"Hallo?"
"ANGGARA!"
"Buset,"
Gara menjauhkan ponsel dari telinga kirinya, suara melengking di seberang sana sukses membuat telinganya berdengung.
Sejak melihat nama Audrey tertampil di layar ponselnya, firasat Gara mengatakan kalau itu bukan pertanda baik. Mengingat tadi sore Gara kabur begitu saja, sekarang Audrey menelpon pasti untuk mengamuk.
"Hallo? Gara, lo masih di sana, kan?"
Gara menempelkan ponselnya ke telinga kiri perlahan, mengantisipasi ada ledakan susulan.
"Iya," jawab Gara, bernapas lega karena Audrey tidak berteriak lagi.
Ternyata suara cewek itu lebih mematikan ketika berteriak lewat telpon, tepat sasaran karena menghadap langsung ke lubang telinga.
"Lo di mana?" tanya Audrey.
"Markas. Kenapa? Kangen?"
Gara sudah siap tertawa barangkali Audrey akan mengumpat, tapi yang ia dengar malah helaan napas lega.
"Syukur deh, gue kira ke mana."
Gara menatap lapangan gelap di belakang markas, cowok itu bengong setelah mendengar jawaban Audrey. Ia pikir Audrey akan marah, tapi cewek itu malah bertanya keberadaannya dan bersyukur setelah memastikan Gara baik-baik saja.
Seulas senyum merekah di bibir Gara tanpa bisa ditahan, walau sudut bibirnya maih terasa perih dan masih ada bercak darah di sana.
Sesuai dugaan Audrey, Gara habis bertengkar. Tapi karena Audrey hanya bertanya lokasinya sekarang, jadi Gara tidak perlu memberitahu bagaimana kondisinya.
"Khawatir?" goda Gara, iaa belum puas kalau belum mendengar Audrey mengomel.
"Jangan ge er!" balas Audrey, kali ini Gara tertawa.
"Bilang aja kali. Lo khawatir gue ribut, kan?" tebak Gara. "Tenang aja, Drey. Kalaupun gue ribut, kemenangan udah bisa dipastikan. Jangan lupa gue Brasthan Anggara."
"Lo ribut sampai opname juga gue nggak peduli!"
Gara tertawa sarkas. "Yakin? Entar lo jenguk gue sambil nangis-nangis kayak di sinetron gitu,"
"Najis!"
Mengobrol dengan Audrey membuat Gara seolah lupa dengan rasa sakitnya, cowok itu tertawa semakin puas sekarang. Membuat Audrey kesal adalah kesenangan tersendiri untuk Gara.
"Asal jangan mati."
Tawa Gara perlahan mereda, keheningan tercipta setelah Audrey mengatakan hal itu. Gara menyadari nada bicara Audrey berubah.
...
...
...
...
...
Gara duduk di sofa kumuh yang terletak di dalam markas, cowok itu masih di gedung ini padahal sudah larut malam. Teman-temannya sudah pulang karena besok sekolah, sementara Gara masih harus melewati satu hari terakhir masa skors-nya.
Hari ini Papa Ages ada tugas di luar kota, Anggi menginap di rumah temannya. Karena itu Gara bisa kabur dan memutuskan untuk bermalam di markas.
"Gue kira markas kosong."
Sebuah suara terdengar dari arah pintu membuat gerakan jari Gara yang sedang mengetik di ponsel langsung terhenti, namun ia tidak menoleh.
Ada langkah kaki mendekat perlahan, Gara mematikan ponselnya dan meletakkan benda itu di atas sofa.
"Gagal dong rencana gue,"
"BANGSAT!"
Dengan gerakan cepat, Gara melompati kursi dan langsung menerjang cowok berjaket hitam dengan logo Brasthunder itu hingga jatuh dan menindihnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANGGARA [SELESAI]✔
Teen FictionGara benci ditentang dan dihalangi, tapi ada satu cewek yang tiba-tiba dengan berani menentangnya. Berbagai masalah muncul dan mengharuskan mereka terus terlibat. Apakah rasa benci Gara akan berubah? Sebenarnya siapa cewek itu? Kenapa begitu membenc...
![ANGGARA [SELESAI]✔](https://img.wattpad.com/cover/271835459-64-k690815.jpg)