41. ANGGARA

2.3K 96 6
                                        


Selamat membaca~
...
...
...

Audrey dan Cecil berdiri di ambang pintu kamar Ganis, menatap cewek itu dengan tatapan terluka. Mereka sedih melihat Ganis seperti ini, seolah dapat merasakan apa yang sedang sahabat mereka rasakan.

Galang Mahesa adalah Adik sekaligus satu-satunya keluarga yang dimiliki Ganis. Galang adalah teman, pelindung, dan juga tempat bersandar untuk Ganis kala melewati masa-masa sulit dalam hidupnya. Tapi sekarang, sosok itu sudah tiada.

Audrey menepuk pundak Cecil yang kembali bergetar karena menangis, ia memberi isyarat agar Cecil menghampiri Ganis yang hanya diam menatap figura hitam yang menampilkan foto dirinya dan Galang.

"Gue pergi dulu," pamit Audrey, diangguki Cecil.

Audrey memerhatikan Cecil yang berjalan mendekat pada Ganis. Saat Cecil duduk di sebelah cewek itu dan menepuk pundaknya, Ganis menoleh perlahan. Hanya dengan menatap mata Cecil, air mata Ganis kembali luruh. Cecil langsung menarik cewek itu ke dalam pelukannya.

Melihatnya membuat Audrey langsung berbalik sambil menyentuh dada, sakit, ia tidak ingin melihat Ganis terus seperti ini.

Kedua tangan Audrey terkepal. Ia memang tidak bisa membuat Galang kembali agar Ganis bangkit dari keterpurukannya, tapi Audrey akan membuat Ganis sedikit lebih tenang dengan cara mendapatkan keadilan untuk Galang. Bagaimanapun caranya.

.
.
.
.
.

Gara menghentikan motornya di sisi jalan, kedua mata cowok itu memicing menatap sosok yang ia kenal di seberang sana. Saat yakin kalau ia memang kenal cewek bersurai sepunggung itu, Gara langsung melajukan motornya menyeberangi jalan.

"Lo ngapain di sini?" tanya Gara langsung setelah menghadang jalan cewek itu dengan motornya.

Audrey menegakkan kepala yang semula menunduk, kedua mata cokelatnya langsung bertemu tatap dengan mata Gara yang menyorot heran.

"Minggir," titah Audrey, dingin.

Alih-alih mendengarkan ucapan Audrey, Gara malah turun dari motornya. Cowok bersetelan serba hitam itu mendekat hingga mereka berhadapan.

"Lo habis nangis?" tanya Gara saat melihat dengan jelas mata sembab Audrey.

"Apa urusannya sama lo?" tanya Audrey balik. "Minggir sebelum gue pukul."

Gara malah terkekeh mendengar ancaman itu, tapi detik kemudian cowok itu mundur dua langkah saat mendapat serangan mendadak dari cewek di depannya.

"Gila lo ya?!" Gara terbatuk. "Sial, kuat banget."

Kedua tangan Audrey terkepal kuat seolah belum puas melepaskan tinjuan tepat di perut Gara, cowok itu meringis sambil memegangi perutnya.

"Lo ikut MMA?"

Audrey merespons dengan rolling eyes, yang malah membuat Gara terkekeh di tengah rasa sakitnya.

"Lo ngapain di sini, bukannya nemenin Ganis di rumah?" tanya Gara. Aneh saja melihat Audrey berkeliaran di luar padahal seharusnya, sebagai sahabat, dia kini berada di sisi Ganis. Apalagi ia tahu Ganis tidak punya keluarga lagi setelah kepergian Galang.

"Bukan urusan lo." Audrey membuang muka, menghindari tatapan Gara.

Gara tahu, Audrey pasti menahan tangisnya. Cewek itu tidak menangis sejak kemarin, lebih tepatnya hanya menangis di depan Gara ketika memberitahu soal trauma rumah sakit yang dia alami. Selebihnya, Audrey terus berusaha menenangkan Ganis sehingga tidak ada waktu memikirkan perasaannya sendiri.

Dasar. Di situasi seperti dia masih sok sangar, padahal mungkin menangis bisa sedikit melegakan.

"Lo sendiri ngapain di sini? Bukannya tadi anak buah lo pada ke markas? Mau ngapain lo? Deklarasi perang?"

ANGGARA [SELESAI]✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang