Bab 17

3.4K 131 16
                                        

Melody menatap pagar belakang sekolah yang menjulang tinggi di depannya dengan tatapan ragu. Reyga telat menjemputnya, jadi mereka berdua mau tak mau harus memanjat pagar belakang sekolah yang terbilang cukup tinggi.

"Lo yakin Rey, ngajak gue manjat ini? Melody agak ragu.

Reyga mengangguk tegas
"Yakin, cuma dengan cara ini kita bisa masuk tanpa dihukum bersihin seluruh toilet lantai satu."

"Buruan naik!" suruh Reyga pada Melody yang masih nampak ragu.

"Rey, kira-kira apa yang terjadi kalau jatuh dari ni pagar?" Melody yang masih diam di tempatnya bertanya lagi.

"Paling cuma patah tulang atau ngga sekarat," jawab Reyga kelewat santai membuat Melody ternganga.

Nyali Melody semakin menciut membuat Reyga diam-diam menahan tawanya melihat raut ketakutan Melody.

"Buruan naik! Keburu ketahuan nanti mampus lo!" desak Reyga.

"Nggak ada cara lain nih?" Demi apapun Melody takut jatuh, apalagi kalau jatuh akan mengalami patah tulang atau sekarat, tapi dia juga tidak mau membersihkan seluruh toilet yang ada di lantai satu sekolah mereka.

"Enggak ada, Cepet naik!"

Dengan ragu akhirnya Melody menaiki meja yang memudahkan mereka naik ke atas pagar.

"Jangan ngintip lo!" seru Melody.

Reyga berdecak. "Iya, bawel lo!"

Dengan segenap keberanian Melody akhirnya berhasil naik ke atas pagar. Jujur saja dia merinding ketika melihat ke bawah.

Melody mendengus ketika melihat Reyga yang berhasil menaiki pagar dengan sangat mudah dan kini Reyga sudah mendarat mulus di tanah dengan gaya sok keren.

"Reyga lo nanti bakal nangkep gue kan?" Melody bertanya memastikan.

"Enggak! Males gue nangkap manusia modelan kayak lo! Lo turun sendiri aja, kalau jatuh terus sekarat itung-itung latihan meninggal Mel!" teriak Reyga dari bawah sana, ingin sekali rasanya dia menertawakan Melody yang ketakutan di atas.

Melody melotot mendengar ucapan Reyga. Dia sepertinya salah pilih pacar, bukannya berniat membantunya turun tapi Reyga malah menyuruhnya turun sendiri.

"Buruan turun! Kalau gak gue tinggalin nih!" teriak Reyga lagi yang kini berancang-ancang ingin meninggalkan Melody.

Melody akhirnya melompat setelah memeberanikan diri.

Hap!

Reyga berhasil menangkap Melody. Melody masih memejamkan matanya karena ketakutan.

Reyga tersenyum geli. "Betah banget ya meluk gue?"

Detik setelahnya, Melody sontak membuka matanya dan langsung melepaskan dirinya dari Reyga.

"Dih, yang ada lo sengaja nyari kesempatan buat meluk meluk gue!" sahut Melody. Dia yakin sekali kalau reyga ini mau modus padanya.

"Ngaku deh, lo seneng kan? dipeluk sama gue, iyakan, kan?"
Reyga tersenyum menggoda dan berkata dengan nada menyebalkan.

"Siapa di sana!" teriak seseorang membuat keduanya terkejut dan saling memberikan pandangan satu sama lain lalu segera berlari dari sana dan bersembunyi dibalik tumpukan meja bekas.

"Kucing Pa! Reyga menjawab tanpa sadar.

Anjir mulut gue gak bisa kompromi bange.

Sontak Melody memukul kepala Reyga karena kesal. "Heh diem!" Melody berkata sambil menatap Reyga garang.

Melody VS ReygaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang