan tertawa pelan, melihat semangat Arin saat bangun tidur yang hanya muncul di hari gajian.

Meski di hari-hari lainnya saldo rekening Arin pun tidak pernah terkuras habis walau pun sering dihamburkan untuk hal-hal yang tidak terlalu penting, tapi Arin tetap senang saat saldo di rekeningnya bertambah dari hasil jerih payahnya selama sebulan bekerja.

"Makan enak atau makan fancy?" sahut Adam, sudah hafal dengan kebiasaan Arin yang merasa wajib makan mahal di hari gajian, seolah makanan Arin di hari lainnya belum cukup mahal.

Arin masuk ke dalam kamar mandi, lalu menutup pintunya. Dari dalam kamar mandi, ia tetap menyahut sambil berteriak, "Aku udah reservasi buat kita dinner malam ini, Dam! Kita belum pernah dinner cantik tau, sejak pacaran!"

"Oh, iya? Perasaan kita sering makan di luar."

"Beda ih! Aku pengin ngedate yang proper. Aku tau kamu nggak bakal kepikiran yang gini-ginian, jadi gapapa, biar aku aja yang mewujudkan keinginan aku sendiri. Kamu tinggal ikut."

Adam dapat mendengar suara gemericik air dari shower yang terbuka, pertanda Arin sudah mulai mandi sambil terus mengobrol dengannya yang ada di ruang tengah.

"Iya, atur aja, Sayang. Kamu 'kan panitianya."

Ternyata, berpacaran dengan sahabatnya memang menyenangkan. Mereka sudah lama saling kenal, jadi tidak perlu melewati fase saling melempar kode untuk mewujudkan kesenangan satu sama lain.

Adam kembali naik ke kamarnya, untuk mengambil ponsel, tas, dan beberapa keperluannya untuk berangkat ke kantor.

Belakangan ini, jam kerja di kantornya berubah menjadi lebih pagi, lantaran menyesuaikan jam kerja kantor pusat barunya yang ada di luar negeri.

"Rin, aku berangkat duluan yaa." Adam setengah berteriak, saat melewati kamar mandi dan melihat pintunya masih terkunci, pertanda Arin masih ada di dalamnya. "Jangan lupa sarapannya dibawa, tadi aku beli lontong sayur."

"Iya. Thank you, Sayang!"

"AC di kamar kamu jangan lupa dimatiin. Listrik mahal!" seru Adam lagi, yang sering mendapati Arin lupa mematikan AC di kamarnya, sehingga token listrik di rumah jadi lebih cepat habis.

"Iya-iyaaa."

Adam berjalan keluar rumah, untuk menghampiri motornya yang ia parkir di halaman.

Sebelum mengendarai motornya, Adam mengecek pesan masuk dari ponselnya. Ia mendapati beberapa notifikasi yang terlewatkan.

3 panggilan tak terjawab

5 pesan baru

Notifikasi tersebut muncul paling pertama di layar ponselnya, dengan nama pengirim yang membuat pagi yang cerah ini menjadi muram.

Lelaki itu membuka ponselnya dengan berat hati. Nama kontak Ibu sudah muncul paling depan, dengan isi pesan yang sudah dapat ditebaknya.

Ibu : Adam, kok belum transfer?

FriendhomeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang