Part ini kayaknya bakal full menguras energi dan emosi guys. Aku tau masalah Adam ini melelahkan, tapi ini fase hidup yang harus dilewatin Adam.
Buat Adam Adam lain yang lagi berjuang di luar sana, semangat yaa.
***
"Dam! Kebetulan kamu dateng, anter aku ke Bandara yuk!"
Adam dikejutkan oleh sosok Arin yang ia jumpai saat baru membuka pintu, saat baru pulang dari kantor.
Dilihatnya Arin sudah siap dengan koper yang ada di sebelahnya, serta topi pantai yang ia sangkutkan di gagang koper.
"Kamu mau ke mana?" tanya Adam bingung. Ia sama sekali tidak tahu, agenda yang akan Arin lakukan saat ini.
"Ke Singapore, kan aku udah bilang waktu itu mau cruising ... yang tiket gratis dari Dindra." Arin berusaha mengingat kebohongannya waktu itu, yang sempat mengatakan perjalanan ini hasil pemberian teman kakaknya Dindra.
"Oh ... jadi?"
"Jadi dong, sayang banget kamu nggak bisa. Tapi gapapa, aku berangkat sendiri aja sekarang. Next time kita atur buat liburan berdua."
Adam tidak menyahut lagi. Ia masih tidak tahu harus berbicara apa, karena sepemahamannya, saat mengatakan tidak bisa ikut, itu yang dimaksud adalah mereka berdua. Arin juga sama sekali tidak membahas setelahnya, bahwa ia tetap pergi.
Namun, ingin mengatakan sekarang pun, Arin sudah siap berangkat.
Arin kembali ke kamarnya, untuk mengambil kunci mobil. Tak lama kemudian, ia sudah muncul lagi sambil membawa kunci mobilnya.
"Ayo, Dam! Ini kuncinya," kata Arin, seraya menyerahkan kunci mobilnya ke Adam.
Adam mengangguk pelan, lalu berjalan keluar mengikuti Arin, untuk mengantar wanita itu ke bandara.
"Emang pergi sama siapa aja, Rin?" tanya Adam, setelah mereka memasuki mobil.
"Dindra sama pacarnya, terus katanya ada temen Dindra yang lain juga, yang gantiin sisa tiket yang waktu itu aku tawarin."
"Oh ... Have fun ya."
Adam tidak berbicara lagi, ia memilih fokus pada kemudi dan macetnya jalan di jam pulang kerja.
Mungkin, ada baiknya juga Arin pergi liburan, sebab Adam juga akan pulang kampung untuk mengurus masalah keluarganya.
Semalam, ia sempat mengobrol dengan Lintang, tapi ucapan adiknya itu terlalu berputar-putar sampai Adam tidak paham dengan ucapannya.
Adam juga sempat menghubungi layanan psikolog online yang pernah menangani kasus judi online. Katanya, kasus Lintang tidak bisa dibiarkan begitu saja, ada kemungkinan Lintang sudah kecanduan judi online, sehingga membutuhkan dukungan dari keluarga dalam proses pemulihannya. Jika dibiarkan, justru berpotensi untuk menimbulkan masalah baru.
***
Dari balik jendela taksi yang ditumpangi Adam, hamparan sungai yang membentang melintasi dua provinsi di Sumatera menjadi pemandangan yang kembali disaksikannya.
Rumah-rumah penduduk dan bangunan berupa pusat perbelanjaan, berpadu dengan pepohonan rindang turut mewarnai di sepanjang jalan. Kota ini tampak semakin padat, dari kali terakhir Adam pulang sekitar dua tahun lalu.
Biasanya, Adam akan pulang ke rumah saat menjelang hari raya, dengan perasaan suka cita akan bertemu keluarga dan merayakan hari kemenangan dengan riang gembira. Meski seminggu kemudian ia akan dipusingkan oleh biaya pengeluaran selama satu minggu di kampung halaman yang jumlahnya bisa mencapai dua bulan gaji.
KAMU SEDANG MEMBACA
Friendhome
RomanceArin gak suka tinggal di apartemen, gara-gara kartu aksesnya sering hilang dan harus bayar denda setiap kali membuat laporan untuk pergantian kartu. Arin juga gak suka tinggal di kos-kosan. Sempit dan sumpek. Sebesar-besarnya kamar kos, tetap aja c...
