Adryan membuka pintu, lalu masuk ke dalam kamar Gara. Putra-putra nya itu tidak ada yang bersuara padahal sebelum masuk samar-samar ia mendengar suara orang sedang mengobrol. Masa iya setan yang mengobrol, kan tidak mungkin.
"Tadi dari luar papa dengar kalian ngobrol. Kenapa sekarang diam?" Tanya Adryan penasaran apa yang tadi putra-putra nya itu bicarakan.
Gara, Thaka dan Shino saling melirik. Mereka bingung harus menjawab apa. Karena tidak mungkin mereka mengatakan nya sekarang. Apa lagi Gara belum sembuh. Sudah pasti papa nya itu tidak akan mengizinkan Gara menjadi barista.
"Emm.. itu, pa, sebentar lagi adzan Maghrib.. jadi gak boleh ribut, iya, kan?" Gara tersenyum kearah sang papa. Kemudian melirik ke arah dua Abang nya bergantian untuk meminta bantuan.
"Iya, Thaka ke kamar dulu ya, pa.. mau mandi." pamit Thaka, kemudian beranjak dari sofa dan melangkah keluar.
"Shino juga, Pa." Shino nyengir lalu berlari keluar menyusul sang kembaran.
Adryan yang melihat itu tentu saja merasa heran. Dugaan nya semakin kuat, sudah pasti ada yang di sembunyikan oleh putra-putra nya. Ia mencoba menepis rasa penasaran nya kemudian mendekat ke arah si bungsu.
"Papa sudah suruh Ajun belikan sotonya, nanti dimakan setelah sholat Maghrib, ya." Adryan mendudukkan diri di tepi kasur.
"Sekalian bareng aja pas makan malam lah, Pa.. nanggung."
"Yasudah terserah kamu. Dada nya masih sakit nggak?" Adryan ingin menyentuh baju kemeja yang Gara kenakan tapi langsung di hentikan oleh bungsunya itu.
"Udah gak sakit.. Jangan disentuh, Pa! Nanti kambuh lagi sakit nya!" Gara menjauhkan tangan sang papa yang akan membuka kemeja yang ia kenakan.
"Papa cuma mau liat dikit, gak di sentuh kok luka nya," Adryan gemas sekali dengan putra bungsunya itu. Dari saat di rumah sakit Gara tidak ingin ada yang menyentuh atau sekedar melihat bekas jahitan di dada kirinya. Alasan nya karena takut jika sampai jahitan nya itu terbuka.
Padahal tidak mungkin semudah itu terbuka karena bekas jahitan masih ditutup oleh perban. Emang dasar Gara nya saja yang terlalu parno.
"Jangan, Pa." Gara tetap kekeuh tidak ingin di sentuh.
Adryan menghela napas. "Kalau gitu papa juga mau mandi dulu, nanti kita sholat Maghrib berjamaah, ya. Tapi kamu bisa sholat nggak?"
"Insyaallah bisa, pelan-pelan." Jawab Gara sembari tersenyum.
▪️▫️▪️▫️
Seusai sholat Maghrib mereka berkumpul di ruang keluarga sembari menunggu makan malam yang masih di siapkan oleh maid. Kali ini Jerry juga ikut bergabung dan sejak tadi pandangan nya tertuju pada Gara yang tengah berbaring di sofa dengan kepala berada di pangkuan Adryan.
Netra Gara terpejam, menikmati elusan lembut dari papanya.Jerry duduk diantara Thaka dan Shino. Sesekali ia mengobrol dengan keduanya. Tapi setelah itu ia kembali menatap kearah Gara. Wajah sepupunya itu tidak sepucat seperti yang waktu ia lihat di rumah sakit.
Mungkin Gara sudah benar-benar sembuh, pikirnya."Gara tidur, Pa?" Shino bertanya karena adiknya itu sejak tadi tidak bersuara.
"Apa? Gue gak tidur, cuma merem. Kenapa? mau nawarin gue sesuatu lagi? Yang sebelumnya aja belum Lo kabulin!" Gara sendiri yang menjawab dengan nada sewot.
Shino langsung mendelik, pasalnya Gara sudah keceplosan membahas yang mereka bicarakan di kamar tadi.
"Kabulkan apa?" Nahkan Adryan langsung bertanya.

KAMU SEDANG MEMBACA
About Gara
General FictionTentang Gara menghadapi kekurangan dan kelemahan nya. 📢 Warning! - Ini cuma cerita fiksi ya! Jadi jangan terlalu dianggap serius! Buat hiburan aja! Ambil sisi baik nya, buang sisi buruk nya, okey! 💙😽