*Chapter 16*

2.6K 196 3
                                    

Adryan baru pulang kerja, langsung bergegas menuju kamar Gara. Karena Thaka meneleponnya, mengatakan bahwa Gara sempat mendapat serangan karena ulah Jerry.

Adryan baru saja ingin bertanya mengenai kondisi Gara tapi bungsunya itu lebih dulu membuka suara.

"Papa udah tau kalo Jerry ada yang ikutin?" Tanya Gara pada sang papa yang berada dihadapan nya.

"Iya, papa udah tau," jawab Adrian, kemudian duduk di tepi kasur Gara.

"Gara penasaran kenapa bisa ada hantu yang ngikutin Jerry. Entah itu dari Aussie atau pas baru datang ke indo ketempelan nya. Tadi pas di tanya dia nya langsung emosi terus gebrak meja. Bikin kaget," Gara bercerita sembari menyentuh dada kiri, merasakan detak jantungnya yang kini sudah tidak berdetak dengan brutal lagi.

"Gara mau pasang pacemaker katanya pa!" Thaka yang memang berada di sana juga lantas mengalihkan pembicaraan dan Gara pun langsung mendelik menatap abangnya itu.

"Beneran mau?" Tanya Adryan menatap bungsunya, memastikan. Karena sebelumnya Gara tidak mau saat ia bujuk kemarin malam.

Gara menghela nafas pasrah, dengan berat hati ia mengangguk.

Adryan langsung tersenyum, "Kalo gitu besok kita ke rumah sakit, ya?"

"Gak besok juga kali, pa. Cepat banget, belum juga mempersiapkan diri," jujur saja Gara benar-benar takut pasang pacemaker. Apalagi dadanya harus disayat untuk memasukkan benda kecil itu.

Perkataan Gara itu membuat Thaka dan Adryan terkekeh. Wajah Gara terlihat lucu saat mengatakannya, ekspresi wajahnya takut-takut tapi malah menggemaskan.

"Kamu takut? Udah dewasa loh, Gar. Udah mau kepala dua masa takut?!" ujar Adryan sedikit mengejek putranya sembari tersenyum jail.

"Bukannya apa nih ya, pa.. Kalo berhadapan sama hantu aja sih Gara gak masalah, gak takut. Lah ini berhadapan sama pisau bedah, kalo Gara mati karena pendarahan gimana?"

"Hush mulutnya!" Adryan tidak suka setiap putranya itu bawa-bawa kata mati. Rasanya ingin sekali menggeplak mulut putra bungsunya itu. Tapi tidak mungkin, karena Adryan tidak pernah sekalipun main fisik kepada putra-putranya.

"Hehe, Astaghfirullah.. maaf, pa!" Gara langsung menggeplak mulutnya sendiri saat melihat raut wajah sang papa yang berubah sedih karena mendengar kata mati keluar dari mulutnya barusan.

"Disayatnya sedikit aja kok, dek. Nanti kamu juga dibius, jadi gak terasa sakit," Ujar Thaka mencoba menghilangkan rasa takut adiknya.

"Abang tau dari mana kalo gak sakit? Emangnya abang pernah dibedah?" Balas Gara tidak percaya dengan ucapan sang abang.

"Nanti kita dengar penjelasan dari dokter Brian mengenai prosedur pemasangannya, ya. Setau papa sih ini termasuk operasi kecil jadi kamu gak usah takut. Kalau perlu nanti papa temani di ruang operasi, mau?" Ujar Adryan lembut.

"Emang nya boleh?" Gara merutuki dirinya sendiri yang jadi terkesan pengecut, manja, dan lemah seperti ini. Harusnya tidak boleh, apalagi ia itu seorang laki-laki. Ia juga bingung kenapa bisa sampai setakut ini, huft menyebalkan.

Adryan tersenyum, "Boleh, nanti papa ngomong ke dokter Brian. Sekarang kamu istirahat, ya. Papa mau mandi dulu. Malam ini papa tidur disini lagi temani kamu," Adryan lantas beranjak dari kasur hendak melangkah keluar menuju kamarnya.

"Gak usah di temani tidur, pa.. Gara 'kan nggak kenapa-napa!" Ucap Gara menolak.

"Gak ada bantahan, Gara!" tegas Adryan. Ia lantas membuka pintu kamar dan melangkah keluar.

Lagi-lagi Gara hanya bisa menghela nafas pasrah.

"Abang juga keluar sana! Gue udah gak apa-apa. Jangan bilang abang mau tidur disini juga?!" Mata Gara memicing menatap abangnya.

About GaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang