Bagian 54 : Curiga 3

854 41 0
                                        

Selamat Hari Minggu

Kayak lama ga update haha maap gess
Kemarin-kemarin sakit jadi harus istirahat full. Aku juga sampe ijin ga masuk kerja gess hmm sampe rasanya rindu banget masuk kerja

Tapi, sekarang udah membaik kok. Mau kejar update an Your Daddy is Mine harus selesai di bulan Agustus.

Oke see u, silahkan dibaca gesss

***

Malam itu, seorang wanita tengah mengaduk-aduk sebuah sup di dalam panci. Sembari terus mengedarkan senyumnya, ia melirik-lirik pada wanita yang tengah memotong wortel di atas talenan.

"Nyonya akhir-akhir ini sudah mulai tersenyum lagi. Apa perkembangan anak nyonya sudah membaik?" Tanya Rini, Vio pun tersenyum.

"Iya, miss. Logan sudah ada perkembangan, kata dokter beberapa hari lagi sudah boleh pulang."

"Logan?"

"Nama anak Vio. Logan Nathane Liem."

"Pasti tampan sepert Pak Argan."

"Miss Rini ini, boleh lah tampan mirip ayahnya tapi jangan dengan sifatnya." Ujar Vio. Ia menyerahkan potongan wortel itu pada Rini. Rini mengambil talenan itu sembari tertawa. Lalu memasukkan wortel kedalam sup panas tersebut.

"Tuan agresif, kan."

Vio mengernyitkan alisnya. "Maaf, tadi pagi tidak sengaja lihat." Lanjut Rini.

"Li-lihat? Vio ke ruang makan duli ya miss." Ucap Vio, rasa malunya kentara saat ini. Ia pun segera memergikan diri dari hadapan Rini. Ia mulai berjalan sembari memaki Argan.

"Vio kan udah bilang ini di rumah. Ngeselin banget. Untung misa Rini kalau merek gimana." Gumam Vio, matanya bertemu pada Clara dan Seren yang tengah berjalan ke ruang makan.

"Hai Vi, abis masak?" Tanya Clara.

"Hanya membantu sedikit." Jawab Vio.

"Mama, Vio itu suka bantu-bantu miss Rini kalau lagi masak. Biasanya juga Vio yang masak." Kata Seren.

"Wah, pintar kamu Vi. Lain kali ajari aku masak."

Vio menganggukkan kepalanya dengan ragu, entah ia bisa mengajarinya atau tidak. Duduk berhadapan dengan Clara rasanya muak apalagi ia harus mendekatkan diri dengan Clara.

Tiba-tiba, rasa hawa dingin itu menerpa pada kulitnya. Shift dress whait yang ia kenakan berkibar-kibar. Matanya pun berkeliling mengamati seluruh ruangan. Ada apa? Pikirannya mulai kacau.

"Vi, kapan-kapan kenalin suami dan anak-anak kamu, ya." Kata Clara, tetapi tidak di hiraukan oleh Vio. Vio terus mengedarkan matanya, kini menemukan sebuah jendela kaca, nampak pohon di taman itu berkibar-kibar.

"Vi," panggil Seren. Vio tidak peduli lagi. Ia terus menatap luar jendela.

"Vio, kamu baik-baik saja?" Tanya Clara.

"Se, anginnya besar ya." Ucap Vio, Dua wanita di sana pun mengikuti arah pendang Vio.

"Iya ya, harusnya sudah musim kemarau."

Vio mengalihkan pandangan dari arah jendela, ia mencoba memfokuskan pada peralatan makan di depannya. Namun, tiba-tiba saja hujan deras mulai mengguyur. Dada Vio kian sakit, keringat dinginnya pun keluar, jantungnya terus berpacu dengan kencangnya.

"Vi, kamu nggak papa?" Tanya Clara lagi. Vio terenyum, ia menggelengkan kepalanya.

"Vio tidak apa-apa. Vio masuk kamar dulu ya."

"Makan dulu Vi." Ajak Clara.

"Tidak, Vio nanti saja." Kata Vio. Ia bangkit berdiri, kakinya yang lemas ia tahan agar tidak ambruk di hadapan mereka.

Tiba-tiba, gelegar petir bersambaran. Vio pun terkaget sampai tangannya memdorong meja hias berisi vas kaca empat dimensi itu pun tergeletak pecah berhamburan di lantai.

Seren dan Clara siap memburu Vio, "Vi, kamu yakin tidak apa-apa?" Tanya Clara. Dua wanita itu terus mengamati Vio yang menutup telinga kanannya.

"Ah, maaf." Kata-kata yang terlontar di bibir Vio, bibir gemetarnya kentara.

"Aku antar ke kamar ya."

"Nggak, biarkan Vio sendiri saja." Vio menekan tombol lift dan mulai masuk kedalam.

"Vio kenapa?" Tanya Clara.

"Nggak tahu, ma." Jawab Seren. Mereka berdua pun langsung membalikkan tubuhnya untuk mengembalikan diri ke ruang makan. Namun, baru saja ia berlaik, seorang pria berlari ke arahnya.

"Ayah, tadi Vio__" ucapan Seren terhenti karen Argan siap berbicara.

"Dimana Vio?" Tanya Argan, matanya melihat meja yang berserakan dan kaca penuh dengan pecahan beling.

"Dia ke kamar." Jawab Clara.

Segera Argan menuju lift, pria itu segera menuju kamar sang istrinya. Tampak rasa kecemburuan di mata Clara.

"Se, sepertinya Vio ada trauma ya?"

"Nggak tahu juga, ma. Seren teman Vio tapi nggak pernah lihat dia seperti itu."

"Teman? Jadi Vio seumuran denganmu?" Tanya Clara, ia mendudukkan diri di kursi.

"Iya, tapi Vio tidak berkuliah, dia memutuskan untuk menikah."

"Vio beda sama Seren, ma. Seren liat, walaupun Vio seumuran dengan Seren, tapi Vio otaknya pintar dan selalu dewasa."

"Mama juga lihat dari perilakunya, jadi mama kaget ketika denger kamu ternyata teman dia tadi."

"Tapi, kenapa nikah muda? Kan bisa nikah setelah meniti karir gitu."

Seren tersenyum, ia merapatkan dirinya duduk pada sofa. Ia memperlihatkan sebuah foto di instagram. Sebuah foto-foto Vio terlihat di sana. "Mama ingat Li Cosmetik?" Tanya Seren.

"Oh, punya Li Departemen, punya ayah kan?"

"Right. Vio sudah jadi model di Li Cosmetik sejak SMA, ma. Sekarang dia sudah di angkat di Li Departemen. Otomatis sudah jadi model tetapnya di sana kan. Keren ya ma, dari Cosmetik sekarang ke brand-brandnya Li Departemen."

"Keren sekali."

"Hem, teman Seren." Bangga Seren.

"Ini ayah?" Tanya Clara, membuka foto seorang pria yang berpeluk mesra pada sang wanita. "Ayah jadi model juga?" Tanya Clara.

"Ah, itu permintaan si fotografer, katanya mencoba ayah untuk berfoto dengan Vio."

Clara terus mengamati foto itu. Gaya Argan pada Vio itu seperti sangat psofesional.

*

[30-07-2023]

Your Daddy is MineCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang