Bagian 22 : Keributan 2

2K 57 0
                                        

Selamat hari Senin!
Oh, Ya Tuhan, telat update lagi. Emang kalau sudah capek, otak itu nggak bisa bekerja.

I'am so sorry dear.

Okew, let's read it!

---

Chareline Violette mendudukkan dirinya di ruanh tengah, matanya mengamati seorang pria yang baru saja masuk kedalam rumah. Pria itu menuci pintu dan memasukkannya kedalam saku. Batu ingat jika suaminya pergi bersama sang anak. Namun, Vio tidak melihat sama sekali anak Argantha Liem.

Vio segera menghampiri suaminya, "Argan, dimana Seren? Dia nggak pulang sama kamu?" Tanya Vio.

"Sayang, jangan bukakan pintu buat Seren." Kata Argan, melanjutkan langkahnya menuju lift.

"Kenapa?" Heran Vio. Argan tidak menjawabnya, pria itu terus berlalu pergi dari hadapan Vio. "Argan," panggil Vio dengan menahan lengan pria itu. Argan melepas tangan Vio.

"Aku ke kamar dulu, aku lelah, Vio."

Vio mengernyitkan alisnya, "Argan." Panggil Vio lagi, tetapi pintu lift sudah tertutup.

Vio pun mulai bingung apa yang terjadi dengan Argan dan Seren. Pikiran negative nya semoga saja tidak terjadi apapun. Vio menghampiri jendela rumahnya, hanya nampak satpam rumahnya yang masih duduk di pos satpam.

"Dasar Argan, kenapa sampe dikunci segala." Kesal Vio, tangannya menarik handle pintu tetapi tidak bisa ia buka. Mencari kunci cadangan, terbersit di pikirannya tetapi mau mencari dimana ia pun bingung. Meminta pada asisten rumah tangganya, Rini mungkin sudah tidur di jam sepuluh malam ini. Salah satunya adalah meminta dari Argan. Vio pun segera menuju kamarnya.

Perasaannya mulao khawatir, Argan tidak pernah berperilaku seperti tadi. Sangat cuek pada dirinya, bahkan seperti ingin menyendiri.

Sesampainya di depan kamarnya, ia mulai membuka pintu kamar dengan pelan. Nampak, pria yang masih mengenakan setelan kemeja kerjanya gengah membenamkan diri pada ranjang. Sangat tenang seperti sudah tidur.

Vio pun dengan berhati-hati menghampiri suaminya. Ia mulai duduk di pinggir ranjang. "Sayang, Seren belum pulang, kan. Kenapa pintunya dikunci." Ucap Vio dengan hati-hati.

"Biarkan saja, Vi. Aku sengaja."

"Tapi Seren nggak bisa masuk nanti, berikan kuncinya, Argan."

"Vio, kenapa kamu peduli sekali dengan Seren." Kesal Argan. Matanya mulai menatap tajam pada Vio.

"Dia anakmu, anakku juga." Jawab Vio. Argan justru memalingkan wajahnya. "Berikan kuncinya padaku, Argan. Aku nggak mau Seren sampai sakit menunggu semalaman di luar." Bujuk Vio.

Namun, bukan sebuah kunci yang ia berikan, tetapi Argan mendorong Vio untuk merebah. Pria itu pun langsung menindih wanita itu. Di ciumnya dengan brutal, tetapi Vio segera menghentikannya. Tangannya meraih kepala Argan.

"Argan, hentikan. Bukan saatnya seperti ini. Berikan kuncinya padaku." Geram Vio. Namun, Argan mengabaikan ucapan Vio. Pria itu mulai memajukan wajahnya lagi tapi dengan siap wajah Vio berpaling dari wajah Argan.

"Vi," panggil Argan. Vio tidak menolehkan wajahnya.

"Argan, berikan kuncinya." Kata Vio. Argan pun mendenguskan nafas dengan kesal. Pria itu tidak mengambil kunci di dalam sakunya, ia justru tidur merebah sembari memejamkan matanya.

Vio yang kesal pun langsung mengambil kunci tersebut. Tangannya mulai menyusup kedalam saku celana Argan. Setelah mendapatkannya, ia pun segera pergi dari kamar dan meninggalkan Argan yang mungkin kesal pada dirinya.

Your Daddy is MineCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang