59. ANGGARA

2.5K 103 5
                                        

Kedua mata Samudra masih tertutup rapat saat Audrey menjenguk hari ini, cowok itu sendirian. Samudra memang sudah tidak punya orang tua sejak kecil, sama seperti Audrey. Bedanya, Audrey dirawat oleh Bunda Irma, sementara Samudra dan Geri berada di panti asuhan yang letaknya tak jauh dari rumah Audrey dulu.

Audrey tidak tahu sekarang Samudra tinggal dengan siapa, sudah Audrey bilang 'kan kalau Samudra merahasiakan kehidupannya dari Audrey. Bahkan, kebohongan tentang sekolah di luar kota, Audrey baru tahu saat cowok itu mengatakannya di jalan tiga hari lalu.

"Sam, gue datang hari ini. Walaupun nanti bakal kena omel Bunda lagi, tapi gue terus kepikiran lo kalau nggak datang," ujar Audrey, menarik kursi dan duduk did dekat brankar tempat Samudra berbaring. "Maaf."

"Kenapa minta maaf?"

Audrey kaget, ia yang sempat menunduk langsung menegakkan kepala. Samudra hanya meliriknya karena kepala cowok itu masih susah digerakkan.

"Lo udah siuman? Sejak kapan?"

"Tadi pagi."

Mendengarnya, Audrey menghela napas lega. Kedua matanya berkaca-kaca, bahagia. Ia ingin merengkuh tubuh Samudra, tapi cowok itu terlalu lemah bahkan hanya untuk tersenyum.

"Udah makan?" tanya Samudra.

Kening Audrey berkerut. "Khawatirin diri lo sendiri, gue bisa urus diri gue," jawabnya, sewot.

Samudra tertawa pelan. "Iya, maaf."

"Kenapa minta maaf?" tanya Audrey balik.

"Karena bohongin lo," jawab Samudra sekenanya, ia belum bisa banyak bicara.

Audrey menunduk, tangannya masih menggenggam tangan Samudra yang lolos dari infus. Ia marah, sangat marah saat tahu kalau Samudra membohonginya. Terlebih cowok itu bergabung dengan geng yang jelas Audrey benci.

"Gue nggak tau harus gimana, Sam."

"Mau benci gue?"

"Bodoh," maki Audrey. "Lo pikir mudah benci sama lo?"

"Enggak," jawab Samudra, lalu meringis. Ia terlalu memaksa diri.

"Lo diam aja, biar gue yang ngomong." Audrey mengusap sudut matanya, tidak ingin ada cairan yang jatuh dari sana. Ia sudah terlalu banyak menangis saat tahu Samudra koma.

"Gue nggak tau apa yang harus diomongin, lo udah ngelanggar terlalu banyak hal, Sam. Bohong ke gue, gabung geng motor, bahkan pakai kelemahan gue supaya gue nggak berkutik dan akhirnya tertangkap sama mereka."

"Mau gue pukulin lo sekarang, tapi nanti lo mati. 'Kan lo udah janji nggak akan mati dulu, masa gue yang bikin lo mati?"

Samudra tertawa pelan mendengarnya, tapi langsung diam karena mendapat pelototan garang Audrey.

"Drey--"

"Gue bilang diam," sahut Gara. "Kalau ngomong lagi, gue tinggalin sendiri biar ngomong sama infus!"

Samudra mengangguk, menurut. Hal yang harus dihindari adalah kemarahan Audrey, apalagi sampai cewek itu menjauhinya. Tapi Samudra sadar, perbuatannya kemarin tidak bisa dimaafkan lagi. Apalagi oleh Audrey yang sangat membenci hal yang ia lakoni.

"Geri nggak akan suka lihat lo kayak gini, Sam. Dia pasti juga akan pukul lo atas tindakan bodoh yang lo lakuin," papar Audrey tanpa menatap Samudra, malah menunduk pada tangan cowok itu di genggamannya. "Dia juga nggak ingin lo balas dendam kayak gini. Bahkan jika Geri masih ada di samping kita, dia nggak akan pernah balas dendam."

"Selama ini, balas dendam ternyata bikin gue nggak menikmati apa yang gue jalani. Gue terus memaksa latihan, pengen lebih dan lebih jago supaya siap ngebantai si mantan ketua songong yang udah seenak jidat ninggalin tim. Ternyata itu cuma alibi, pengalihan gue atas apa yang terjadi."

ANGGARA [SELESAI]✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang