Suara musik dari marching band memenuhi setiap sudut ballroom hotel yang digunakan untuk resepsi pernikahan kakaknya Arin. Lantunan mars-mars militer terdengar gagah dan membakar semangat, seiring dengan akan dimulainya upacara pedang pora dalam pernikahan salah seorang perwira dari TNI AD.
Area ballroom hotel ini disulap menjadi tempat upacara militer dadakan, dengan nuansa dekorasi pernikahan yang mewah, diiringi barisan pasukan TNI Angkatan Darat yang berbaris dengan seragam lengkapnya dan membentangkan pedang pora ke atas, demi membentuk lorong yang perlahan dilewati oleh sepasang pengantin.
Arin menyaksikan serangkaian upacara pernikahan yang sakral ini dari salah satu sudut ruangan. Melihat sang kakak berjalan dengan gagahnya sambil menggandeng pengantinnya, membuat Arin nyaris menangis haru.
"Dari sekian banyak percobaan 'Halo, Dek' yang dilakuin Kak Ilham, ternyata jadinya malah sama temen SMP-nya yaa." Arin berkomentar, saat mengenali wajah sang mempelai wanita, yang dulu sering dilihatnya mengerjakan tugas kelompok bersama kakaknya.
Adam berdecak pelan, mendengar Arin meledek kakaknya.
"Emang bener ya, mereka suka halo halo dek gitu kalo di sosmed?" tanya Adam yang juga ikut penasaran. Pasalnya, selama ini Adam menganggap hal tersebut hanya jokes di medsos semata.
"Beneran, Dam! Temen-temen Kak Ilham tuh dulu banyak yang suka dm-dm aku. Ih aku nggak mau lah sama mereka, not my type deh."
"Emang tipe kamu tuh kayak gimana, Sayang? Perasaan kamu tiap pacaran juga tipenya beda-beda."
Arin tersenyum pelan, lalu menyahut santai. "Yang kayak kamu lah!"
Adam menatap Arin tak percaya. "Karena sekarang kamu pacaran sama aku aja 'kan, makanya bilang gitu?"
"Nggak, Sayang! Aku serius, tau! Cuma selama ini nggak bilang-bilang aja."
"Kok bisa? Maksud aku ... mantan-mantan kamu nggak ada yang mirip aku, ya!"
"Yaa emang. Aku tuh selalu berusaha nyari yang lebih atau minimal setara sama kamu, tapi ya nggak nemu. Jadi yaudah deh, yang penting ganteng dan asik aja."
Adam speechless mendengar ucapan Arin. Ia berusaha menahan senyumnya, agar tidak kelihatan salah tingkah. Hingga akhirnya Adam buru-buru menyanggahnya karena menganggap Arin agak berlebihan.
"Bukannya beberapa mantan kamu malah lebih dari aku, ya? Arsal aja anak konglomerat."
"Bukan finansialnya, Dam. Tapi sifatnya." Arin kembali menanggapi. "Soalnya uang aku udah banyak!"
Adam terkekeh pelan mendengar ucapan Arin, ditambah lagi ekspresi wajahnya yang tampak menggemaskan dan luar biasa cantik hari ini.
Adam tidak bohong. Kecantikan Arin tampak semakin nyata, saat menggunakan balutan kebaya berwarna coklat susu yang menampilkan separuh area bahunya. Rambutnya yang juga dibentuk seperti sanggul, membuat Arin terlihat anggun sekaligus seksi.
Rangkaian acara pernikahan ini terus berlanjut, hingga sesi foto-foto keluarga sempat membuat riuh, lantaran terlalu banyaknya keluarga besar yang menghadiri acara ini.
Kloter demi kloter dipanggil ke atas pelaminan untuk melakukan sesi foto bersama, sebelum tamu undangan umum mulai berdatangan dan akan ramai.
Adam sempat ragu untuk ikut foto bersama keluarga inti Arin beserta para istri dari kakak-kakaknya, hingga papanya Arin justru menariknya untuk ikut foto bersama.
"Arin bilang, kalian mau nikah 'kan. Berarti bentar lagi kita jadi keluarga, Dam. Nyicil foto keluarga aja dulu," kata lelaki paruh baya bernama Prabu, sosok bank pusat yang kemarin dikatakan Arin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Friendhome
RomanceArin gak suka tinggal di apartemen, gara-gara kartu aksesnya sering hilang dan harus bayar denda setiap kali membuat laporan untuk pergantian kartu. Arin juga gak suka tinggal di kos-kosan. Sempit dan sumpek. Sebesar-besarnya kamar kos, tetap aja c...
