BONUS CHAPTER 5 - LAST

3.1K 71 8
                                        

Kembalinya dari rumah sakit setelah menjenguk teman-teman yang kemarin diserang di markas, Gara bukannya langsung pulang tapi malah ke rumah Audrey. Sudah hampir setengah jam Gara berdiri di depan gerbang, tapi yang punya rumah tidak kunjung muncul.

Audrey marah, dan Gara mengakui ini adalah kesalahannya. Semua tahu seberapa ketat aturan untuk kelas XII, bahkan Brasthunder tidak bisa lolos dari aturan itu. Semua siswa kelas XII harus sudah melepaskan tanggung jawab di organisasi dan fokus pada ujian akhir. Konsekuensi untuk pelanggar mulai dari teguran hingga ancaman tidak lulus.

Tawuran adalah salah satu kesalahan besar yang bisa membuat pelaku langsung mendapat hukuman terberat, yaitu ancaman tidak lulus. Apalagi Gara sudah melepaskan posisi ketua Brasthunder beberapa waktu lalu, yang artinya ia tidak seharusnya masih terlibat dengan masalah geng itu— setidaknya selama kelas XII.

Gara sudah dengar dari Miko kalau Audrey tahu tentang penyerangan di markas, dari informasi itu Gara menyimpulkan alasan Audrey bisa muncul di lapangan itu.

Sekali lagi, Gara memeriksa ponselnya, namun masih tidak ada jawaban. Ia menghela napas sampai terlihat kepulan asap tipis keluar dari bibir dan hidungnya, menandakan seberapa dingin udara malam ini. Tapi dirinya tetap berdiri bersandar pada motor menunggu pacarnya yang sedang ngambek itu.

Suara pintu terbuka membuat kepala Gara reflek terangkat, kemudian disusul dengan senyuman yang mengembang perlahan dan diakhiri ringisan karena rasa perih akibat sudut bibirnya robek. Orang yang ditunggunya akhirnya muncul dengan raut wajah yang sudah Gara tebak— judes.

"Kenapa?"

"Mau ngomong," pinta Gara, memelas.

"Enggak, udah malem. Pulang sana."

"Ini gue pulang, ke lo," jawab Gara. "Gue nggak bisa pulang ke rumah, Drey, ada Papa sama Anggi. Nanti mereka—"

"Bodo amat." Audrey berbalik, hendak meninggalkan Gara, tapi cowok itu menahannya dengan panggilan yang amat pelan.

"Please."

Angin malam berembus menerbangkan surai Audrey yang sudah sepanjang punggung, ia bisa merasakan dinginnya karena hanya memakai kaos santai lengan pendek. Audrey memutar kepala, menatap Gara yang berbatas pagar dengannya.

"Mau ngobrol, bentar aja, ya?"

Kedua mata Gara yang dikenal selalu menyorot tajam itu kini terlihat amat sendu, seperti lelah tapi juga terdapat usaha untuk membujuk Audrey di sana. Entah sejak kapan Audrey lemah dengan hal seperti itu, tapi hanya pada seorang Brasthan Anggara.

Gara tersenyum saat akhirnya Audrey kembali dan membukakan gerbang untuknya, cewek itu menarik tangan Gara masuk ke halaman rumah, lalu menyuruhnya duduk di bangku teras.

"Bunda nggak di rumah," kata Audrey.

Gara mengangguk, sudah paham kenapa Audrey mengatakannya. Audrey bukannya tega membiarkan Gara kedinginan di luar, tapi ia tidak pernah berniat mengajak cowok masuk rumah dalam kondisi kosong begini, dan Gara tahu benar tentang itu.

"Bentar." Audrey masuk rumah, sekita lima belas menit kemudian kembali membawa sebuah gelas berisi teh hangat dan kotak obat.

Gara memerhatikan Audrey yang duduk di kursi lain, berbatas meja. Cewek itu meletakkan teh hangat dan mendorongnya mendekat pada Gara, setelahnya ia mulai mengeluarkan beberapa alat pertolongan pertama dari kotak.

"Minum dulu."

Gara menurut, ia tidak ingin ditendang keluar jika membantah. Sekarang ini mood Audrey sedang tidak stabil. Cewek itu bingung, mau marah-marah, tapi luka Gara yang memprihatinkan membuatnya memilih menahan diri.

ANGGARA [SELESAI]✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang