57

121 7 0
                                        

Angin berhembus pelan dengan beberapa dedaunan kering berjatuhan. Binar masih nyaman bersandar di bahu Dirga. Banyak hal selama yang membuat mereka renggang.

" Kak Dirga masih sakit ya " ujar Binar menatap mata Dirga.

" Sedikit "

" Kata dokter kak Dirga harus operasi supaya sembuh total, gimana kalau Binar aja yang donorin paru-parunya supaya kak Dirga cepet sembuh "

" Kok bilangnya gitu, kak Dirga baik-baik aja kok. Lagian kakak nggak mau kamu lakuin itu semua " respon Dirga meski memang dokter menyarankan untuk operasi namun Dirga menundanya, ia ingin meluangkan waktunya kali ini untuk Binar. Jujur ia pun tidak tau apa yang akan terjadi kedepan jika rasa sakit terus mengawasi dirinya, setidaknya waktu kebersamaan dengan Binar akan selalu menjadi kenangan.

" Kenapa ?" Tanya Binar heran.

" Nggak mau lihat kamu sakit, biar kak Dirga aja yang nanggung sakit "

" Ihh jangan ngomong gitu, janji ya kak kalau ada apa-apa bilang. Binar nggak mau kak Dirga sakit " ujar Binar yang memang mengkhawatirkan kondisi Dirga pasca pulang dari rumah sakit.

" Iya-iya Binar Amalthea "

" Ouh ya tumben kamu nggak main sama Yura, sea, lentera juga ?" Tanya Dirga.

" Hmm nggak apa-apa " jawabnya lesu.

" Jawab jujur Binar "

Binar menghela nafas panjang, ia tau Dirga pasti akan menanyakan hal itu kepadanya.

" Karena masalah waktu itu di kampus "

" Yang sabar ya " Dirga kembali mengingat betapa pedihnya hati Binar saat semua orang membully, tapi gadis itu selalu berusaha terlihat baik-baik saja bahkan didepannya.

Binar mengangguk pelan, rasanya ia sangat bersyukur Dirga ada di sampingnya saat keadaan membuatnya hampir menyerah.

" Kak, soal kak Raka gimana ? "

Dirga menggeleng " Belum tau, semenjak ada berita itu Raka nggak ada kabar "

" Padahal kak Raka itu banget loh, dia sering bantuin aku dan selalu ada jika aku sedang butuh bahkan udah aku anggap seperti kakakku sendiri " ujarnya membuat Dirga merasa cemburu.

" Ouh jadi selama ini lebih milih Raka timbang kak Dirga ?" Tegasnya.

" Ciee cemburu ya hehe " celetuk Binar.

" Yaudah kamu tinggalnya sama Raka aja sana katanya pingin jadi adiknya kan ?" Sindirnya.

" Ihhh kak Dirga kok gitu aku cuma bercanda loh, kakak itu tetap jadi kesayangannya Binar " cubit Binar tepat di hidung Dirga.

Binar tahu Raka memang pribadi yang baik, meski pada kenyataannya Raka merupakan anak pemilik yayasan kampus tapi Raka tetap sederhana dan tidak ingin dikenal banyak orang tentang statusnya. Ia sudah menganggap Raka seperti kakaknya sendiri. saat-saat dirinya dan Dirga sedang tidak baik, Raka selalu hadir menjadi penengahnya.

Saat sedang menikmati waktu bersama tiba-tiba ada telepon berdering di saku Dirga, tertera nama pak dewa disana.

" Siapa kak ?"

" Pak dewa " jawabnya lalu langsung mengangkat telponnya.

* Iya pak dewa ada apa ?*

* Ada kabar baik, ada
Beberapa bukti dan saksi
Yang akan akan menjadi
Penguat di pengadilan
Nanti *

Ekspresi Dirga berubah dengan mengukir senyum.

* Syukurlah kalau gitu pak dewa,
Saya benar-benar terimakasih
Atas bantuannya selama ini*

KALAN [ SELESAI ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang