17. ANGGARA

2.8K 116 6
                                        

Entah kesambet apa pagi-pagi begini, Audrey berdiri di depan mading utama dan membaca semua judul lembaran yang tertempel di sana. Hanya judulnya.

Cewek bersurai sebahu itu memiringkan kepala. "Tumben mading isinya normal, biasanya udah ngalah-ngalahin feed lambe turah," komentarnya.

Suara pekikan dan bisik-bisik membuat Audrey menoleh. Di sana, dari arah persimpangan koridor, Audrey melihat mereka. Gerombolan yang selalu menjadi sorotan di sekolah ini. Brasthunder.

Sosok Gara dengan jaket hitam yang membalut tubuh atletisnya berjalan paling depan, di dekatnya ada Bobby dan Benua. Di belakang cowok itu berdiri Bagas dan Lingga, dua manusia dengan sifat yang amat kontras. Lingga si pendiam sementara Bagas si tidak bisa diam.

Ada puluhan anggota Brasthunder mengikuti di belakang, satu per satu keluar dari kerumunan itu untuk menuju kelas mereka. Saat itu Audrey merasa janggal.

Kenapa Gara dan teman-temannya terus melangkah ke sini? Padahal koridor kelas IPS seharusnya berbelok. Sementara kelas unggulan sudah mereka lewati.

Tersisa lima anggota inti Bratshunder yang terus melangkah ke arahnya, membuat Audrey merasa ada yang tidak beres. Kali ini ia juga mulai mendengar namanya disebut-sebut oleh siswi-siswi yang sejak tadi membicarakan Brasthunder.

Menghindari masalah, Audrey memilih segera menuju kelasnya. Ia mengambil langkah lebar tanpa menoleh sama sekali, dalam hati mengumpati cowok-cowok berjaket hitam itu.

"MIKO! BALIKIN!"

"Aw!"

Baru saja hendak berbelok menuju kelas, Audrey tiba-tiba menabrak sesuatu yang membuatnya langsung terjatuh. Sialnya, karena ia berjalan cepat dan orang yang menabraknya juga sedang berlari, Audrey benar-benar tidak sempat menjaga keseimbangan. Ia jatuh dengan posisi lengan langsung menyentuh lantai, membuat luka yang belum kering itu kembali terbuka dan mengeluarkan darah.

"AUDREY!" Cecil mendorong Miko dari pintu dan langsung menghampiri Audrey yang meringis kesakitan. "Drey, lo nggak apa-apa?" tanya Cecil khawatir.

Audrey mengangguk, ia memeriksa sumber perih yang ada di lengannya, lalu mendesis pelan melihat bercak darah mulai mengotori sekitar luka itu.

"Lo berdarah!" pekik Cecil. "Gimana nih, Drey, gimana? Mau ke UKS? Atau rumah sakit aja? Ini gara-gara lo sih, Ko!" heboh Cecil.

"Kok jadi gue?!" Miko mendelik tidak terima. "Lo aja yang dari tadi ngejar-ngejar gue!"

"IH! Berisik! Bantuin Audrey kek!"

Miko dengan segera mendekati Audrey yang masih dalam posisi jatuhnya tadi, tapi seseorang lebih dulu menepis tangan Miko sebelum menyentuh pundak Audrey untuk membantu cewek itu berdiri.

Melihat siapa pelakunya, Miko langsung mundur. Cowok itu semakin gelisah karena melihat sorot mata tidak bersahabat dari ketuanya, Anggara.

Gara membantu Audrey berdiri, namun cewek itu langsung menepisnya. Dengan susah payah Audrey beranjak, lalu melangkah masuk kelas tanpa menoleh, bahkan tidak melirik sedikitpun.

Cecil mengerjap, merasa berada di tempat yang salah apalagi Audrey sudah masuk kelas. Ia mundur perlahan, lalu berlari menyusul Audrey setelah sempat mendorong Miko agar menyingkir dari pintu.

Sementara Miko kini tidak berani menatap mata Gara, ia tidak bisa membaca arti dari tatapan Gara padanya. Yang pasti, Gara sedang tidak dalam mood baik.

"Minggir."

Miko langsung menyingkir dari pintu, membiarkan pentolan Brasthunder itu memasuki kelasnya, membuat teman-temannya kaget karena sosok yang selalu jadi sorotan di SMA Cakrawala itu kini berada di dalam kelas beasiswa. Lebih kaget lagi karena Gara menghampiri bangku Audrey.

ANGGARA [SELESAI]✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang