Bab 36

2.5K 118 1
                                        

Hari ini hari senin,  setelah empat hari dirawat Reyga akhirnya bisa pulang berkat mamanya. Reyga hari ini dengan terpaksa berangkat sekolah diantar supir karena perintah ayahnya. Kalau tidak, dia tak diperbolehkan ke sekolah. Ayahnya sampai mengancam menjual motornya ketika dia ingin berangkat menggunakan motor.

"Pak berhenti di sini aja Pak," ucap Reyga pada sopir pribadi ayahnya.

"Loh, sekolahnya masih di depan kan?"

"Gak papa Pak, Reyga mau ke warung itu dulu."

Reyga malas ikut upacara, dia rasanya ingin membolos saja. Dia kan masih sedikit sakit, jadi tidak apa apalah kalau tidak mengikuti upacara.

"Loh, Rey lo kok di sini? Bukannya lo dua minggu dirawat?" Angga membulatkan matanya melihat Reyga yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.

"Lo gak kabur dari rumah sakit kan?" Kenzo penasaran.

Reyga seketika menggeplak kepala Kenzo.  "Ya enggak lah, lo pikir gue gak mampu bayar biaya rumah sakit sampai Kabur segala hah?"

Kenzo cengengesan. "kirain."

"Lo gak ikut upacara?" tanya Nathan ketika Reyga ikut duduk di sampingnya.

"Emangnya lo ikut? Kagak kan!" sembur Reyga sedangkan Nathan hanya menampilkan cengirannya.

"Lo rajin banget sih sekolah, bukannya lo seneng ya bisa libur dua minggu?" tanya Angga santai.

"Kangen pelajaran gue, makanya sekolah," jawab Reyga seraya mencomot gorengan di depannya entah punya siapa.

"Kangen pelajaran mata lo! Bilang aja lo kangen sama cewek lo kan, ngaku!" sorak Nathan.

"Heh, mana ada! Yang ada Melody tuh kalau gue libur lama-lama dia nanti kangen berat sama gue!"

"Buset, pede amat lo! Emang dia beneran kangen sama lo? Kemarin aja gue liat dia berduaan tuh sama si Fariz, Fariz juga nganterin dia pulang." ucap Angga panjang lebar.

"Hah serius lo?" Reyga bertanya dijawab anggukan oleh mereka bertiga.

Buset, gercep amat cewek gue mentang mentang gue gak ada, ucap Reyga dalam hati, dan seketika dia ragu apakah Melody benar-benar masih suka dengan Fariz

***

Melody meletakkan kepalanya di meja sambil memejamkan matanya, karena guru Sejarah tidak hadir jadi kelas mereka jamkos saat ini, dia lebih memilih tidur dibandingkan ikut menggibah bersama yang lain.

Tarikan di rambutnya membuatnya seketika terbangun, lalu setelah itu dia menoleh melihat siapa yang berani menarik-narik rambutnya. Namun bola matanya seketika melotot melihat siapa yang duduk di sampingnya. Apakah dia sedang bermimpi?

"Lah kok ...."Tunjuk Melody pada orang di sebelahnya yang tak lain iyalah pacarnya.

"Gue mimpi nih pasti." Melody mengucek matanya. Tidak mungkin Reyga ada di sini, dia kan lagi sakit, mungkin ini akibat dia terlalu memikirkan Reyga. Tak dapat dipungkiri bahwa dia kangen dengan lelaki menyebalkan itu.

"Ini beneran lo?" Melody mengerjapkan matanya beberapa kali.

"Ck pakai nanya lagi, iya gue di sini." Reyga menangkup wajah Melody membuat pipi Melody seketika memanas.

"Ciee ... salting kan lo." Reyga memencet hidung Melody.

"Enggak tuh!"  Melody mengelak namun dia tak dapat menahan senyumnya. "Kok bisa cepet pulang sih, gak betah ya di rumah sakit?"

"Gue mah betah-betah aja di sana, mana perawatnya cantik-cantik lagi beuuh!" Reyga berbohong. Padahal dia hampir tiap jam merengek ingin segera pulang.

"Huh, juga betah banget sekolah selagi gak ada lo, karena gue bisa lancar ngedeketin Fariz!" balas Melody tak mau kalah.

Melody VS ReygaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang