Bagian 42 : Clavita

1.2K 50 0
                                        

Hanya perjalanan lima belas menit itu, kini Vio sudah berjalan memasukkan diri kedalam ruang inap Lavender 03. Ruang inap dengan fasilitas yang tidak seperti VIP tetapi hanya memiliki satu bed di ruangan tersebut.

"Dokter Choi," panggil Vio.

"Clavita sudah sadar, kami sedang melatih dia pergerakan-pergerakan sedikit." Kata Choi.

Vio tersenyum menatap wanita berambut panjang yang tengah mendudukkan dirinya setengah duduk. "Hai, Clavita. Aku Vio."

"Vio?" Tanya Clavita, bibirnya masih berucap dengan lemah.

"Benar." Jawab Vio.

"Namaku Clavita?" Tanya Clavita. Vio pun sontak menatap Choi.

"Nona Clavita belum mengingat semuanya karena penyebab koma yang panjang. Tapi jangan khawatir Vi, perlahan dia akan mengingat lagi."

Vio menghela nafas leganya. "Clavita, kita berteman." Clavita pun menganggukkan kepalanya dengan perlahan.

"Clavita, istirahat ya. Besok kita lakukan terapi pertama."

"Iya dokter."

Dokter Choi dan para perawat pun mengeluarkan dirinya dari dalam ruangan Lavende 03. Vio mulai mendudukkan dirinya di pinggir ranjang. "Mau minum?" Tawar Vio.

"Boleh."

Vio pun mengambilkan segelas air putih dan meminumkannya pada Clavita. "Sudah berapa lama aku koma, Vio?"

"Sekitar sepuluh tahun." Jawab Vio, matanya mengikuti mata Clavita yang memandangi perutanya.

Vio tersenyum, "Aku sedang hamil."

Clavita tersenyum. Namun, senyuman Clavita mengingatkan Vio pada seseorang. "Sebentar Clavita, ada telephone." Kata Vio. Ia bangkit dari ranjang dan memergikan jauh dari arah Clavita.

"Halo, Se." Sapa Vio.

"Daren ternyata kuliah di Canada juga, mumvi."

Vio menghela nafasnya, "kamu telfon hanya kasih info daren kuliah gitu."

"Iya, tapi mumvi baik-baik, kan? Baby pasti sudah gede." Kata Seren. Vio pun mengarahkan kamera pada sebuah kaca besar yang menampakkan tubuhnya.

"Aw makin gemoy aja." Kata Vio.

"Ya udah, aku tutup dulu ya. Aku lagi jenguk temen di rumah sakit." Kata Vio, panggilan pun terputus.

"Maaf Clavita, tadi anak saya telfon."

"Tidak apa-apa."

"Istirahatlah, aku akan pergi ke administrasi dulu." Kata Vio, ia pun memergikan diri dari ruangan tersebut.

*

"Mba, tagihan atas nama Clavita." Kata Vio.

"Saya dengar Clavita sudah sadar bu Vio." Kata seorang perempuan yang tengah mengotak-atik komputernya.

"Benar," jawab Vio, senyumnya ia edarkan.

"Kekurangan yang beluk dibayar 10 juta, bu."

Vio pun menyodorkan kartu ATM nya pada wanita di depannya. Tidak lama, ia pun memberikan kartu ATM dan beberapa lembar kertas pada Vio. "Semoga Clavita cepat pulih ya bu Vio."

"Thankyou." Kata Vio.

Baru saja ia membalikkan badannya, tiba-tiba seorang pria mengagetkannya. Pria itu mulai berdiri di sebelah Vio.

"Sore, Vi. Lagi ngapain disini?" Tanya pria itu, Tristan.

"Nggak liat lagi di ruang administrasi?"

"Yaya, liat kok."

"Ya udah, gue pergi dulu." Kata Vio, ia berjalan meninggalkan Tristan berada. "Tristan! Jangan bilang Argan aku disini." Lanjut Vio, ia melajukan langkahnya lagi.

"Dokter Tristan kenal Vio?" Tanya wanita administrasi.

"Ya, dia istri teman saya."

"Tau nggak kalau kakaknya yang koma sepuluh tahun itu sudah sadar."

"Kakak?"

"Iya kakaknya, Clavita."

Tristan hanya mengernyitkan dahinya, ia sangat bingung dengan ucapan wanita di depannya itu. Setaunya, Vio tidak memiliki saudara kecuali tante Lodya. "Em, di ruang mana Clavita?"

"Lavender 03."

Tristan pun menganggukkan kepalanya. Ia mulai berjalan menyusul Vio yang sudah tidak terlihat lagi. Ia pun segera menuju ke ruangan Lavender 03. Ruangan yang berada di lantai lima itu pun membuat Tristan cepat sampai ke ruangan tersebut.

Diketuknya pintu itu dan Tristan mulai masuk kedalam. "Tristan, ngapain kesini? Udah masuk nggak ketuk pintu lagi." Ucap Vio. Pria bersneli putih itu hanya terpaku menatap wanita yang tengah duduk menyandar.

Mata Tristan membelalak, tidak menyangka-nyangka siapa wanita itu. "C-cl-cl," ucapanyya susah sekali ia ucapkan.

"Clavita, dia teman yang udah Vio anggap seperti kakak sendiri." Kata Vio. Tangannya mendorong Tristan yang terus mematung. Dikeluarkannya pria itu dari ruangan Lavender 03.

"Kak Tristan!"

Panggilan Vio menyadarkan Tristan. "Ah, V-vi, dia Clavita?"

"Iya."

"Pusing gue, gue balik dulu ya." Kata Tristan, pria itu mulai memergikan dirinya dari hadapan Vio begitu saja. Vio pun hanya bisa bingung sendiri mengamati tingkah Tristan.

*

16/04/2023

*

Hayolohhh Tristan, Clavita siapanya luuu?!

Your Daddy is MineCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang