9

3.4K 120 0
                                        

"Yang, nikah yuk!"

Jevian terbatuk mendengar ajakan pacarnya. Hei, kenapa pacarnya ini? Diajak nikah dari dulu tidak mau eh sekarang malah mengajaknya.

"Ayo! Mau kapan?" tanya Jevian.

Jujur saja cowok itu berasa senang mendengar ajakan Jeva. Kapan lagi ia bisa mendengar ajakan pacarnya yang mengajak dia untuk menikah.

"Lebaran gajah ya," ucap Jeva diselingi kerlingan nakal.

Dia masih waras untuk tidak menikah diusia muda. Apalagi ia masih kelas XI SMA, dia ingin menyelesaikan sekolahnya dan tentunya mengejar cita-citanya.

Jevian melunturkan rasa senangnya. Ia kira sang pacar serius mengajaknya nikah. Jika iya, dia akan langsung bilang pada orangtuanya dan orang tua Jeva.

Meminta restu? Sudah pasti diijinkan. Keluarga mereka ternyata sudah bersahabat sejak dulu. Mereka juga berencana menjodohkan Jeva dan Jevian. Namun ternyata kedua anak mereka sudah berpacaran lebih dulu, akhirnya mereka tak usah repot-repot menjodohkan keduanya.

"Udah sana, samperin temen-temen lo," ucap Jeva.

Cewek itu tentu menyadari raut tak senang dari Jevian. Tapi ia memilih tak peduli, lagi pula jika ia menikah muda, ia belum sanggup menjadi seorang istri.

Jevian melangkah lesu meninggalkan Jeva yang tengah menatapnya. Cewek itu diam-diam terkikik geli, pasalnya ekspresi Jevian ini sungguh lucu.

Saking lucunya ia jadi ingin mencongkel ginjal milik Jevian.

Jeva menggeleng kecil, ia langsung melanjutkan aktivitasnya menyiapkan minuman dan cemilan untuk teman-teman Jevian.

Setelah selesai ia langsung membawanya menuju taman, teman-teman Jevian dan Jevian sendiri sudah berada disana.

Jeva tersenyum kecil saat melihat Jaxon tertawa. Ah, tawa anak itu sangat manis.

"Nih sesajennya," ucap Jeva becanda.

"Jahatnya bu bos, emang kita ini setan?" ucap Dicko dramatis.

Andra menatap Dicko dengan tatapan sinis lalu berujar, "Hilih, lo kan emang setan."

Mendengar ucapan Dicko, teman-teman yang lain langsung tertawa ngakak. Dicko memasang wajah nelangsa.

"Najis banget wajah lo," celetuk Rama.

Lagi dan lagi Dicko dinistakan oleh teman-temannya. Cowok itu memasang wajah memelas. Dia menatap Jeva meminta pertolongan dari cewek itu.

"Muka lo kayak nahan berak anjir," sahut Gilang ikut-ikutan mengejek.

Dicko mendengus, "Imut gini lo bilang nahan berak, dasar temen dakjal!."

Jeva tertawa kecil. Entahlah, melihat Dicko ternistakan ia jadi merasa geli melihat ekspresi cowok itu.

"Eh Lang, lo temennya Iko pas kecil kan? Itu kok bisa lo temenan sama dia?" tanya David.

Gilang nampak berpikir sebentar, cowok itu kemudian tersenyum tipis. Dicko sendiri sudah merasa was-was, takut tingkahnya dulu diceritakan oleh Gilang.

"Waktu pertama gue liat Iko tuh pas dia lagi belajar naik sepeda. Gue kira tuh anak lancar naik sepedanya, karena ekspresi dia tuh songong sambil liatin gue. Gue dulu sempet kesel sama Dicko, eh gak lama dia HAHA," Rama melempar kacang ke muka Gilang, pasalnya dia sudah serius mendengarkan ucapan cowok itu, eh si Gilang malah tertawa gak jelas.

"Dia haha.. dia hahaha."

Jeva merasa kesal melihat cowok itu tertawa. Apa sih yang lucu? Kalau cowok itu tidak cerita kan Gilang udah kaya orang gila ketawa sendiri.

2J [Jeva dan Jevian]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang