Bagian 38 : Cemburu?

1.3K 43 0
                                        

Argan yang berada di sebuah meeting besar itu mulai tidak fokus. Tentu saja, ia khawatir jika Vio menemui Arya Gavino. Pikirannya pun terus berputar-putar antara mereka berdua. Argan merasa jika dua orang itu memiliki hubungan. Benar saja, jika tidak ada hubungan kenapa Vio sampai mengunjungi pria itu dan memyembunyikan semuanya dari Argan.

"Pak Argan, apakah anda sedang sakit? Sejak tadi tidak fokus." Tanya Ravi yang duduk di sebelah pria itu. Pria itu mengamati Argan yang terus memijat-mijat keningnya dan tidak memperhatikan seseorang yang tengah berpresentasi didepan.

"Ah, sedikit." Jawab Argan, pria itu mulai memfokuskan lagi. Namun, semuanya tidak semudah itu. Argan pun terpaksa mengundurkan diri dari rapatnya. "Ravi, aku akan ke rumah sakit. Rapat ini aku serahkan padamu."

"Biar saya hubungi Rifan untuk mengantar anda, pak."

"Tidak perlu." Kata Argan. Pria itu membangkitkan dirinya dari kursi kebesarannya dan mengeluarkan diri dari ruangan rapat. Ravi pun langsung menghentikan presentasi dan berucap bahwa pimpinan mereka izin keluar dari rapat untuk memergikan diri ke rumah sakit.

Sebenarnya Argan tidak berniat pergi ke rumah sakit, pening di kepalanya bahkan tidak parah. Pria itu hanya ingin menghirup udara segar agar otaknya dapat mencerna dengan positive. Dan, ia ingin jawaban yang sebenarnya ada apa antara Vio dan Arya.

*

Pria itu mulai berjalan mengeluarkan diri dari dalam Li Corporation. Ia mulai berjalan sembari mengedarkan matanya mencari mobil miliknya. Ia mulai berjalan menuju mobilnya yang sudah berhenti di depan gedung tinggi tersebut.

"Selamat siang, tuan."

Argan pria itu hanya menjawab dengan kata "hm" saja, pria itu mulai mengambil kunci mobilnya dan mendudukkan dirinya di tempat mengemudi. Dilajukannya mobil itu pergi dari Li Departement.

"Arya Gavino," gumam Argan.

Peristiwa sepuluh tahun itu membuatnya pening. Peristiwa dimana sebuah kecelakaan yang menewaskan tiga orang. "Well Argan, lo harus tanya sama Vio tentang siapa Arya Gavino itu." Kata Argan. Ia terus melajukan mobilnya, tetapi pandangannya bertemu dengan sesosok wanita yang baru saja memasukkan dirinya kedalam mobil.

Argan pun segera menepikan mobilnya. Matanya mengamati wanita itu. Entah apa yang wanita itu lakukan di apartement Dermond itu. Tentunya sebuah apartement yang sempat menjadi tempat tinggal wanita itu beberapa bulan lalu.

Pria itu mulai memutar setirnya dan mengikuti mobil yang sudah melaju pergi dari apartement Dermond.

Setengah jam berlalu, mobil pun di hentikan. Argan mengamati sebuah rumah sakit di depannya. Rumah sakit Arcyu yang sempat Tristan katakan saat bertelephone kemarin. Argan pun siap menurunkan dirinya dan mengikuti wanita yang sudah masuk kedalam itu.

"Dia menjenguk temannya lagi?" Gumam Argan bertanya-tanya. Langkahnya ia hentikan ketika wanita itu, Chareline Violette bertemu dengan seorang dokter di sebuah lorong.

"Siang Vio, nona Clavita sudah menunjukkan progres yang bagus dalam 24 jam ini."

"Syukurlah. Vio sangat berharap dia cepat sadar, dok."

"Bersabarlah. Kondisinya sudah normal dan kita hanya bisa menunggunya."

Vio tersenyum, matanya mulai mengintip pada sebuah kaca di pintu. "Kau sedang hamil?" Tanya dokter itu, Dokter Choi.

"Ah, iya dok, sudah delapan bulan." Jawab Vio.

"Padahal dulu kamu masih kecil tapi sekarang kamu sudah sebesar ini dan pastinya sudah menikah, kan."

Vio tersenyum, malu. "I'am sorry tidak undang dokter saat Vio menikah."

"No, problem." Kata Choi.

Namun, sebuah tangan mendarat pada pergelangan tangan Vio. Gadis itu pun terkaget. Argantha Liem menggandeng dirinya. Namun, wajahnya datar. Jangan bilang jika Argan cemburu, pikir Vio. "Argan, kenapa disini?"

"Kenapa?" Tanya Argan, dingin. Matanya menatap tajam pada pria yang seumuran dengan dirinya.

Vio hanya mencebik kesal, "Dokter Choi, dia suami saya, Argantha Liem."

"Pimpinan Li Corporation?" Tanya Choi agak terkejut. Pria duda dan sudah memiliki anak, kini menikahi seorang Chareline Violette. Yang bagi dokter Choi, Vio adalah gadis remaja biasa.

"Benar." Jawab Vio.

"Sudah ngobrolnya? Ayo kita pulang." Ajak Argan, tangan Vio pun ditarik pria itu begitu saja. Vio pun hanya pasrah mengikuti langkah Argan kemana ia melangkah pergi.

Sebelum memasukkan dirinya pada pintu lift, Vio melambaikan tangannya pada Choi. "Aku bisa mengantarmu kesini, kan." Kata Argan, setelah benar-benar masuk kedalam lift.

"Vio nggak mau ganggu kamu, lagian hari ini kamu ada meeting, kan."

"Setidaknya beritahu jika mau kesini. Dan, ngapain sering banget jenguk teman kamu." Kesal Argan, nafasnya ia hela dengan kasar. "I don't like. Kalau mau pergi harus ijin dan harus aku yang antar, kamu sudah berjanji kemarin." Tambahnya.

Vio justru terkekeh mengamati suaminya. Pintu lift pun terbuka, mereka mulai berjalan mengeluarkan diri dari Rumah Sakit Arcyu. "Pak, pulang duluan saja, aku akan pulang dengan Argan." Kata Vio ketika mendapati sopir pribadinya berdiri di sebelah mobil.

Argan dan Vio pun mulai memasukkan dirinya ke dalam mobil. "Argan, kenapa sekarang suka marah-marah? Kamu cemburu?" Tanya Vio. Argan tidak menanggapi pertanyaan Vio, ia justru menancapkan gas mobilnya.

"Kamu cemburu, kan?" Tanya Vio tiba-tiba membuat Argan menghela nafasnya lagi. "Cemburu, kan?"

"Violette, bisa diam, kan."

Vio pun diam, ia tahu jika suaminya cemburu dengannya. Jantung Vio pun semakin berpacu, rasanya ia ingin menggoda suaminya lagi tetapi ia urungkan. Ia tahu jika Argan tidak main-main dengan kekesalannya.

---

[01-01-2023]

Your Daddy is MineCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang