Part 57

10K 1.1K 249
                                        

Motor Adam masih terparkir di tempat yang sama, sejak Arin meninggalkannya berangkat kerja tadi pagi.

Sebelum masuk ke dalam rumah, kepala Arin mendongak, untuk mengecek lampu di kamar Adam apakah menyala atau tidak.

Pencahayaan di ruangan tersebut masih redup, dengan gorden yang menutupi jendela.

Adam masih belum pulang juga, dengan tidak mengabarinya sama sekali.

Arin tiba di Jakarta tadi pagi, yang hanya mampir ke rumah untuk menaruh koper dan mengganti pakaian kerjanya. Saat itu lah, ia mendapati Adam yang tidak ada di rumah, sesuai dengan dugaannya.

Nomor Adam aktif, tapi panggilan dan pesannya tidak ada yang dijawab sama sekali seharian ini.

Bukan hanya seharian ini, tepatnya dari semalam.

Arin bahkan tidak paham, apakah Adam sedang marah dengan sikapnya kemarin, atau justru tengah menghindar.

Sekali lagi, Arin mencoba untuk menghubungi nomor Adam. Dan hasilnya tak jauh berbeda dari sebelumnya.

Arin melangkah memasuki rumah sambil mendesah keras.

***

Adam sudah kembali ke Jakarta.

Selepas mendarat di Bandara Soekarno Hatta, Adam langsung menuju ke kantornya demi mengejar setumpuk pekerjaan yang sudah menantinya.

Pukul sembilan malam, Adam baru berada di taksi untuk pulang ke rumah. Kepalanya masih berdenyut pelan, karena kurang tidur dan dipaksa untuk tetap bekerja. Di tambah lagi, Pandu terus mengejarnya untuk mempercepat project ini karena diburu deadline.

Mata Adam baru saja terpejam, sambil menyandarkan kepalanya di kursi mobil, saat ponselnya kembali berbunyi pertanda adanya panggilan masuk.

Adam menghembuskan napasnya sekali lagi, sambil berharap semoga panggilannya bukan dari Pandu, sebab matanya sudah tidak sanggup untuk kembali melihat layar laptop untuk hari ini.

Harapannya terkabul, tapi panggilan kali ini tak kalah membuatnya mendesah berat.

"Iya, Bu. Kenapa lagi?" tanya Adam, saat melihat nama kontak si pemanggil adalah ibunya.

"Dam, tadi sore Ibu udah anterin Lintang buat konsul ke psikiater. Tapi pas Ibu minta surat rujukan buat rehab, belum dikasih. Tadi sempet dijelasin sama dokter tentang prosedurnya, tapi Ibu nggak terlalu paham. Ibu nggak ngerti harus ngapain."

Adam berusaha mendengarkan update terbaru Ibu terkait kasus Lintang. Namun, karena ibu yang sudah cukup berumur, serta memiliki latar belakang pendidikan yang terbatas, membuat Ibu sering merasa tidak paham saat membahas hal-hal terkait birokrasi.

"Nanti Adam coba tanya ke rumah sakitnya ya, Bu."

"Adam nanti pulang lagi, kan? Ibu nggak ngerti pas nanti daftar ke RSJ-nya."

"Iya, nanti Adam pulang lagi kalo ada waktu."

Adam yang sudah lelah untuk berbicara panjang, hanya mengiyakan ucapan sang ibu agar bisa menyudahi panggilan tersebut.

Taksi yang Adam tumpangi akhirnya sampai di depan rumah. Adam segera turun dari mobil tersebut sambil membawa serta koper yang seharian ini ia bawa ke kantor, lantaran tidak sempat pulang ke rumah terlebih dahulu.

Adam membuka gerbang rumah, lalu ia mendapati mobil Arin yang sudah terparkir di sana, bersisian dengan motornya.

Semoga saat Adam masuk, Arin tengah berada di kamarnya. Keributannya dengan Arin semalam tentu tidak berdampak baik, Adam ingin membahasnya, tapi tidak malam ini.

FriendhomeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang