"Gimana? Udah ketemu?"
Mendapati gelengan dari beberapa orang yang ia tanya, Gamma memejamkan mata erat.
"Gue udah bilang sama Lo jangan biarin mbak An pergi sama orang-orang ini Bang!"
"Tha." Gamma berujar dengan nada memperingatkan, lalu tatapannya beralih menatap datar orang-orang yang sudah tampak lelah karena terus berlarian, "cari lagi. Jangan ada satu orangpun yang berani pulang sebelum An ketemu."
Acha mengangguk, lalu mengarahkan para juniornya untuk kembali menyusuri sekolah.
Gamma dan Atha tak hanya diam, mereka juga ikut berlarian mencari kesana-kemari. Sudah terhitung dua jam sejak saat Vino menelpon, mengabarkan An yang tiba-tiba menghilang dari pandangan mereka. Parahnya lagi, gadis itu sama sekali tidak bisa di hubungi. Rasanya Gamma sangat marah karena baru di beritahukan setelah An menghilang lebih dari satu jam lamanya. Tangannya sejak tadi terkepal kuat, menahan marah karena kecerobohan orang-orang yang berjanji akan menjaga An saat menjemputnya pagi tadi. Belum lagi suara Atha yang terus menyalahkannya, jika saja tak mengingat janjinya pada An yang akan mengurangi bermain tangan, pasti ia sudah meluapkan kekesalannya entah pada siapa.
"Ken! Gimana?" Ghani datang bersama Ray dengan keringat membanjiri pelipis dan dagu.
Ken menggeleng pelan sambil mengigit bibirnya kuat, "cctv di matiin. Rekaman terakhir, dia di lorong menuju ruang OSIS."
"Ayo bang."
"Kak Key sama kak Naya udah kesana. Tapi ga ada siapapun." Suara Ken menghentikan pergerakan Ray dan Ghani yang baru saja mengambil dua langkah.
"Lo yakin kita udah periksa semuanya, Ken? Pastiin sekali lagi, pasti ada yang kelewat."
Ken kembali fokus pada catatan kecil yang ia buat guna menandai tempat-tempat yang mereka sudah telusuri agar mempermudah setelah Febi bertanya. Ia membaca deretan tempat yang ia sudah tulis dengan rapih. Bola matanya naik turun beberapa kali, mencoba memastikan bahwa semuanya sudah benar dan ia ingat dengan pasti.
"Tinggal taman belakang tempat kak An sama Kak Asyalina biasanya duduk yang belum ada laporan ke gue. Kak Mada baru selesai meriksa kantin, kak Vino juga baru laporin kelas kak An udah kosong."
Nora memperhatikan sekitar. Sebelumnya ia tak menyadari, tapi sekolah yang biasanya ramai kini tampak hening dan sepi. Padahal semua orang masih berada di sekolah walaupun jam pulang sudah lewat beberapa menit lalu. Pasti semua orang masih berada di auditorium. Mereka yang sebelumnya berpencar kini kembali satu-persatu kedepan gedung aula yang mereka jadikan tempat titik kumpul.
Dering ponsel yang datang serentak membuat masing-masing dari mereka membuka ponsel. Membaca pesan yang dikirimkan oleh orang yang katanya memeriksa tempat terakhir, Yura terduduk dengan tatapan tertuju pada gedung auditorium yang terletak jauh di sebrang gedung aula.
"Gimana? Ketemu Mbak An, nya?"
Mada menatap dua orang yang berdiri di hadapannya merasa bersalah.
"Sorry."
Atha mengusap wajahnya gusar. Tidak ada. Zean Angkasa tidak menemukan keberadaan sang kakak di tempat yang kata Al adalah tempat persembunyiannya dengan sang teman, Asyalina. Tak ada yang mengeluarkan suara setelah itu, hanya terdengar isakan kecil dari Yura yang menyembunyikan wajah diantara kedua lututnya.
"An bilang tadi cuma mau nenangin diri." Kiara berujar dengan suara bergetar, ia mendekat pada Gamma yang tak bergeming di tempatnya, "gue denger Vino sama kak Acha berusaha nemenin dia. Tapi tiba-tiba semua orang jadi rusuh. Gue udah berusaha buat ga ngalihin pandangan sedikitpun dari An. Tapi tiba-tiba An hilang dari kerumunan. Gue panik. Gue coba nyari sendirian, tapi ga ketemu. Harusnya gue langsung laporin ke Reza. Maaf."
KAMU SEDANG MEMBACA
OSIS
Novela Juvenil"Curang! Mereka curang!" "Pembunuh! Kalian pembunuh!" "Orang-orang sombong itu. Gue bersumpah akan balas kalian semua!" "Berhenti mengatasnamakan dedikasi untuk sekolah! Kalian cuma sekumpulan sampah yang sembunyi di balik organisasi sekolah!" "Kita...
