36. Rightness

58 8 0
                                        

"Ga pulang, kak?"

Mendapati gelengan sebagai jawaban, Zoe duduk di samping An yang sejak tadi hanya duduk diam.

"Gue pulang sama kak Alan, mau bareng kita aja?"

"Gue masih mau di sini, Zoe."

"Udah sore banget loh ini, ga ada orang juga di sini. Kak Vino tadi pergi sama kak Ze."

"Gapapa, gue bukan nungguin Vino."

"Zoe, ayo pul_."

Al menghentikan ucapannya menyadari Zoe tidak sendirian di dalam ruangan ini. Zoe segera melangkah mendekat pada Al yang langsung di sambut bisikan dari cowok itu.

"Kenapa An masih di sini?"

Zoe menggeleng tak tahu, "aku udah ajak buat bareng sama kita. Tapi ga mau."

"Kamu udah kabarin Vino?"

"Kak Vino ga bisa dihubungi, Kak Yura juga kayanya masih sibuk ngurusin itu."

Al menghela nafas lalu menatap An yang tetap diam di tempat, "An ga pulang? Ini udah jam berapa? Lo sendirian di sini, nanti sepupu lo nyariin."

An tak menyahut, hanya menatap Al yang menghela nafas kembali melihat reaksinya. Sementara Al, ia melirik kearah Zoe, gadis itu tampaknya sudah sangat lelah mengingat ia harus melakukan tugas sendirian karena Naya tiba-tiba sakit tadi pagi.

"Gue sama Zoe pulang duluan, lo jangan lama-lama di sini."

An hanya berdehem membuat Al melangkahkan kakinya sambil menggenggam tangan Zoe.

"Ga masalah kak An sendirian, kak? Ini udah jam_."

"Aku coba hubungi Vino, bang Ze, atau bang Gamma."

"Tapi kak_."

"Zoe_," menghentikan langkah, Al menatap Zoe yang tampak cemas "An bukan anak kecil yang harus selalu kita khawatirin."

"Iya, tapi kak An_."

"Dia memang penting banget buat organisasi, kita harus selalu pastiin dia baik-baik aja kalau mau nama baik organisasi tetap terjaga, aku tau dia tameng pelindung kita. Tapi An bakal baik-baik aja."

"Bukan itu maksud aku, terakhir kali kakak ga awasin, dia tenggelam di danau. Kak, rasa bersalah kamu bahkan ga hilang sampai sekarang. Kamu tau mereka lagi ngincar kak An, gimana kalau dia kenapa-kenapa? Aku ga yakin kamu bisa ngatasin rasa bersalah kamu, kalau sampai kak An kenapa-kenapa."

Al tersenyum kecut, sebab apa yang Zoe katakan memang benar adanya.

"Kita hubungi Rafa atau Aiden. Mereka pasti langsung datang."

Setelah mengatakan itu, Al kembali menggandeng tangan Zoe untuk berjalan beriringan dengannya.

╏⁠ ⁠”⁠ ⁠⊚⁠ ͟⁠ʖ⁠ ⁠⊚⁠ ⁠”⁠ ⁠╏

"Pulang sama siapa? Kenapa lama banget? Coba liat udah jam berapa ini? Gue jemput ke sekolah lo juga ga ada, dari mana sih? Lo tau Vino sama Ze nyariin lo ke sekolah dari tadi?"

"Atha mana?"

"Gue tanya lo jawab, susah gitu doang?"

An menghela nafas mendengar ucapan Gamma yang tampak menahan kesal.

"Gue ketemu sama Anna, harus izin sama lo juga? Gue pikir selama ayah sama ibu pergi gue bisa bebas buat pergi tanpa harus izin."

"An, lo bukan anak kecil _."

"Iya gue bukan anak kecil, jadi stop terus-terusan anggap gue anak kecil."

OSISTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang