Aku udah serajin update ini, masa kalian ga komen? So fun kah begituu??
Komen kalian tuh moodbooster aku bgt, ayoo pls tunjukan keberadaan kalian
***
Adam memijat pelipisnya untuk kesekian kali, saat mendapati kabar terbaru dari ibunya yang sukses membuat kaki Adam lemas.
Kepalanya semakin berdenyut, saat mendengar suara tangisan ibu di ujung sana, yang menceritakan sebuah kejadian yang sukses menghantam kewarasan Adam detik itu juga.
Lintang terjerat kasus judi online dan meninggalkan setumpuk hutang yang jumlahnya luar biasa.
Napas Adam seketika sesak, dadanya terasa dihantam alat berat, saat mendengar nominal yang ibu sebutkan, serta sederet masalah yang ditimbulkan Lintang akibat kecanduan judi online.
"Bisa sampai tiga ratus juta itu ... Lintang hutang ke mana aja, Bu?"
Adam masih berusaha untuk mendengarkan cerita lengkap dari ibunya, perihal kronologis masalah yang disebabkan Lintang. Meski dalam hati ia sudah merapalkan sumpah serapah untuk Lintang, yang ingin sekali dihajarnya jika jarak mereka dekat.
"Dari mana-mana, Dam. Ke temen-temen kampusnya, temen sekolahnya, pinjaman online, dan masih banyak lagi. Ibu selama ini udah berusaha nggak mau nyusahin Adam, Ibu dan Naya berusaha buat selesain masalah ini dan ngajuin pinjaman ke bank buat bayar hutang-hutang Lintang—"
"Ibu ngajuin kredit ke bank juga? Pake sertifikat rumah?" tanya Adam memastikan, lantaran untuk syarat pinjam uang ke bank dengan kriteria seperti ibunya sudah pasti harus ada yang menjadi jaminan.
Semakin dalam informasi yang diceritakan ibunya, justru malah semakin membuat Adam ingin pingsan.
Masalah keluarganya benar-benar gila. Semua orang di keluarganya benar-benar tidak waras. Bagaimana bisa, mereka hidup hanya untuk membuat masalah, lalu menyeret Adam untuk menyelesaikan segala macam masalah yang mereka perbuat?
Di ujung sana, ibunya terdengar menangis, sambil terus meminta maaf dan memohon agar Adam bisa membantu masalah ini yang sudah merembet ke segala macam hal.
Uang pinjaman yang diajukan ibu sudah habis untuk melunasi hutang-hutang Lintang sebelumnya, tapi ternyata diam-diam anak itu masih terus bermain judi online, yang justru menimbulkan hutang baru entah dari mana lagi.
Hampir setiap hari, rumahnya didatangi para penagih hutang yang memberikan sederet ancaman jika hutangnya tak kunjung dibayar.
"Adam bisa tolong kirim uang dulu buat bayar beberapa hutangnya Lintang? Ibu takut, setiap hari ada aja orang yang dateng dan mau gebukin adek kamu."
Adam menarik napasnya dalam-dalam. Ia tidak tau lagi harus bereaksi seperti apa. Ia bahkan tidak tahu, apa yang harus dilakukannya untuk menyelesaikan masalah yang terlalu gila ini.
"Lintang mana, Bu? Adam mau ngomong."
"Ibu suruh Lintang ngungsi ke rumah Makwo Ning buat sementara, karena takut dia digebukin kalo ketemu sama penagih hutangnya."
Adam mendesah frustrasi, saat mendengar ucapan ibu yang masih lebih tetap mengkhawatirkan kondisi Lintang yang menyebabkan semua kekacauan ini.
"Lintang emang layak buat digebukin, Bu. Kalo Adam di sana, Adam juga nggak mungkin diem aja ... anak yang selalu ibu khawatirin itu, nggak tahu diri!"
Tenggorokannya mulai terasa sakit, menahan gejolak amarah yang mati-matian ditahannya, untuk tidak memaki Lintang lebih dalam lagi lantaran percuma, bahkan anak itu tidak bisa mendengarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Friendhome
RomanceArin gak suka tinggal di apartemen, gara-gara kartu aksesnya sering hilang dan harus bayar denda setiap kali membuat laporan untuk pergantian kartu. Arin juga gak suka tinggal di kos-kosan. Sempit dan sumpek. Sebesar-besarnya kamar kos, tetap aja c...
