Di kamar bernuansa grey dan navy itu, Gara tengah duduk di atas kasur nya dengan rambut bagian depan sedikit acak-acakan dan mata yang terlihat masih mengantuk. Tangan kanannya memeluk bantal sedangkan tangan kirinya memegang benda pipih yang tertempel ditelinga.
"Iya, pa." Jawab Gara pada Adryan untuk yang kesekian kali.
Setelah sholat subuh tadi Gara ketiduran dan sekarang terbangun karena mendapat panggilan telepon dari papanya. Bisa dipastikan kalau papanya itu sudah pergi bekerja. Karena jam menunjukkan pukul 9 pagi.
Tumben sekali papanya itu tidak membangunkannya sebelum berangkat. Biasanya Adryan akan marah jika putra-putra nya ada yang tidur setelah sholat subuh karena tidur diwaktu itu tidak di perbolehkan. Mungkin Adryan tahu kalau kondisi Gara sedang tidak baik dari semalam. Jadi ia tidak tega untuk membangunkannya.
"Jangan lupa minum obat. Papa tutup teleponnya. Assalamu'alaikum."
"Iya.. Waalaikumsalam."
panggilan telepon pun berakhir.Gara menghela napas. Semenjak kejadian ia tenggelam seminggu yang lalu itu papanya menjadi tambah overprotektif.
Di hari kerja Adryan menyuruh salah satu dari si kembar menemani dan menjaga Gara di mansion secara bergantian. Mulai saat itu Adryan tidak bisa hanya mempercayakan bodyguardnya saja untuk menjaga Gara. Ia tidak ingin kejadian itu terulang kembali. Adryan sudah tahu penyebab Gara tenggelam karena mengecek rekaman cctv. Adryan bisa melihat ada sosok selain putra bungsunya di dalam kolam renang waktu itu. Jadi Adryan menyimpulkan bahwa sosok itu yang menjadi penyebab putra bungsunya tenggelam.
Gara sendiri sedang berusaha untuk melupakannya. Karena setiap kali teringat kejadian itu ia akan mengalami serangan panik.
Gara beranjak dari kasur, meletakkan handphonenya diatas nakas, lalu melangkah masuk ke kamar mandi.
Setelah kurang lebih 10 menit, ia keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe sembari melangkah ke walk in closet. Memakai kaos hitam lengan pendek dan celana selutut. Kemudian melangkah keluar kamar, memasuki lift menuju lantai satu.🍞🍞🍞
"Tumben udah bangun, bang. Kenapa gak bangunin gue?" Tanya Gara setelah sampai di ruang makan dan melihat Shino tengah memakan sarapannya.Shino menoleh ke arah Gara yang melangkah mendekati meja makan.
"Rencananya abis sarapan gue bangunin lo. Sekalian bawain sarapan lo ke kamar," jawab Shino, lalu segera menghabiskan sarapannya.
"Gue masih bisa jalan ke ruang makan, ngapain makan di kamar?" Gara menarik kursi dan duduk di seberang kursi Shino.
"Kali aja lo lagi males ke bawah," Shino menggeser piringnya yang sudah kosong.
"Lo mau sarapan apa?" Tanyanya pada Gara.
"Roti aja, pakai selai blueberry."
Shino pun menyiapkan sarapan yang diminta sang adik.
"Si Jerry mau kesini, nanti siang kita jemput dia di bandara,"
Ujarnya sembari mengolesi selai blueberry diroti, lalu setelah selesai ia berikan pada Gara."Tadi papa udah kasih tau di telepon." Gara menerima roti itu dan langsung memasukan satu gigitan kedalam mulutnya.
Salah satu alasan papanya menelepon tadi, memberitahukan kalau sepupunya itu akan kembali dari Aussie dan akan melanjutkan kuliah di Indonesia. Untuk sementara waktu si Jerry akan tinggal di mansion bersama mereka. Selagi Davian yaitu ayah Jerry yang berada di aussie mengurus kepindahan keluarganya untuk kembali tinggal di Indonesia dengan mengajak serta Omanya juga.

KAMU SEDANG MEMBACA
About Gara
Ficção GeralTentang Gara menghadapi kekurangan dan kelemahan nya. 📢 Warning! - Ini cuma cerita fiksi ya! Jadi jangan terlalu dianggap serius! Buat hiburan aja! Ambil sisi baik nya, buang sisi buruk nya, okey! 💙😽