Harap 49 : Memori Dan Kedatangan Seseorang

85 11 0
                                        

(6 tahun mendatang)

Suasana pasar masih juga riuh meskipun matahari mulai menyebarkan sinarnya, suara ricuh yang lebih tepatnya dari suara pedagang terus meneriaki barang dagangannya agar pelanggan membeli. Aneka macam jualan yang lebih dominan adalah sayuran, tapi makanan manis di pasar lebih melimpah. Apapun yang dicari pasti selalu ada di pasar, maka pasar pun tak kalah penuh nya dengan supermarket. Seperti saat ini, sudah sejak subuh Humeyra berbelanja di pasar bersama sang Ayah. Rencananya hari ini Bunda ingin masak nasi kuning atas permintaan Humeyra yang ingin sekali menyantap nasi kuning lengkap dengan lauk pauknya. Berhubung keluarganya lengkap jadi Bunda akan masak banyak dan seperti biasa mereka akan makan bersama di halaman rumah.

Saking banyaknya orang di pasar beberapa bahu menabrak tubuhnya yang sesekali membuat tubuh Humeyra oleng. Bahkan tak absen Humeyra menoleh ke belakang memastikan Ayahnya baik-baik saja karena membawa belanjaan banyak. Meskipun ribet dengan beberapa kresek berat di tangan pria paruh baya itu, melihat anaknya sulit menerobos kerumunan Ayah selalu melindungi Humeyra dengan tubuhnya.

Humeyra mencoba mensejajarkan langkahnya dengan Ayah, "Yah sebagian kresek nya biar Humey pegang, berat." tawar Humeyra namun Ayah menolak keras.

"Kamu lebih baik jalan saja, lihat ke depan. Ayah nggak mau kamu berat bawa belanjaan nanti jatuh." ucapnya tegas.

"Tapi kan berat Yah."

"Ayah kuat, ayok jalan nak. Bunda mu pasti sudah nunggu di rumah."

Humeyra mengikuti perintah Ayah. Sesampainya di parkiran Ayah menyimpan beberapa belanjaan nya di keranjang sepeda. Heran kan? Saat berangkat tadi Humeyra sudah menyarankan meminjam motor Bang Tama, tapi Ayah menolak bersikeras ingin naik sepeda membonceng dirinya. Alhasil belanjaan mereka banyak, tak mungkin keranjang sepedanya bisa menampung barang bawaan sebanyak ini. Jadinya sebagian belanjaan dipegang Humeyra.

"Sudah Mey?"

"Sudah."

"Baju kamu lihat dulu toh, nanti kesangkut jeruji ban." Humeyra menunduk membenarkan gamis nya yang menjutai ke bawah.

"Aman Yah. Berangkat."

Ayah mulai mengayuh sepeda melewati beberapa kampung yang disuguhkan pemandangan sawah mulai menguning. Petani-petani mulai memanen padi sebagian sedang membajak sawah. Semua berjalan dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang sedang lari pagi, bersepeda sama sepertinya. Dinar mentari yang terbit membangunkan dunia untuk kembali bekerja, di belakang Humeyra duduk terdiam, sesekali membenarkan pegangan pada kresek agar tak jatuh. Suasana pagi memang tak pernah gagal menyegarkan dua bola matanya. Udara sejuk yang ia terima ke dalam paru-paru, teduh nya sinar matahari membuat manik hitamnya bersinar terang, pemandangan sekitar membuat hatinya tenteram.

Sepanjang jalan banyak yang menyapa Ayah dan dirinya, Ayah pun mengayuh sepedanya sangat pelan.

"Kenapa tadi nggak naik motor aja?" Tanya Humeyra dengan nada sedikit teriak karena banyaknya suara yang bercampur membuat pendengaran keduanya tidak jelas.

"Ayah pengen naik sepeda bonceng putri kecil Ayah. Sudah lama Ayah nggak jalan-jalan sama kamu." jawab Ayah membuat Humeyra mengulum senyum.

"Tapi kan lama Yah."

"Justru itu, biar nostalgia saat kamu kecil toh Mey." pekik Ayah, pandangannya masih fokus ke depan berusaha menghindari beberapa orang yang menghalangi jalan.

MELEPAS HARAP | CompleteTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang