Tampak seorang laki laki berambut coklat muda bergelombang sedang terbaring di kasur rumah sakit.
Di samping laki-laki itu tampak seorang pria berambut hitam yang disisir keatas sedang duduk di kursi.
Pria itu duduk dengan posisi tegak, kedua tangannya terlipat dan matanya terpejam.
Ruangan itu tampak begitu luas dengan tampilan yang cukup mewah, dan hanya diisi oleh 1 kasur rumah sakit milik laki laki itu.
Perlahan mata yang sedari tertutup mulai terbuka.
Tampak langit-langit ruangan itu begitu terang dengan beberapa lampu yang menyalah.
"Hm.."
Tampak terasa genggam ringan di tangan kiriku.
Aku memutar mataku untuk melihat kesana, dan disana tampak diriku yang lain sedang menggenggam tanganku.
Dia sedang terlelap, dan lingkaran hitam juga tampak begitu tebal dibawah matanya.
"Aku haus"gumamku.
Perlahan aku menarik tanganku yang sedang di genggam Myeong-sin Hyung. Namun meskipun aku sudah mencoba agar tidak membangunkannya, dia tetap saja terbangun ketika jemariku hampir terlepas dari genggamannya.
Matanya sontak terbuka cepat
"Siwoon!"ucap hyung kaget melihatku.
"Selamat pagi, Hyung"ucapku tersenyum sedikit.
Pria itu tampak terdiam, lalu perlahan.
Tis
Tis
Tetesan demi tetesan air mata mulai jatuh dari pelupuk mata diriku versi muda itu.
Dia menarik tanganku pelan lalu menggenggam dengan kedua tangannya.
Tetesan air matanya terasa begitu dingin.
"Hm... Selamat pagi"ucap Hyung
Ekpresi dingin yang biasanya terpasang di wajahnya seketika hancur dan menunjukan ekpresi yang berbeda.
Ekpresi hangat yang cukup asing untukku sendiri.
Setelah pembicaraan singkat.
Hyung akhirnya memanggil perawat, dari pembicaraan Hyung dan perawat aku menyadari kalau aku sudah pingsan selama 2 hari penuh.
Pada hari pertama woojin dan sujin Hyung menjenguk beberapa saat sedangkan Hajin menjadi tahanan rumah.
Ketika pada member mulai kembali, hanya Myeong-sin Hyung yang tetap berada di kamar itu bersama diriku.
Dia tetap duduk dalam posisi yang sama untuk beberapa waktu, dia hanya menagak air tanpa memakan apapun.
Dia juga tak tidur nyenyak dan sering terbangun karna terkejut.
Setelah bangun, perawat bertanya tentang kondisiku.
Aku menjawab kalau tubuhku baik baik saja, namun beberapa saat kemudian aku mulai menangis menggantikan Hyung yang sudah berhenti menangis.
"Hyung, Siwoon menghilang. Tolong aku Hyung"
Hyung berkata aku menangis begitu keras sampai tersedu-sedu sembari terus mengungkapkan hal yang sama.
Myeong-sin Hyung dengan lembut memelukku dan menepuk punggungku.
"Hyung tolong kembalika Siwoon, aku. Siwoon"
"Iya, iya" Hyung hanya menjawab singkat namun dengan intonasi yang rendah.
Dia menepuk punggungku, membelai rambut ikalku lembut.
Dia memenangkan diriku yang sedang berada dalam fase Denial.
Setelah mengambiskan 30 menit untuk menangis.
Mataku menjadi sembab.
"Tidak apa apa, ada Hyung disini!"ucap Myeong-sin Hyung.
Setelah mendengar kata-katanya, rasa kantuk yang awalnya hilang datang kembali menghampiriku.
Hingga akhirnya aku kembali terlelap dalam dekapan pria itu.
...
Hari ini aku bangun di jam 8 pagi karna aroma makanan yang memancing perutku yang keroncongan.
Disana Myeong-sin Hyung tampak berdiri sembari membawa rantang 3 tingkat yang terbuat dari kayu dengan ukiran naga.
"Wow!"ucapku
"Apa kau lapar?, aku membawakan bubur untukmu!"ucap Hyung dengan ekpresi datar namun suaranya terdengar begitu lembut.
Pria itu lalu menaikan meja kecil yang berada di sisi kanan kasur.
"Mmm, aku mau"ucapku mengangguk singkat.
Pria itu lalu mengeluarkan mangkuk keramik dan menaruhnya di atas meja.
"Terima kasih Hyung"ucapku tersenyum lebar.
Setelah masuk kedalam tubuh Jung siwoon, aku mulai merasa seperti kepribadian ku sedikit demi sedikit mulai berubah.
Mungkin lebih ke ceria(?), entahlah namun aku merasa perubahan ini tidak buruk juga.
"Makanlah pelan-pelan"ucap Myeong-sin Hyung.
"Baik"ucapku mengangguk
Aku menyerok bubur dengan sendok kayu yang kupegang.
"Panwaas"ucapku yang kaget.
"Astaga, sudah kubilang pelan pelan"ucap Myeong-sin Hyung mengambil air di meja kecil di samping kami.
Gluk gluk gluk
"Hah, lidahku terbakar"ucapku menjulurkan lidahku yang tampak memerah.
Myeong-sin Hyung menarik mangkuk itu dariku lalu perlahan mulai meniupnya.
Dia sedikit mencicipi bubur itu,.
"Sekarang makanlah dengan hati-hati"ucap Hyung mengomel.
"Siap Hyung"ucapku tersenyum.
Tak lama kemudian semua bubur itu masuk kedalam perutku tanpa tersisa.
"Ini ambilah"ucap Myeong-sin Hyung menyodorkan piring berisi bus peach yang sudah dia kupas.
"Jadi bagaimana kondisi mu?"tanya Hyung sembari mengupS buah peach lainnya.
"Yah tubuhku baik baik saja"jawabku melahap potong buah tsb.
Tangannya tampak terhenti.
"Lalu yang lainnya bagaimana?"tanya Hyung tiba tiba.
"Yang lainnya?, apa maksud Hyung?"tanyaku bingung.
"Semalam, aku masih menangis bahkan ketika sudah terlelap. Apa kau benar benar baik-baik saja?"tanya Hyung dengan wajah khawatir.
Aku tersenyum singkat.
"Hyung sepertinya aku harus bertemu dengan dokter"ucapku sembari menatap pintu.
"Ada apa?, apa ada yang sakit?"tanya Hyung tampak panik sampai menjatuhkan buah peach yang sedang ia kupas.
"Tidak, aku hanya ingin berkonsultasi kepada dokter ku"ucapku tersenyum.
"Apa ini berkaitan dengan kepribadian gandamu?"tanya Hyung yang masih berdiri
"Hyung sudah kubilang, itu bukan kepribadian ganda. Lebih ke dia sudah ada di tubuh ini sebelum aku ada"ucapku mencoba menjelaskan kepada Hyung.
Tapi Hyung tampak tak menggubris kata-kata ku lalu mengeluarkan handphone nya dan menelpon dokter kejiwaanku.
Tak sampai 1 jam, dokter itu benar benar datang kerumah sakit yang berbeda dari tempatnya berada.
Aku duduk di kasur, sedangkan doket berambut sebahu itu duduk di sampingku dan Myeong-sin Hyung tampak berdiri dengan tangan terlipat tak jauh dariku.
Wanita ber-jas putih itu tampak mengeluarkan papan alas dengan selembar kertas diatasnya.
"Bagaimana kabarmu beberapa hari ini, siwoon-ssi?"tanya dokter itu dengan lembut.
Aku perlahan menggelengkan kepalaku.
"Namaku bukan Siwoon"ucapku
"Kalau begitu, saya harus memanggil anda siapa?"tanya dokter tampak mulai mencatat.
"Sioun, namaku sioun!"ucapku
"Baiklah, sioun-Ssi. Bagaimana kabar anda akhir-akhir ini?"tanya dokter itu tersenyum.
"Kondisi fisikku baik-baik saja, tapi sejak aku sendiri. Aku mulai merasa aneh!"ucapku
"Bagaimana dengan sebelumnya, ketika kalian sedang berdua (dirujuk 2 kepribadian) apa kondisi anda berbeda?"tanya dokter.
"Bukan berdua, tapi berempat"jawabku
Seketika pulpen yang sedari tadi bergerak langsung terhenti.
"Bisahkan anda menjelaskan ketiga orang lainya itu, siwoon-ssi?"ucap dokter.
Aku mengangguk.
"Yang pertama adalah Jung siwoon, dia pemilik asli tubuh ini, dia adalah anak yang ceria dan selalu optimis dalam melakukan banyak hal .
Lalu yang kedua adalah Woon, seorang anak lelaki berambut coklat muda berusia 7 tahun, dia memiliki kepribadian yang cengeng dan sangat mudah menangis..
Kemudian yang ketiga adalah Sin, dia seorang anak laki-laki berambut hitam berusia 10 tahun, dia anak yang pendiam dan jarang bicara tapi dia sangat menyukai buku."ucapku menjelaskan.
(Penjelasan: kepribadian Woon dan sin disini adalah karakter anak anak dari Jung siwoon dan Nam Myeong-sin dewasa.).
Wanita terus mencatat.
"Lalu kepribadian sioun-Ssi sendiri bagaimana?"tanya wanita itu memangku dagunya sembari tersenyum padaku.
"Aku tidak memiliki banyak sisi baik seperti ketiga kepribadian lainnya"jawabku singkat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Second life (Bl)
Ciencia FicciónUp setiap hari Senin,Kamis dan sabtu seorang pria berumur 34 tahun yang terus bekerja demi mengejar kepuasan ayahnya yang serakah. tapi meski sudah berkerja bertahun tahun ayahnya Masi tetap tak puas dengan kerja kerasnya dan membuat pria itu mulai...
