Part 43

69.4K 6.4K 350
                                        

Yg merasa "Kak, aku kok udah vote ya"

Iya, ini emang masih repost. Tapi aku ada tambahin beberapa detail buat nanti penghubung ke part berikutnya

Happy reading!

***

Semakin Adam memikirkan, ia semakin yakin bahwa hidupnya tidak pernah berjalan dengan benar.

Selama ini, hidupnya hanya dipenuhi berbagai usaha yang tidak pernah membuahkan hasil memuaskan.

Adam selalu menantikan hari di mana ia bisa menikmati hasil dari perjuangannya, tapi sampai detik ini, jalan hidupnya hanya sebatas tentang perjuangan tak berujung.

Jika ada hal yang mampu ia nikmati saat ini, maka ini lah jawabannya.

Adam menikmati setiap jengkal bibir Arin yang membalas ciumannya dengan tak kalah aktif.

Hembusan napas keduanya kian tak beraturan, saat tangan Adam semakin merapatkan tengkuk Arin untuk memperdalam ciuman mereka.

Adam melepaskan bibirnya sejenak, untuk mengatur napasnya yang tersengal. Lelaki itu tak lantas menjauhkan wajahnya dari Arin, hingga ia dapat melihat saat kelopak mata Arin mulai terbuka.

Tatapan Arin seolah menariknya untuk kembali mendekati wajah itu. Bibir Adam tak lagi mendarat pada bibir Arin, kini ia sibuk bermain di leher wanita itu.

"Ahh..."

Arin tak mampu menahan desahannya. Saat merasakan sapuan bibir Adam yang bergerak intens menelusuri leher, tengkuk, hingga berakhir tenggelam di bahunya.

Aroma segar dari tubuh Arin seolah membuatnya kehilangan akal. Pikiran Adam terlalu kacau, atau ia memang terlalu menyukai ini, hingga rasanya setiap gerakan yang ia lakukan mulai kehilangan kendali.

Adam dapat merasakan saat tangan Arin perlahan bergerak untuk membuka satu persatu kancing kemejanya, hingga ia dapat merasakan tangan Arin yang kini menyentuh kulit dadanya.

Sengatan itu semakin kuat. Jari-jari tangan Arin justru bergerak dengan perlahan, yang membuat Adam semakin hilang akal.

Ini gila. Ini terlalu gila. Adam tak ingin meneruskannya, tapi Arin terus memancingnya.

Ia mendorong tubuh Arin hingga terbaring di sofa.

Tangan Arin pun menarik lepas kemeja yang semula digunakan Adam.

Adam nyaris tidak pernah menikmati hidupnya. Namun, ia benar-benar menikmati hal ini.

Kepalanya masih sibuk tenggelam di bahu Arin, sementara tangannya kini mulai meraba dada wanita itu dari luar piyamanya.

Adam sangat menginginkannya. Adam ingin menelusuri setiap jengkal tubuh kekasihnya dan bercinta semalaman.

Setiap gerakan Arin sangat memantik gairahnya.

Hingga akal sehat Adam kembali menguasai dan buru-buru mengangkat kepalanya yang nyaris tenggelam di dada wanita itu.

"Why, Babe?"

Arin yang terkejut dengan gerakan Adam yang menjauhi tubuhnya, seketika ikut bangkit.

Adam meremas kepalanya dengan kuat sambil memejamkan matanya. Lalu tangannya memungut kemeja yang tergeletak di bawah sofa.

"Rin, aku nggak bisa kayak gini ... aku nggak mau kita kayak gini."

"Kenapa?" Arin masih bingung.

Apa yang salah dengan Adam? Mereka sudah pernah melakukannya.

Dan Arin tidak keberatan untuk melakukannya lagi kali ini.

"Kita tinggal serumah di lingkungan warga, Rin. We're in relationship, but we're not married. Not yet..."

FriendhomeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang