58. I Don't Know

66 5 2
                                        

Follow dulu, follow dulu..
Biar seneng, biar semangat nulisnya juga aku, mwehehe.
Yok-yok, ajakin temen-temen kalian baca cerita aku dong kiwww

Udahh udah, met baca sayang-sayangkuuhhh

╏⁠ ⁠”⁠ ⁠⊚⁠ ͟⁠ʖ⁠ ⁠⊚⁠ ⁠”⁠ ⁠╏

Orang-orang bermuka dua yang selalu berpura-pura tak terluka bilang, tuhan itu adil. Apakah tetap begitu saat semua luka yang ada di dunia di curahkan hanya pada satu nama, satu jiwa, dan satu raga saja? Orang-orang lemah yang hanya menangis dan meratapi nasibnya bilang, dunia ini sangat tak adil. Apakah tetap begitu saat ia menyadari dunia tak hanya berputar tentang dirinya saja?

Tentang bagaimana tuhan yang adil, dan dunia tak adil, terus berputar di kepala gadis yang tengah menatap keluar jendela. Di bawah sana, ia dapat melihat dengan jelas orang-orang dengan seragam tidur yang sama dengan yang ia pakai berlalu lalang dengan ditemani orang-orang yang mungkin adalah keluarga mereka.

Saat mendengar suara pintu terbuka, ia menoleh pada sosok yang baru saja memasuki ruangan tempat ia di rawat selama beberapa hari terakhir. Hanya beberapa saat, setelah itu ia kembali menatap kearah luar jendela yang menjadi favoritnya semenjak menetap di ruangan berbau obat-obatan.

"Udah Lo minum obatnya?"

Ia tak menjawab, mengabaikan sosok tinggi besar yang mulai sibuk mengeluarkan barang-barang dari kantong plastik yang ia bawa entah dari mana.

"Kapan sembuhnya kalau Lo aja males minum obat gini."

Bahkan saat sosok itu menarik kursi dan duduk di hadapannya, gadis itu masih tak perduli. Pikirannya masih sibuk berkelana, bertanya-tanya salah satu dari dua pemikiran itu, mana yang harus ia percaya.

"Minum obat Lo. Habis itu gue temenin kalau mau ketemu dia."

Mendengar kalimat itu, segera ia mengambil obat-obatan yang disodorkan dengan telapak tangan besar itu. Meminumnya dengan cepat, agar bisa bertemu dengannya karena sudah hampir satu pekan tak diizinkan berjumpa.

"Gue jalan aja." Katanya saat ia lihat sosok bertubuh besar itu mencoba mengambil kursi roda untuknya.

"Lo masih_,"

"bukan lumpuh, Ghan. Gue cuma kecapean, kan?"

Meskipun menghela nafas, Ghani mengangguk setuju. Karena sadar memang ia terlalu melebih-lebihkan. Keduanya berjalan beriringan keluar dari ruangan melangkah dengan pelan.

"Menurut Lo, tuhan itu adil, Ghan?"

Ghani yang tiba-tiba diberi pertanyaan seperti itu, menaikkan alis bingung. Apa lagi yang dipikirkan gadis ini? Begitu kira-kira isi pikirannya.

"Lo ngerasa tuhan ga adil sama Lo?" Bukannya menjawab, ia malah bertanya balik.

"Gue bingung. Gue selalu ingin menyangkal tuhan itu adil."

"Kenapa?"

"Setelah semua yang terjadi, Lo masih tanya kenapa?" Ia tersenyum kecut mengalihkan pandangan dari pemuda di sampingnya. Tatapannya kembali fokus ke depan karena mereka harus menaiki tangga.

"Tuhan adil, Ghan. Gue selalu percaya itu. Meskipun gue di hukum kalau Lo selalu di atas gue. Ga pernah sekalipun gue menyangkal kalau tuhan itu adil."

"Terus? Kenapa tiba-tiba Lo nanya begitu?"

Langkah mereka terhenti tepat setelah kalimat itu diselesaikan.

"Semenjak kenal sama dia, perlahan gue ragu, Ghan."

OSISTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang