42. ANGGARA

2.3K 87 0
                                        

Di sini Audrey sekarang, lapangan basket lama tempat ia dan Samudra dulu sering latihan. Sudah lama sekali rasanya sejak mereka terakhir latihan bersama.

Sudah belasan kali Audrey menembakkan bola orange itu ke arah ring, namun satu pun tidak ada yang lolos. Walau terlihat tenang, Samudra tahu seberapa berantakannya pikiran Audrey sekarang.

Samudra yang semula duduk di tengah lapangan memerhatikan Audrey, kini beranjak dan menghampiri cewek itu. Samudra berlari ke arah bola yang jatuh di bawah ring karena lemparan Audrey bahkan tidak mengenai papannya.

Audrey mendengus, ia duduk di atas lapangan sambil memerhatikan Samudra yang kini melangkah ke arahnya sambil mengapit bola basket di lengan kanannya.

"Mau istirahat dulu?" tanya Samudra. Di udara malam seperti ini, Audrey tidak berkeringat, namun ia bisa melihat bagaimana Audrey mengatur napasnya yang tidak beraturan.

"Nggak ada yang berubah," kata Audrey. "Kayaknya basket nggak bisa bikin gue lebih baik sekarang, gue malah ngerasa bersalah karena ada di sini daripada nemenin Ganis."

Samudra duduk di sebelah Audrey. "Mau ke rumah Ganis?"

Audrey malah menunduk. "Nggak tau.".

Samudra belum pernah melihat Audrey plinplan seperti ini, tapi ia memakhlumi karena pasti Audrey masih butuh menenangkan diri setelah berurusan lagi dengan rumah sakit, dan juga kehilangan lagi orang tersayangnya.

"Gue udah ketemu si nomor 4," kata Audrey tiba-tiba, membuat Samudra menoleh cepat padanya.

Samudra tahu Audrey cepat atau lambat akan menemukannya, tapi justru itu yang membuatnya khawatir. Di situasi seperti ini, dengan keadaan emosi yang tidak stabil, Audrey bisa melakukan apa saja apalagi pada orang yang sudah lama dia incar.

"Lo nggak kaget, jadi emang udah lo duga gue bakal ketemu sama dia. Iya, kan?"

Samudra terhenyak, lalu dengan cepat mengendalikan ekspresinya. Cowok itu menatap ring di depan sana untuk menghindari kontak mata dengan Audrey.

"Kita cuma bisa tutup mulut, tapi nggak bisa bikin lo berhenti bergerak," kata Samudra.

Kita yang dia maksud adalah anggota tim 8 putra yang tentu saja tahu sosok nomer 4 yang selama ini diburu Audrey.

"Jadi sekarang lo mau apa? Tujuan lo udah tercapai, kan? Setelah ketemu, apa yang mau lo lakuin ke dia?" tanya Samudra, ingin memastikan apakah niat Audrey berubah setelah tahu siapa orang yang selama ini dia cari.

"Sesuai rencana awal," jawab Audrey, yakin. "Tapi untuk sekarang, gue nggak tertarik sama dia."

Audrey mendongak menatap langit hitam tanpa bintang, bahkan bulan bersembunyi di balik awan mendung. Seolah langit pun mengerti perasaan Audrey sekarang.

"Gue mau fokus sama kasus Galang."

Samudra mengerutkan keningnya. "Lo mau terlibat?"

Audrey menarik sudut bibirnya dan tertawa pelan. "Lo pikir Brasthunder doang yang akan gerak? Gue nggak bisa percaya sepenuhnya sama oknum aparat untuk usut kasus ini. Lo pasti tau alasannya apa."

Tahu, sangat tahu. Audrey pasti masih marah soal kasus Geri yang tidak diusut sampai tuntas, bahkan pelakunya dibebaskan dengan alasan di bawah umur.

Mereka masih terlalu muda dan polos saat itu hingga tidak tahu permainan apa yang terjadi, Audrey pasti tidak mau tenggelam dengan cara yang sama.

"Gue rasa kejadian yang menimpa Galang bukan sesuatu yang enggak disengaja, mereka pasti mengincar seseorang," kata Audrey.

"Mereka?"

ANGGARA [SELESAI]✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang