An hanya terdiam menatap pantulan dirinya di cermin. Ia hanya mengenakan kaos tipis yang memperlihatkan dalamannya karena basah, juga celana pendek yang ketat. Tidak mungkin pulang dengan pakaian seperti itu. Apalagi rambutnya juga berantakan karena sempat bertengkar dengan para gadis yang mengerjainya tadi.
An sudah mencoba menelfon siapapun yang bisa di telfon, namun tidak ada satupun yang mengangkat sampai baterai ponselnya sudah habis karena memang ia tidak sempat mengisinya. Sudah lebih satu jam ia hanya berdiri, menatap sudut bibirnya yang memar.
"Tenang An, Lo cuma perlu ke kelas. Ambil kunci loker, terus pakai baju olahraga."
An tergelak pelan, "gue kaya orang gila sumpah. Dari tadi bilang gitu, tapi ga berani keluar sampe sekarang."
Menghela nafas, An mengenakan almamaternya yang basah untuk menutupi bagian atas tubuhnya. Namun almamater itu bahkan tidak dapat menutupi bagian atas pahanya.
Kali ini An memberanikan diri membuka pintu. Memastikan tidak ada orang di sekitar, dan tidak ada tanda-tanda akan datang seseorang, An mulai berjalan mengendap-endap.
Selama di perjalanan, An benar-benar waspada. Memang saat ini sudah cukup sore, tapi masih ada kemungkinan buruk yang akan terjadi.
Setelah akan berbelok, melihat pintu kelasnya dari jarak sekitar lima belas meter, An tersenyum senang. Namun senyumnya hilang begitu saja saat mendengar derap langkah yang terdengar ramai, sekilas ia dapat melihat itu anak-anak futsal. Dengan cepat An masuk ke kantin di sebelahnya.
An sempat merasa beruntung sebab pintu kantin masih terbuka. Namun detik berikutnya ia merutuki diri, jantungnya berpacu cepat karena ternyata ada banyak cowok yang masih berada di kantin.
Karena masuk tiba-tiba, para cowok di situ langsung menoleh dan cukup terkejut melihat penampilan An. Berbalik, buru-buru An berjalan ingin meninggalkan kantin itu.
"Eh?"
An bertambah kaget saat ternyata anak-anak futsal itu memasuki kantin. Mata mereka membulat, menatap An dari atas hingga bawah. Rasanya saat ini, An ingin sekali menangis. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca dengan kaki gemetaran takut melihat para cowok di sana menatapnya lapar.
"An, lo ngapain keliaran di sekolah kaya gini? Sengaja?"
An menahan nafas saat cowok gendut berjalan kearahnya. An mengenal sosok itu, cowok itu sekelas dengannya. Namanya Jaya, ia juga duduk tepat di belakang An. Karena itu, An tahu betul sikap Jaya. Tak hanya Jaya, ada beberapa orang yang juga teman sekelasnya. Itu membuat An merasa semakin takut dan kalut.
"Jangan deketin gue"
Air mata mengalir begitu saja, melihat tatapan para cowok itu yang tersenyum kearahnya. Bahkan Jaya sudah berada tepat di hadapannya, berusaha menarik tangan An.
"Lepas. Jangan sentuh gue!"
Terdengar kekehan mengejek dari Jaya.
"Jangan sok jual mahal, lo sengaja kan."
An menggeleng kuat, merapatkan almamaternya, tubuhnya berputar untuk melihat apakah ada sesiapa yang akan membantunya. Namun nihil, dari hampir tiga puluh orang yang berada di kantin, tatapan mereka terhadap An memiliki arti yang sama. Dapat An lihat, kini para cowok itu tengah memperhatikan paha atasnya yang terpampang jelas.
Berjongkok, An berusaha menutupi pahanya, namun sialnya usahanya tidak berhasil karena almamaternya tak cukup panjang. Ia terus berdoa dalam hati agar orang-orang itu segera pergi dari hadapannya. Ia menutup telinganya dengan kepala tertunduk. Tak ingin mendengar suara kekehan dan ucapan menggoda yang membuat An merinding.
"Woy! Hukuman kalian masih belum kelar anj**g!"
An mengangkat kepala mendengar teriakkan itu, melihat seseorang yang baru saja masuk ke kantin. Dapat An lihat raut terkejut cowok itu saat melihat kearahnya.
"Sialan!" Geramnya langsung menghampiri An.
"Gue takut." Lirih An saat sosok itu sudah berdiri dihadapannya.
Ia ikut berjongkok, sebab tak dapat mendengar suara An yang sangat lirih
"Vin gue takut. Tolong."
Vino menatap tubuh An yang meskipun sudah tertutupi almamater, namun tetap memperlihatkan pahanya.
"Lepas aja."
Vino mengambil almamater yang masih basah itu. Ia membuka almamater yang dipakainya, lalu menutupi tubuh An. Tentu saja sekarang tubuh An tertutupi lebih banyak karena ukuran almamater Vino lebih besar.
An mendongak, Vino dapat melihat gadis itu kini tengah menangis.
"Vin gue takut. Gue takut banget."
Vino ikut berjongkok di depan An, ia memeluk gadis itu membuat An semakin terisak.
"Jaya sama yang lain liatin gue. Mereka liatin gue terus. Gue takut, Vin." Adunya.
Dengan dagu yang ia letakkan di atas kepala An, Vino menatap tajam orang-orang yang masih menatap kearah mereka.
"Ayo."
Vino ingin melepaskan pelukannya dari An untuk berdiri. Namun An semakin mengeratkan pelukan mereka, karena tubuh gadis itu masih bergetar hebat Vino mengalah. Ia menghela nafas, dengan susah payah membuka seragam sekolahnya, menyisakan kaos putih yang masih melekat ditubuhnya.
"Ga di lepas, An. Longgarin dikit."
Vino berujar sebab An sama sekali tak ingin melepaskan pelukannya. Namun An menuruti ucapannya barusan, sehingga mempermudah Vino untuk mlilitkan seragam sekolahnya itu ke pinggang ramping An.
Setelahnya, Vino memindahkan tangan An yang semula melingkar di perutnya kelehernya, lalu berdiri sambil menggendong An yang menyembunyikan wajahnya di dada Vino. Sebelum pergi, Vino menatap tajam orang-orang yang hanya diam memperhatikan mereka.
"Urusan kalian sama gue."
Vino berjalan menuju parkiran, namun ia teringat sesuatu saat melewati kelas An. Masuk, Vino langsung berjalan kearah dimana satu-satunya tas berada. Ia mengambil tas itu meskipun sedikit kesusahan karena posisinya saat ini
"Gue ganti baju dulu." ujar An masih terisak.
"Udah hampir gelap, sekolah juga udah mau tutup."
"Tapi_."
"Ga keliatan Annas Tasha. Gue anterin Lo pake mobil."
An ingin menolak, tapi ia juga harus pulang sekarang. Di perjalanan menuju ke parkiran, mereka bertemu Mada, Acha, juga Ze.
"Loh? An Kenapa?" Acha bertanya panik.
Melihat An yang justru semakin menyembunyikan wajahnya di dada bidang Vino membuat ketiga orang itu mengerutkan dahi bingung.
"Kenapa?" kini Mada yang bertanya
Vino tersenyum tipis, menggeleng pelan sebagai jawaban.
"Gue anterin An pulang dulu."
"Tapi kayanya pakaian An_."
"Hukuman untuk anak-anak itu, tambah karena mereka kabur dari hukuman." Ujar Vino memotong ucapan Acha dan langsung pergi begitu saja.
"It's so pleasant, Annas Tasha." gumam Ze menatap punggung Vino yang mulai menjauh dengan An di gendongan nya.
╏ ” ⊚ ͟ʖ ⊚ ” ╏
GUYS JANGAN TINGGALIN HALAMAN INI DULU KALAU MASIH BELUM VOTE, COMENT AND SHARE YA.
CERITA AKU INI MASIH PERLU BANYAK DUKUNGAN KALIAN. JADI AKU BERHARAP BANGET KALIAN SEBARIN OSIS KE ORANG-ORANG DI SEKITAR KALIAN.
TERIMAKASIH SUDAH MAU SINGGAH DI SINI GUYS.
Gimana?
Ada yang membahagiakan hari ini?
Pesan aku cuma satu. Jangan lupa senyum, oke?
KAMU SEDANG MEMBACA
OSIS
Fiksi Remaja"Curang! Mereka curang!" "Pembunuh! Kalian pembunuh!" "Orang-orang sombong itu. Gue bersumpah akan balas kalian semua!" "Berhenti mengatasnamakan dedikasi untuk sekolah! Kalian cuma sekumpulan sampah yang sembunyi di balik organisasi sekolah!" "Kita...
