Setelah sekian purnama, akhirnya Adryan mengizinkan Gara dan juga Shino untuk bekerja di cafe. Tapi tentu ada syaratnya.
Tanpa pikir panjang Gara dan Shino langsung mengangguk saja. Yang penting sudah mendapat izin. Masalah syarat dipikirin belakangan.
"Emang syaratnya apa, Pa?" Shino yang bertanya.
"Sebenarnya syarat ini lebih buat Gara sih." Jawaban Adryan membuat Shino lantas menoleh ke arah sang adik yang duduk di sebelahnya.
"Buat lo, Gar.. ternyata wkwkwk!" Ujar Shino sembari tertawa. Gara langsung mendengkus.
"Gara udah tau! syarat nya pasti gak boleh terlalu capek, gak boleh angkat-angkat, gak boleh dekat benda yang ada magnet. Ya, kan?" Tebak Gara. Pandangan nya lurus menghadap Adryan yang duduk di sofa.
"Papa tenang aja.. masalah angkat-angkat, 'kan nanti ada bang Shino yang angkatin." Lanjut nya dengan santai.
"Heh! Enteng banget lo ngomong!" Shino mendelik, tapi kemudian ia berkata lagi,"oke deh gak pa-pa, demi adek tersayang. Apa sih yang enggak?!" Kata nya sambil mencubit pipi sang adik.
"Sakit goblok!" Gara mengaduh sambil mengusap pipi nya. Cubitan Shino lumayan keras. Sekarang pipinya pasti jadi memerah.
"E-eh kekencangan, ya.. gue nyubit nya? Sorry!" Ucap Shino merasa bersalah.
Thaka yang melihat itu tentu saja langsung membalas dendam untuk adiknya. Ia mencubit Pipi Shino dengan keras. Sampai membuat si empunya mengerang nyaring.
Sembari masih mengusap pipi, Gara tertawa melihat ekspresi abangnya yang kesakitan. Bukan hanya pipi Shino yang memerah tapi seluruh wajahnya.
Tumben kali ini Adryan tidak mencoba menghentikan putra-putra nya. Padahal ia paling tidak suka melihat anak-anaknya saling menyakiti dan berkata kasar. Mungkin Adryan sudah terlalu lelah melihat tingkah mereka yang seperti anak kecil itu. Ia hanya menghela napas sambil menggelengkan kepala. Kemudian beranjak dan berjalan keluar kamar. Membiarkan putra-putra nya bergelut di dalam sana. Selagi tidak melampaui batas, tidak apa-apa. Putra-putra nya sudah dewasa, mereka pasti tahu mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
◾◾◾◾
"Gar! sini gue liatin foto cafe tempat kita kerja nanti!" Shino memanggil adiknya agar mendekat. Mulai hari ini Shino resmi berhenti kerja di perusahaan sang papa. Sekarang ia dan Gara tengah bersantai di ruang keluarga.
Di mansion hanya ada Oma, Tante Lina, dan mereka berdua saja. Anggota keluarga nya yang lain sedang sibuk dengan urusan masing-masing, tak terkecuali Jerry. semenjak kuliah pemuda itu semakin jarang terlihat.
Gara yang semula sedang bercengkrama dengan Juju di atas karpet berbulu lantas menghampiri Shino dan duduk di sebelah Abang nya.
Shino menunjukkan sebuah foto bangunan dalam cafe pada Gara.
"yang punya cafe ini teman gue, nama nya Dani," Shino menggeser foto di handphonenya, memperlihatkan lebih banyak foto mengenai cafe milik salah satu temannya.
"Itu cafe yang dulu Lo pernah kerja?" tanya Gara.
"Iya, pokok nya tuh cafe bagus banget. Tempatnya nyaman. Lo pasti suka."
"Yaudah, ayok kita kesana, gue pengen liat!" Ajak Gara antusias.
"Gak sekarang juga, ogeb. Lusa kita kesana. Soalnya ini si Dani lagi ada di luar kota."
"Ya gak pa-pa. Gue pengen lihat-lihat dulu. Cafe nya buka aja 'kan hari ini?"
"Buka sih. Tapi ini 'kan lo udah liat." Ujar Shino sambil menyodorkan handphone nya.

KAMU SEDANG MEMBACA
About Gara
General FictionTentang Gara menghadapi kekurangan dan kelemahan nya. 📢 Warning! - Ini cuma cerita fiksi ya! Jadi jangan terlalu dianggap serius! Buat hiburan aja! Ambil sisi baik nya, buang sisi buruk nya, okey! 💙😽