Part 51

31.8K 3.2K 344
                                        

Tumpukan berbagai produk tampak saling berhimpitan di dalam troli yang Adam dorong di sepanjang lorong supermarket.

Arin berjalan di sampingnya, dengan sebelah tangannya yang mengapit lengan Adam. Sebelah tangannya yang lain tampak mengarahkan Adam untuk membawanya menjelajahi supermarket demi memenuhi kebutuhan bulanan mereka.

"I'm super shy, super shy. But wait a minute while I make you mine, make you mine."

Arin turut menyanyikan sepenggal lirik dari lagu Super Shy milik New Jeans yang tengah berputar di super market, menemani para pengunjung dalam memilih berbagai keperluan sehari-harinya.

Sesekali Arin hanya bersenandung, saat tidak menghafal lirik lainnya. Langkahnya kini terhenti di depan rak deterjen.

Arin mengambil dua buah produk dengan ukuran berbeda, untuk melihat berat bersih dari produk tersebut dan membandingkan harganya.

"Beli yang ini aja." Adam menunjuk ukuran produk yang lebih kecil.

"Tapi yang ini lebih murah, Dam! Ini beratnya dua kali lipat, tapi harganya cuma beda dikit lho."

"Tapi baju kotor aku juga nggak terlalu banyak, Rin. Kalo pilih yang terlalu besar, malah berisiko tumpah karena lama habisnya."

"Kan kita pake berdua."

"Kamu 'kan jarang nyuci."

Arin nyengir pelan, saat teringat revolusinya untuk mencuci pakaian sendiri ternyata tidak tercapai. Beberapa kali Arin memang sudah sempat mencuci pakaiannya sendiri demi mencoba mesin cuci barunya, tapi lama-lama ia kerepotan karena masih harus menjemur dan menyetrika pakaiannya.

"Kayaknya aku harus beli dryer machine kayak di laundry gitu deh, soalnya aku suka males jemur bajunya."

"Listriknya mahal, Sayang."

"Apa kita udah perlu pake ART, ya?"

Adam berdecak pelan, lalu memilih untuk tetap mengambil produk deterjen dengan ukuran yang lebih kecil, lalu memasukannya ke dalam troli.

"Keranjang cucian kamu dikeluarin aja, nanti biar aku cuci sekalian," kata Adam, yang sedang tak ingin pusing memikirkan drama percucian Arin yang tak kunjung kelar.

"Ih, maksud aku nggak gitu, Dam! Masa baju kotor aku, kamu yang cuci sih. Nggak-nggak, aku balik laundry aja kalo gitu."

"Tapi mesin cucinya 'kan punya kamu, anggap aja buat ganti biaya mesin cuci kamu."

Arin seketika melepaskan pegangan tangannya dari Adam, lalu menatap Adam tidak terima.

"Dam, kamu kenapa, sih?" Arin yang mulai tidak nyaman dengan pembahasan Adam, bertanya kesal.

Adam hanya melontarkan fakta yang ada, yang mungkin seharusnya tidak perlu ia katakan.

Namun, sejak awal Adam paham, perkara tiba-tiba di rumah muncul mesin cuci yang dibeli Arin, bukan kah tujuannya memang untuk kebutuhan Adam? Arin mengaku, ia juga membutuhkannya, tapi sejak mesin cuci itu datang Adam hanya melihat Arin menggunakannya tidak lebih dari tiga kali.

"Sori, aku kayaknya lagi pusing aja sama kerjaan." Adam menghembuskan napasnya yang terasa berat, beban yang kian bertumpuk di kepalanya benar-benar membuat perasaannya jadi sensitif.

"Kamu ada masalah di kantor?"

Adam menggeleng pelan. "Nggak ada, cuma lagi banyak kerjaan aja."

Arin baru menyadari wajah Adam yang sejak tadi suntuk dan hembusan napasnya yang terdengar berat. Tatapan matanya juga terlihat sayu dan kelelahan.

FriendhomeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang