56. Position

83 9 1
                                        

Halo halooooo..
Yang belum follow aku, ayo follow dulu!
Biar semangat nih aku nulisnya.
Buat ga mogok-mogok juga akunya.
Yok ayok, semangatin aku terus donggg....

╏⁠ ⁠”⁠ ⁠⊚⁠ ͟⁠ʖ⁠ ⁠⊚⁠ ⁠”⁠ ⁠╏

Sinar mengkilap berasal dari kamera para wartawan yang sibuk mengambil potret membuat mata An tak dapat terbuka dengan sempurna. Ini adalah kali ketiga terjadi dalam hidupnya. Pertama adalah saat beberapa hari setelah kematian Asyalina, kalian ingat hari pertama ia masuk sekolah? Lalu kedua saat ia membuka pintu rumah dan ternyata banyak wartawan dan polisi berada di sana. Dan saat ini, ia yang duduk di kursi roda dengan Ze di belakangnya serta Vino di sebelahnya. An baru saja akan masuk ketengah Auditorium bersama dengan anggota OSIS lainnya.

"Pakai ini."

An mendongak menatap Vino yang baru saja memasangkan topi di kepalanya. Ia tersenyum tipis saat mendapati senyum tulus yang Vino lemparkan untuknya.

"Thanks." Katanya yang langsung dibalas anggukan oleh Vino.

Kini tiga puluh tiga orang sudah masuk di tengah-tengah auditorium dengan rapih dan teratur. Formasi sudah disusun dan telah disepakati sejak tadi malam saat mereka baru saja selesai dengan persiapan untuk melakukan hal yang mereka sudah putuskan bersama.

Membentuk lingkaran dengan empat lapisan, An menjadi satu-satunya orang yang berada ditengah-tengah lingkaran masih setia duduk di kursi rodanya. Dengan masing-masing berjarak tiga langkah dari tempatnya, Ze, Mada, Acha, Vino, Reza, dan Zoe berdiri membentuk lingkaran sempurna. Pada lingkaran selanjutnya berdiri Ghani, Naya, Nora, Febi, Azka, Keysha dan Yura berjarak tiga langkah dari masing-masing orang yang berdiri di lingkaran sebelumnya. Lalu pada lapisan ketiga, ada Kiara, Alandra atau yang kerap disapa Al, Ken, Rayhan, Dian, Nana, Bianca, Roxi, dan Jodi. Dan pada lapisan terakhir berdiri Mayang, Dodo, Kia, Uti, Rahma, Susan, Pian, Fiona, Bian dan Jia. Masing-masing mereka memegang megaphone toa dengan warna senada_putih biru.

Menghela nafas panjang, tubuh Reza berputar untuk dapat menyaksikan seberapa banyak orang yang ada di ruangan berukuran besar ini. Kedua sudut bibirnya tertarik keatas saat mengetahui begitu ramai orang menyaksikan kegilaan mereka. Tak apa ia menjadi gila, asalkan dapat membersihkan nama mereka dan juga, Yumna. Ah! Mengingat nama Yumna masih saja membuat pemuda dengan darah arab mengalir di tubuhnya merasa terluka. Ada sesuatu di dalam dirinya yang masih tak percaya dengan berita yang di bawakan oleh teman-temannya.

"Maaf membuat semua orang bingung."

Suara Mada yang berujar dengan megaphone toa membuat semua orang mempusatkan perhatian padanya. Mada melirik sebentar jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Sudah tepat pukul sebelas rupanya. Ia tersenyum mengingat sejauh ini, semua berjalan sesuai rencana.

"Mengumpulkan semua orang di Aula dengan pengumuman mendadak adalah rencana kami agar bisa leluasa kesana-kemari, tanpa harus takut berpapasan dengan orang-orang yang mungkin akan menggagalkan rencana kami. Jadi, maaf karena mungkin membuat kalian kelelahan karena harus berlarian dari aula ke auditorium."

Kalimat Mada yang cukup panjang membuat orang-orang bersorak penuh kesal. Tentu Mada dan para OSIS lainnya dapat memahami kekesalan mereka. Bagaimana tidak? Pagi-pagi sekali mereka banyak menuntut jawaban mengapa Reza dan An berada di sekolah setelah membuat kegemparan yang begitu besar. Lalu mereka mendapatkan pengumuman bahwa di Aula, para siswa akan dapat mengetahui semua rahasia yang disembunyikan begitu baik dari mereka.

Tentu itu adalah ide gila dari Vino dan Acha, sedang yang melakukannya Rayhan dan Azka. Hal itu disetujui oleh mereka karena percaya pada asumsi Kiara yang mengatakan bahwa pihak sekolah dan organisasi anti mereka akan mencoba menghalangi segalanya. Jadi, Acha menyarankan untuk mengalihkan perhatian semua orang, agar mereka dapat bergerak leluasa menyiapkan semuanya. Lalu Vino yang melanjutkan sisa rencana.

OSISTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang