"Udah bangun?"
Audrey membuka matanya pelan, pusing. Ia bergerak untuk duduk, lalu memerhatikan sekitar.
"Di mana?"
"Markas gue, lupa?"
Kesadaran Audrey belum terkumpul sempurna tapi ia sudah bisa mengenali suara berat siapa itu.
"Lo? Aduh!"
Gara memutar bola matanya. "Baru bangun udah mau ngamuk aja."
Audrey meringis sambil memegangi kepala, pandangannya mengedar. Gedung ini besar namun kosong, padahal ada beberapa barang yang pasti sengaja diletakkan di sini sebagai tempat nongkrong.
"Anak-anak gue usir ke belakang supaya nggak ganggu lo tidur," kata Gara, menjawab rasa bingung yang terlihat jelas di wajah Audrey. "Minum dulu."
"Gue mau pulang," kata Audrey.
"Ya udah, pulang sendiri sana."
Jawaban santai Gara sukses membuat Audrey langsung melotot tajam pada cowok itu.
"Kenapa lihat-lihat? Awas mata lo copot."
"Sinting, ya? Lo nggak ada inisiatif antarin, gitu?"
"Gue aja dibonceng Lingga, sana minta antarin anak buah gue." Gara mengedikan kepala ke arah pintu belakang yang membuat Audrey mengikutinya.
Di belakang ada banyak cowok berseragam dan tidak berseragam, mereka berkumpul sambil mengobrol dan merokok. Sesekali tertawa puas dengan suara menggelegar.
Audrey bergidik. "Enggak, ah. Benua? Lingga? Atau Bagas deh minimal."
"Mereka pulang," kata Gara. "Adanya Bobby."
"Apa?"
Audrey memutar kepala, raut wajahnya berubah saat melihat Bobby. Pertanyaan cowok itu kemarin masih terngiang hingga sekarang, membuat Audrey ingin sekali memukulnya sampai babak belur.
"Antarin pulang, dia--"
"Ogah!" tolak Audrey langsung. "Mending gue pulang sendiri!"
Audrey berdiri, ia sempat oleng karena rasa pusing kembali menyerang. Beberapa saat Audrey celingukan mencari tasnya yang kemudian diambilkan Bobby. Audrey merebutnya dengan sewot, lalu melangkah menuju pintu.
"Gue minta maaf!" seru Bobby sebelum Audrey semakin menjauh, dan seruan itu berhasil menahan langkah Audrey. "Gue minta maaf soal kejadian kemarin. Gue... gue nggak ada niat buat nuduh lo. Jadi--"
"Iya," sahut Audrey. "Jangan dibahas lagi atau gue hajar sampai pingsan lo!"
Bobby sampai berjingkat karena Audrey tiba-tiba menoleh dengan tatapan setajam pedang tertuju langsung padanya. Cewek itu melengos dan pergi setelah memberikan ancaman.
"Gue tarik omongan gue tentang Audrey yang lebih galak di lapangan, ternyata dia lebih galak lagi kalau lagi mode ngamuk mukul begini."
Gara tertawa pelan. "Hajar, sayang."
***
UKK hari terakhir. Banyak anggota Brasthunder yang sepakat kumpul-kumpul di markas. Setelah ini libur panjang, mereka sedang menyiapkan banyak kegiatan termasuk menyambut hari jadi Brasthunder ke-7.
Di tengah asiknya kumpul-kumpul, Gara tiba-tiba memanggil para anggota inti untuk masuk ruangan tempat alat olahraga mereka disimpan. Cowok itu berdiri dekat samsak, menunggu teman-temannya datang.
"Ada apa, Ga?" tanya Benua yang pertama datang, disusul Bobby dan Bagas.
"Nunggu Lingga."
Tidak lama kemudian, orang yang ditunggu datang. Lingga baru sampai di markas, cowok itu tadi memang izin datang terlambat.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANGGARA [SELESAI]✔
Fiksi RemajaGara benci ditentang dan dihalangi, tapi ada satu cewek yang tiba-tiba dengan berani menentangnya. Berbagai masalah muncul dan mengharuskan mereka terus terlibat. Apakah rasa benci Gara akan berubah? Sebenarnya siapa cewek itu? Kenapa begitu membenc...
![ANGGARA [SELESAI]✔](https://img.wattpad.com/cover/271835459-64-k690815.jpg)