30. ANGGARA

2.8K 111 0
                                        

Bel istirahat ke dua menggema di semua koridor kelas. Audrey, Cecil, dan Ganis sudah sampai di depan pintu kantin tepat saat bunyi bel itu selesai. Mereka keluar kelas sebelum bel karena pelajaran tadi selesai lebih cepat dan guru sudah keluar ruangan. Sebenarnya bukan hanya mereka, tapi seisi kelas XI IPA4 sudah kabur duluan begitu tidak ada yang mengawasi.

Sekarang tiga cewek itu menghampiri stan bakso langganan mereka untuk makan siang. Cecil dan Ganis yang memesan, sementara Audrey mencari bangku.

Baru beberapa saat duduk dan bermain ponsel, seseorang menempati kursi di depan Audrey, membuatnya menegakkan kepala.

"Udah? Cecil mana?" tanya Audrey pada Ganis yang baru duduk.

"Masih antre, katanya gue duduk duluan aja nanti dipanggil kalau baksonya udah," jawab Ganis, lalu cewek itu beranjak. "Gue lupa, mau ketemu Galang kasih dompetnya yang ketinggalan tadi. Lo tunggu Cecil, ya?"

Belum mendapat jawaban dari Audrey, Ganis sudah melangkah duluan keluar kantin. Tidak masalah untuk Audrey, ia tahu Ganis khawatir Galang tidak bisa beli makan siang karena tidak membawa uang.

"Boleh duduk?" Satu orang lagi datang, membuat perhatian Audrey pada ponselnya kembali  teralih.

"Punya Cecil sama Ganis, lo cari kursi lain aja," jawab Audrey acuh.

"Gue cuma mau ngomong bentar, boleh, kan?" Bahkan sudah jelas Audrey tidak memberi izin, tapi cowok itu tetap duduk.

Audrey meletakkan ponselnya di atas meja, lalu menatap tegas pada teman sekelasnya itu. "Perkataan gue kemarin kurang jelas, Mon?" tanyanya.

"Gue nggak mau bahas itu lagi, dengan lo maafin gue aja rasanya udah lega. Walau entah lo bilang begitu ikhlas atau terpaksa," jelas Mondi. "Gue ke sini mau tanya soal basket, gue masih anggota tim putra, kan? Katanya bakal ada sparing sama SMA Garuda. Kapan?"

"Kenapa datangnya ke gue? Ketua lo, kan, Benua. Dia tau semua detailnya, menyangkut tim putra juga lo bisa tanya ke Benua," jawab Audrey, karena memang begitu seharusnya.

"Dia masih mau terima gue?" tanya Mondi.

"Pertanyaan itu juga cuma Benua yang punya jawabannya."

Mondi menunduk. "Gue rasa enggak, cepat atau lambat nama gue pasti dihapus dari tim. Bahkan masalah sparing aja gue tau dari orang lain, bukan dari anak basket," ujarnya, terdengar putus asa.

"Lo ngerasa bersalah?" tanya Audrey, melihat sorot mata Mondi yang meredup.

Walau sedang terkena banyak masalah, terutama dengan tim basket, Audrey tidak pernah lupa kalau Mondi adalah salah satu anggota yang aktif dan sangat serius saat latihan.

Terlepas dari perbedaan kubu, Mondi bisa menyesuaikan diri dan bermain baik saat berada di tim yang sama dengan Benua ataupun Bobby. Dia tidak membawa masalah geng ke basket karena menurutnya sudah berbeda arena.

Walau sifatnya menyebalkan, tidak bisa dipungkiri kalau Mondi adalah pemain andalan tim putra.

"Tanya langsung ke orangnya aja." Audrey mengedikan kepala, membuat Mondi menoleh.

Di belakangnya ada Benua yang mendekat dengan dua mangkuk bakso. Cecil berjalan di sebelah cowok itu, membawa semangkuk bakso.

Sebelah alis Audrey terangkat saat melihat Cecil yang tampak salah tingkah, sepertinya memang terjadi sesuatu antara mereka berdua.

"Serius amat, lagi ngomongin apa?" tanya Benua. Cowok itu duduk di sebelah Mondi, sementara Cecil di sebelah Audrey.

"Ganis mana?" tanya Cecil.

ANGGARA [SELESAI]✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang