*Chapter 60*

1K 101 31
                                    

Gara mengerjapkan netranya perlahan. Lalu menggulirkan netranya untuk menelusuri setiap sudut ruangan.

Helaan napas keluar begitu sudah mengetahui dirinya sedang berada dimana. Gara berada di tempat yang sangat tidak ia sukai. Ya dimana lagi kalau bukan di rumah sakit.

Apalagi saat ini Gara berbaring di ranjang ruang rawatnya, seorang diri.

Seperti deja vu.

Kepalanya lagi-lagi berdenyut mengingat dirinya pernah berada disituasi seperti ini. Untungnya tepat saat itu pintu ruang rawatnya terbuka, menampilkan sosok Adryan yang melangkah masuk.

Adryan baru saja sehabis mengantar anggota keluarganya yang akan pulang. Semua anggota keluarga memang tadi berada di rumah sakit. Dari Oma, Om Davian, Tante Lina, Jerry. Bahkan Tante Cindy pun juga ada. Hanya minus Silvisya saja karna dia masih kecil tidak diperbolehkan ikut menjenguk, jadi dititipkan ke babysitter nya. Mereka tentu saja sangat khawatir dengan keadaan Gara. Makanya mereka semua berbondong-bondong ikut ke rumah sakit. Kalau saja Adryan tidak menyuruh mereka pulang, mereka pasti akan tetap berada disana sampai Gara sadar.

Adryan langsung melangkah mendekati ranjang dengan wajah panik begitu melihat Gara meringis sambil memegangi kepala.

"Kamu udah bangun dari kapan? Kepalanya sakit, ya?" Tanya Adryan khawatir. "Maaf ya tadi papa tinggal sebentar. Tunggu, papa panggilin perawat."

Gara menurunkan tangannya yang semula memegang kepala, lalu menahan tangan Adryan yang hendak menekan tombol nurse call. Kemudian menggeleng yang seolah mengisyaratkan kata 'nggak perlu panggil perawat'.

"Papa, kenapa Gara bisa disini? Kan Gara udah bilang gak mau dirawat inap." Ujar Gara mengeluarkan kekesalannya. Tapi detik setelah nya ia dibuat terkejut mendengar suaranya yang baru saja dikeluarkan. Suaranya serak, hampir hilang, tidak terdengar jelas. Tenggorokannya pun terasa sakit.

"Jangan ngomong dulu. Sakit kan tenggorokannya?" Ujar Adryan begitu melihat Gara kembali meringis.

Gara menurut, tidak mengeluarkan suaranya lagi dan menatap Adryan. Meminta penjelasan.

Adryan langsung paham, karena itu ia lah yang kembali bersuara.

"Kamu sempat gak bernapas, makanya kita bawa kamu kesini. Papa dan yang lain udah panik banget tau gak?! Kita khawatir kamu kenapa-napa. Papa takut banget tadi. Ngerasa ikutan gak bisa napas juga." Cerocos Adryan dengan wajah kusut saat mengingat kondisi putranya beberapa saat lalu. Ia sangat bersyukur putra bungsunya itu bisa diselamatkan.

"Kok bisa?" Gara bertanya dengan suara pelan sambil meraba area hidung. Baru sadar kalau dirinya memakai alat bantu napas.

Kening Adryan mengkerut, "Kamu gak ingat?"

Gara terdiam. Matanya lantas memejam, mencoba mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.

Flashback ke kejadian sebelum Gara dibawa ke rumah sakit.

Gara yang tengah berusaha menahan rasa tidak nyaman ditubuhnya itu tetap ikut membaca doa-doa bersama para tamu dan keluarga nya yang berada di ruang tamu mansion utama, tempat berlangsung nya acara pembacaan do'a selamatan mansion tersebut. Awalnya suasana terasa aman-aman saja, sampai dilanjut dengan pembacaan doa untuk meruqyah Shino.

Dipertengahan pembacaan do'a ruqyah yang masih berlangsung, Shino yang semula pingsan itu tiba-tiba terbangun dengan posisi tubuh yang langsung terduduk.

Orang-orang di sana yang mengelilingi Shino termasuk Gara dan anggota keluarganya sontak saja dibuat kaget. Namun hal itu tidak membuat mereka menghentikan kegiatan membaca doa.

About GaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang