Tuk anak kecil itu menyentuh tanganku.
"Siapa kau?"tanya ajak anak itu.
"Kau bukanlah Jun Siwoon tapi kau juga
tak bisa di katakan sebagai Nam Myeong-sin"ucap anak kecil berambut coklat ikal di belakangku
Anak itu penuh dengan luka di lutut dan siku serta wajahnya.
Grrt
2 anak kecil itu saling berpegangan tangan.
"Kakak, sebenarnya siapa kau?"ucap mereka berdua bersamaan.
__
Zrrt
Seketika aku terbangun.
"Apa tadi?"gumamku langsung memegang kepalaku.
"Ini dimana?"
"Rumah sakit!"
Tapi kenapa anak kecil berambut hitam tadi tak asing untukku, wanita itu juga lalu kenapa ayah memeluk anak itu.
Siapa anak itu?.
"Sial, ingatla Myeong-sin"ucapku memegang kepalaku
"Eh?"
Srrnk
"Apa?, Ini kenapa ingatan tentang masa kecilku tak bisa ku ingat?"ucapku
Aku sama sekali tak bisa mengingat kenangan masa kecilku hanya kenangan Siwoon asli yang mengalir di kepalaku.
"Apa?"
"Sebenarnya apa yang terjadi!"
"Aku?"
"Kau bukanlah Jun Siwoon tapi kau juga tak bisa disebut sebagai Nam Myeong-sin, Hyung kau sebenarnya siapa?"
"Aku ini siapa!"
"Jika aku bukanlah Myeong-sin dan juga bukan Jun Siwoon, jadi aku ini siapa?"
Jantungku berdebar kencang dan keras.
Aku melompat dari kasurku dan langsung melepaskan tali infus yang masih terpasang di tanganku.
Lalu berlari ke kamar mandi.
Aku menatap kaca, hanya terlihat pria berambut ikal coklat di pantulan kaca.
"Wajahku, apa memang seperti ini?"
"Tidak tidak, ini bukan wajahku. Ini bukan wajahku. Wajahku tidak seperti ini"ucapku
"Lalu wajahku seperti apa?"ucap seorang anak kecil berambut hitam yang muncul di belakangku.
"Kau, anak yang di mimpiku"ucapku
"Jika ini bukan wajahmu, jadi wajahmu seperti apa?"tanya anak kecil berambut ikal yang duduk di wastafel.
"Apa seperti ini?"ucap bayangan cermin tiba tiba mengubah pantulan gambar menjadi wajah Hejin.
"Tidak,"ucapku
"Apa aku?"berganti menjadi wajah Woojin.
"Tidak, itu bukan bukan bukan wajahku"teriakku keras
"Ah aku tahu, pasti ini kan"pantulan itu beruba menjadi wajah Myeong-sin.
"Be benar ini wajahku"ucapku
Srrg
Wajah Myeong-sin berubah menjadi wajah Siwoon.
"Jadi ini wajahmu"ucap pantulan itu tersenyum.
"Bukaaaaan"teriakku seketika memukul kaca.
Crang kaca pecah dan mulai berjatuhan di lantai.
"Siwoon"terdengar suara pria sambil masuk kedalam kamar mandi
Terlihat Myeong-sin grab.
"Siwoon apa yang kau lakukan, hentikan"ucap Myeong-sin memegangi kedua tanganku.
"Wajah ini, ini wajahku"gumamku.
"Apa yang terjadi?"Grigor-Ssi yang baru masuk.
"Grigor-Ssi panggil suster"ucap Myeong-sin pada Grigor-Ssi
"Baik direktur "ucap Grigor-Ssi sembari berlari.
Pria ini(Myeong-sin) berjalan sembari terus memegang tanganku.
__
Aku duduk di atas tempat tidur sembari suster yang mulai membersikan luka bekas kaca.
Lukaku sama sekali tak terasa sakit.
"Lukanya memang tidak dalam, tapi lebih baik kalau anda membiarkannya tetap kering"ucap suster kepadaku.
"Ah emh"aku mengangguk.
Suster keluar dari ruangan itu.
"Apa yang sebenarnya kau pikirkan"ucap Hyung dengan wajah marah.
"Aku..."aku terhenti
"Aku tidak tahu..."jawabku melihat tangan yang di perban.
"Aku tidak merasa seperti diriku biasanya, lebih tepatnya. Aku sangat bingung apa aku benar Siwoon atau bukan"ucapku berbicara.
"Aku sangat bingung karna banyak ingatan yang tak asing terus masuk kedalam kepalaku dan itu membuatku takut, aku takut seperti akan menghilang"ucapku memandang Hyung.
"Hyung katakan, apa aku akan menghilang?"tanyaku melihat Hyung.
"Grigor-Ssi "ucap Hyung.
"Saya sudah merekamnya direktur"ucap Grigor-Ssi.
"Menghilang?, Apa maksudmu?"tanya Hyung duduk di hadapanku.
"Apa kau melihat sesuatu saat tidur?"tanya Hyung.
Aku mengangguk.
"2 anak laki laki"jawabku
"2 anak laki laki?, Berapa umurnya?"ucap Hyung.
"Tidak tahu, tapi antara 5 atau 6 tahun"jawabku
"Apa yang kau lihat disana?"tanya hyung.
"Kecelakaan mobil dan api, anak berambut hitam itu mengalami kecelakaan bersama ibunya yang tengah hamil"jawabku.
"Lalu anak kecil berambut ikal yang menangis terus meminta maaf di sebuah kuburan kucing kecilnya"ucapku.
"Aku merasakan seperti 2 ingatan itu adalah milikku tapi dilain sisi aku juga merasa kalau mereka bukanlah diriku"ucapku
"Baiklah aku mengerti"ucap Hyung mendekat.
"Lebih baik kau istirahat untuk beberapa hari, dan kita akan konsultasikan kepada dokter di lain hari"ucap Hyung menepuk kepalaku.
"Emh"
Aku berbaring di kasur pasien.
Sembari menggenggam tangan kanan Hyung aku mulai menutup mataku dan perlahan terlelap.
__
Srrg
Aku terbangun dari tidurku, kali ini aku tidur tanpa mimpi. Entah aku tak mengerti tapi aku sama sekali tak bermimpi seperti kemarin.
Dan Myeong-sin Hyung berada di sampingku sembari terus menggenggam tanganku.
Terlintas sedikit senyuman di bibirku,
"Maafkan aku sudah menyeretmu kedalam tubuh ini"
"Maafkan aku yang mudah menyerah, dan maafkan aku karna memilih jalan ini"
_ beberapa hari kemudian
Setelah 1 hari di rumah sakit aku boleh di pulangkan asal mengatur waktu tidur dan makanku dengan baik.
Setelah 2 hari perban di tanganku sudah bisa dilepas, dokter bilang luka itu tidak akan berbekas jika aku rajin menggunakaj salep yang di berikan.
Setelah hari dimana grub Oct di undang ke acara Pick banyak Brand ambassador yang mulai merekrut para member untuk melakukan Iklan, tak terkecuali aku.
"Bagus Siwoon-Ssi tolong sedikit buka bibirmu"ucap fotografer.
Aku mendapatkan sebuah iklan lipstik brand yang cukup terkenal.
"Bagaimana yah ini"ucap PD-Nim
"PD-Nim apa ada yang salah dengan Siwoon kami?"tanya Seo-Hyung.
Ngomong ngomong Grigor-Ssi sedang menghandle 3 member lainnya, karna mereka mendapat tawaran iklan lain.
"Sebenarnya wajah Siwoon sudah bagus, tapi entah kenapa ada yang kurang yah"ucap PD-Nim.
"Bisakah aku melihatnya?"ucapku mendekat keara fotografer.
Aku menatap foto di kamera, benar benar luar biasa.
Bagaimana bisa mereka mengambil foto dengan bagus seperti itu. Namun benar kata PD-Nim seperti ada yang kurang.
Apa yang salah?
Warna lipstik?,tatapan?,bibir? Atau wajahku?.
Warna lipstik yang merah mudah tipis yang membuat bibir menjadi lembab dan tidak pecah pecah.
Merah mudah, merah mudah.
Aku mengerti sekarang!.
KAMU SEDANG MEMBACA
Second life (Bl)
Science FictionUp setiap hari Senin,Kamis dan sabtu seorang pria berumur 34 tahun yang terus bekerja demi mengejar kepuasan ayahnya yang serakah. tapi meski sudah berkerja bertahun tahun ayahnya Masi tetap tak puas dengan kerja kerasnya dan membuat pria itu mulai...
