Bagian 23 : Surut

1.9K 59 7
                                        

Seren membuka pintu kamarnya dengan malas, berharap orang yang ia tunggu sudah di datang. Namun, sayangnya bukan. "Sudah siang, kamu belum makan, Se." Kata Chareline Violette.

Wanita itu pun masuk kedalam mengikuti Seren. Gadis yang sudah mendudukkan dirinya di ranjang kembali. "Taruh saja disitu, nanti aku makan." Kata Seren.

Vio pun meletakkan sarapan pagi itu di atas meja. Setelah selesai, ia tidak beranjak dari tepatnya. Masih berdiri sembari menatap Seren. "Kalau sudah keluarlah, aku mau istirahat." Timpal Seren. Wanita itu justru mendudukkan dirinya di samping Seren.

"Se, aku mau tanya lagi. Apa yang terjadi antara kamu dan ayahmu?"

"Aku udah bilang, tanya saja pada ayah." Geram Seren.

"Aku udah tanya pada ayahmu, dia bilang suruh bertanya padamu." Balas Vio, lalu ia mencebik. "Se, kalau terus seperti ini, masalahnya nggak akan selesai-selesai."

"Emang nggak perlu lagi di selesaikan, Vi. Sepertinya ayah juga senang kalau aku ikut mama dan nggak muncul lagi di depan kalian."

"Fuck Argan!" Gumam Vio, mengutuk dengan kesal. "Se, ayahmu tidak mungkin menginginkan seperti itu. Dia hanya marah jadi ucapannya nggak terkontrol. Ya, memang menyakiti hatimu, kan."

"Pergi saja Vi kalau mau ceramah."

"No, aku nggak ceramah."

"Pergi!"

"No its not! Please, cerita denganku. Apa masalahnya?"

Seren mulai bangkit berdiri dan menarik tangan Vio. Ia tarik dengan paksa dan mengeluarkan Vio dari kamarnya.

*

Sore sudah tiba, Vio mencoba lagi masuk kedalam kamar Seren. Lagi-lagi, Seren akan menutup pintu kamarnya tetapi ia segera menahannya dengan kuat. Sampailah, ia pun bisa masuk kedalam.

Terkagetnya, sebuah sarapan pagi masih tertata rapi di atas meja. "Se, kenapa kamu tidak makan?"

"Aku tidak lapar."

Vio pun menghampiri Seren yang sudah menggelung pada selimutnya. Tangannya meraih dahi Seren, panas. Terlihat wajahnya sembab dan bibirnya pucat.

"Se, makan dong. Badanmu panas, aku nggak mau kamu sakit."

"Biarin Seren sakit."

"Seren,"

"Jangan beri Seren obat, apalagi bawa Seren ke dokter. Biarin aja Seren sakit, dengan begini Seren bisa nyusul mama daripada...," ucapannya terhenti sejenak, Vio pun menanti aoa yang dilanjutkan Seren. "Bunuh diri."

"What the hell! Apa yang kamu ucapin." Geram Vio.

Seren diam, "Seren, pleas wake up, kamu makan dan setelah itu minum obat, oke." Bujuk Vio. Tangannya meraih selimut Seren dan meranik gadis itu untuk duduk.

Tubuhnya sudah lemah, ia pun tidak mengelak dengan perlakuan Vio. Dengan keheningan, Seren mulai memakan sarapan Sore dan obat penurun demam.

"Thanks, Vi. Kamu bisa pergi sekarang."

Vio tidak beranjak dari duduknya. Ia mulai berbicara, "Se, cerita saja denganku. Jangan dipendam sendiri. Kemarin, kenapa?"

Seren diam, "Se, cerita saja. Seperti dulu waktu kita masih berteman. Aku ingin kita seperti dulu, tanpa ada canggung."

"Aku juga ingin begitu tapi semuanya tetap saja, rasanya aneh."

"Ya aneh, anak kecil seperti ku jadi mamamu, benar kan."

Seren diam, memang benar batin Seren. "I'am sorry, tapi semuanya juga sudah terlanjur. Aku tidak akan mengakhiri hubungan ini, aku sedang hamil."

Bats!

Segelenyar tidak terima dihati Seren muncul. Bibirnya tersenyum. "Selamat, Vi."

"Jadi, apa yang terjadi kemarin?"

"Aku ingin istirahat dulu Vi, aku mau tidur."

"Ah, ya. Istirahatlah."

Seren pun beranjak dari duduknya dan segera oergi dari hadapan Seren. Perasaan seperti bersalah mulai muncul. Seharusnya ia tidak mengatakan sekarang jika dirinya sedang hamil.

*

Vio memasuki kamarnya, tidak biasanya ia melihat sang suami suda tidur padahal jam masih menunjukkan pukul delapan malam. Terlalu dini untuk Argan tidur lebih awal, biasanua pria itu sampai tengah malam.

Vio mulai duduk di pinggi ranjang. Tangannya menarik selimut sampai pundak Argan. Matanya kini mengamati wajah Argan dengan lekat-lekat. Terlihat tenang, tidak seperti kemarin, datar dan sangat tegas. Refleks tangan Vio mengangkat, membelai kepala suaminya dengan lembut.

"Sejak pagi aku baru melihatmu." Gumam Vio. Benar, sejak bangun tidur Vio mendapati Argan sudah mengenakan setelan kerjanya. Lalu, pukul 06.00, ia pamit pada istrinya untuk berangkat bekerja.

Vio mulai mendekat pada kening Argan, bibirnya mengkecup sekilas. Namun, hidungnya yang kini berubah menjadi tajam terhadap penciumannya, Vio pun memeriksa sekali lagi. Bau rokok, sangat kentara di tubuh Argan. Baru kali ini ia mencium bau rokok di tubuh Argan.

"What are you doing?" Tanya Argan, Vio mati kutu. Ia segera menegakkan tubuhnya..

"A-ah, Vio hanya lagi cium bau sesuatu aja. Kamu pasti belum mandi, kan."

"Hm, aku capek mau langsung tidur aja."

"Yaa, tidurlah." Kata Vio. Ia mulai merebah pada ranjang dan menarik Argan untuk tidur kedalam pelukannya. "Good night."

"Hmm," jawab Argan.

Mereka pun hening, hanya Vio yang masih membuka matanya dan terus membelai kepala Argan. Selang beberapa detik, Vio merasakan dadanya tiba-tiba basah. Apa ini? Apa Argan menangis? Pikir Vio.

"Sayang," panggil Vio. Tidak ada balasan dari Argan.

Vio mulai khawatir, ia menarik kepala Argan untuk melihat wajahnya apakah benar pria itu menangis atau tidak. Namun, Argan kuat dan tetap menyembunyikan wajahnya pada dada istrinya..

Vio pun membiarkannya terlebih dahulu. "Sayang, apa aku sangat keterlaluan sama Seren?" Tanya Argan, tetap menyembunyikan wajahnya. Suaranya serak, benar Argan mengis.

"Ah, yaa. Dia terus bilang, dia mau menyusul mamanya."

"Yaa, seharusnya aku tidak mengatakan hal itu. Aku nggak mau Seren ikut pergi ninggalin aku selamanya."

"Besok temui dia dan minta maaf padanya."

"Hmm."

"Argan, jadi apa yang terjadi sebenarnya?"

"Jadi, kemarin dia mengacaukan rapatku, Vi." Jelas Argan. "Rapat itu penting, tapi kenapa di kacaukan. Dan lagi, dia memberantaki berkas-berkas kerja dan menyiramnya dengan Air. Kau tahu itu penting."

"Kenapa Seren berbuat sampai seperti itu?"

"Hanya aku tidak menepati janjinya, dia sampai berbuat tidak sopan."

"Kau tahu, Seren sangat membutuhkanmu saat ini. Dengan kedatanganku kesini, Seren belum menerimanya jadi dia bersikap seperti itu." Kata Vio.

"Argan, sesekali buat quality time dengan Seren ya." Ucao Vio. Tangannya terus memberlai rambut dan punggung Argan.

"Seren sakit, dia nggak mau makan, tububnya panas tapi sudah aku beri obat tadi." Kata Vio. Sepercik rasa bersalah pada hati Argan pun muncul. Argan terus diam.

"Aku sangat meyesalinya, Vi. Maaf."

"Jangan pernah membentak Seren lagi ya sayang."

"Hmm." Jawab Argan.

*

[2022, 21 November]

Your Daddy is MineCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang