Melody mengendarai mobilnya menuju jalan pintas yang sepi menuju sekolahnya. Tinggal 15 menit lagi bel masuk, jika dia melewati jalan yang dia lalui biasa dapat dipastikan kalau dia akan terlambat karena macet tak bisa dihindari.
Tapi entah hari ini adalah hari sialnya, mobilnya tiba-tiba mogok. Melody benar-benar tak mengerti apa-apa tentang mobil. Dia sepertinya benar-benar menyesal karena telah membawa mobil lamanya ke sekolah, harusnya dia minta antar dengan sopir ayahnya tadi, sedangkan mobilnya yang baru sedang dicuci pagi ini oleh pak Lukman alias tukang kebun di rumahnya.
Melody seketika teringat Reyga saat ini dan berniat untuk menelpon Reyga agar dijemput. Namun sialnya, ponselnya malah ketinggalan di rumah.
Melody keluar dari mobil mencari seseorang yang bisa dimintai bantuan. Namun nihil, tak ada satupun kendaraan atau orang yang lewat di jalan ini. Setelah 10 menit menunggu, akhirnya bantuan yang ia tunggu-tunggu datang. Dari kejauhan dia melihat sebuah motor yang melaju, Melody merentangkan tangannya berdiri di tengah jalan agar motor itu berhenti.
Melody berhasil membuat motor tersebut berhenti, namun yang membuat mata Melody seketika melotot ialah si pengendara tersebut tak lain adalah William. Dia benar-benar sial hari ini ....
"Mel, lo ngapain di sini?" Willam bertanya penasaran. Dia benar-benar tidak menyangka akan bertemu Melody di sini. Dia biasa melalui jalan ini jika akan pergi ke tempat tongkrongan.
"Gu-gue...." Melody bingung ingin menjawab apa, tak mungkin ia meminta bantuan pada William.
William melirik mobil Melody. "Mobil lo kenapa? Mogok?"
"Iya," jawab Melody singkat.
William menyeringai, kesialan Melody adalah keberuntungan baginya. "Gue anterin yuk!"
"Enggak usah, gue nunggu ojek aja!" tolak Melody.
William terkekeh. "Mana ada ojek lewat sini Sayang, mending lo sama gue, gue janji bakal anterin lo dengan selamat."
Melody menimbang-nimbang, dia benar-benar tidak mau kalau harus ikut William. Tapi kalau dia tidak ikut dia bakal terlambat. Sebentar lagi upacara bendera di mulai, apakah dia bisa mempercayai William kali ini?
"Udah telat Mel, ikut gue aja ya." bujuk William.
"Kalau gue ikut lo, lo gak bakalan ngapa-ngapain gue kan?" Melody memastikan. Siapa tahu Willian akan menculiknya.
William terkekeh. "Enggak Sayang, ayo naik!"
"Gak usah manggil gue sayang, jijik," pungkas Melody lalu menaiki motor William dengan ogah-ogahan.
***
"Kok lo bisa berangkat bareng sama William sih?" bisik Vivi. Upacara pagi senin telah di mulai 15 menit yang lalu. Melody bersama Vivi berada di barisan paling belakang saat ini jadi tidak akan ketahuan kalau sedang ngobrol.
"Ya habisnya mobil gue mogok, daripada gue telat ya udah gue numpang sama dia," balas Melody juga berbisik.
"Dia gak ngapa-ngain lo kan?" tanya Vivi. Jika berkaitan tentang William, Vivi mempunyai banyak pemikiran negatif terhadap orang itu. "Pasti dia kan yang maksa lo buat ikut sama dia?"
"Iya," sahut Melody tanpa menatap Vivi. Matanya masih sibuk memperhatikan gerak-gerik Reyga di depan sana.
"Tuh kan bener, lo jangan sering-sering ketemu dia deh, takutnya nanti ketularan hawa-hawa negatifnya dia!" cerocos Vivi.
Melody tak menanggapi Vivi, matanya berfokus pada Reyga yang berdiri depan karena terlambat. Tampilannya terlihat acak-acakan yang membuatnya terkesan badboy namun sangat tampan. Reyga tersenyum lembut ke arahnya ketika netra mereka bertemu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Melody VS Reyga
HumorApa jadinya jika seorang cewek galak anti pacaran ditantang untuk nembak seorang playboy? Yang cewek galak dan yang cowoknya playboy serta pelit, bagaimana jadinya kalau dua orang ini bersatu?
