16.ANGGARA

2.8K 111 1
                                        

Gara duduk di kursi makan, memerhatikan Audrey yang sedang menyiapkan minuman dingin untuk teman-temannya. Cowok itu tidak melewatkan setiap pergerakan Audrey, seolah semua yang dilakukan cewek itu menarik perhatiannya.

Sementara Audrey yang merasa diperhatikan hanya melirik sekilas, lalu kembali melanjutkan kegiatannya.

"Kenapa ngelihatin terus?" tanya Audrey, berjalan membawa minuman di atas nampan menuju meja makan.

"Pede amat," jawab Gara.

"Itu kenapa kotak obatnya dibawa ke sini?"

"Buat ngobatin luka gue," jawab Gara langsung. "Obatin."

"Ogah!" jawab Audrey langsung. "Di depan ada Bagas sama Bobby, minta obatin mereka aja."

Gara tidak memerdulikan ucapan Audrey, cowok itu mengambil kapas dan menuangkan alkohol di atasnya, lalu menarik tangan Audrey agar cewek itu duduk di kursi sebelahnya.

"Maksud lo apa?" tanya Audrey sambil melotot galak.

Gara malah memutar pelan lengan Audrey, membuatnya bisa melihat luka gores di siku kanan cewek itu. Sementara Audrey meringis merasakan sedikit perih di lengannya karena gerakan tiba-tiba.

"Lo ngoceh mulu nyuruh yang lain obatin luka mereka, padahal lo sendiri juga luka," ujar Gara, mulai membersihkan sekitar luka di siku Audrey.

Audrey mengerutkan keningnya, sesekali meringis menahan perih. Ia bahkan tidak sadar kalau sikunya terluka lumayan lebar. Biasanya Audrey akan membiarkan luka-luka seperti itu sembuh dengan sendirinya. Kecuali pada wajah, ia harus segera menyamarkan sebaik mungkin atau Bunda Irma akan mengomel panjang.

Setelah membersihkan luka dan menutupnya dengan plester steril, Gara melepaskan jaket hitamnya lalu meletakkan atribut kebanggan Brasthunder itu di pangkuan Audrey. Cowok itu lantas beranjak dari kursi lalu duduk berlutut di depan Audrey.

"Kaki lo kebentur apa dipukul?" tanya Gara, melihat kaki Audrey yang lebam.

Audrey menunduk menatap kakinya yang ditunjuk Gara, lalu menggeleng pelan. Ia tadi menendang iya, terbentur iya, dipukul juga iya. Jadi tidak tahu pasti luka itu muncul karena apa.

Gara menghela napas, lalu beranjak dan melangkah menuju lemari es, membuat Audrey memerhatikan pergerakannya dalam diam. Cowok itu mengambil sebongkah es batu lalu melepaskan slayer di pergelangan tangannya.

"Dikompres aja kalau nanti masih sakit langsung bawa ke rumah sakit, takutnya tulang lo retak atau patah," kata Gara, kembali duduk berlutut di depan Audrey sambil menempelkan es batu yang dibungkus slayer itu di permukaan kaki Audrey yang memar.

Audrey hanya diam saja tidak memberi reaksi apa-apa, tapi perhatiannya tidak lepas dari sosok Anggara yang masih mengoceh layaknya seorang Kakak sedang memarahi Adiknya.

Lumayan lama Audrey melamun menatap Gara, ia langsung mengerjap begitu berhasil mengembalikan kesadaran.

"Nggak perlu." Audrey tiba-tiba menggeser kakinya, membuat Gara sedikit kaget.

Cowok itu mendongak menatap Audrey dengan kening berkerut, tapi Audrey malah membuang muka dan beranjak, ia memilih mengambil nampan berisi minuman dingin di atas meja.

"Nggak usak sok peduli, lo bukan siapa-siapa."

Gara semakin tidak mengerti, cowok itu beranjak. "Aneh banget lo jadi cewek, diobatin bukan terima kasih malah bilang kalau gue bukan siapa-siapa."

Audrey tertawa sarkas. "Emang gue minta diobatin?" tanya Audrey santai.

"Gue bisa selesaiin masalah gue sendiri, lo orang asing nggak usah ikut campur!"

ANGGARA [SELESAI]✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang