Kalian tau, dukungan sederhana yang kalian anggap kecil itu sangat-sangat bangkitin semangat aku loh. So guys, yuk jangan lupa like, comment, and follow yaa.
╏ ” ⊚ ͟ʖ ⊚ ” ╏
Melihat sepasang suami istri yang baru keluar dari rumah dengan membawa satu tas masing-masing, Gamma menghela nafas. Rasa kesal dengan kedua orang itu masih terasa kental sehingga membuatnya enggan menatap terlalu lama.
"Ga ada yang ketinggalan Tante?"
"Engga kok. Ayah An udah dua kali periksa juga tadi sebelum dimasukin kedalam tas."
"Ze bantu bawa aja Tante, Om."
Mendengar samar-samar pembicaraan di luar mobil, Gamma berdecih sembari melirik Ze yang tengah meraih tas dari orang tua An. Padahal wajah pemuda itu masih tersisa lebam dari orang yang berjalan di depannya. Naif sekali, pikirnya. Setelah tiga orang itu akhirnya masuk ke mobil, Gamma dengan gesit mengemudikan tanpa berkata walau hanya sepatah kata. Bahkan untuk menatap pria yang duduk disampingnya pun ia tak berniat.
Butuh waktu hampir dua puluh menit untuk mereka sampai pada bangunan serba putih dengan ukuran besar. Setelah berhasil memarkirkan mobil, bukannya langsung keluar Gamma memilih untuk diam beberapa saat hingga Ze mengetuk kaca jendela mobil.
"Turun."
Meski suara itu terdengar redam karena adanya kaca tebal yang menjadi penghalang, Gamma dapat mendengar dengan jelas dan tentunya langsung keluar. Ze menghela nafas saat Gamma berlalu begitu saja setelah mengambil alih satu tas yang sebelumnya ia bawa. Sedikit mempercepat langkah agar dapat sejajar dengan Gamma.
"Mereka juga sedih, Lo kaya gini cuma bakalan nambah rasa bersalah mereka."
"Justru aneh kalau mereka ga ngerasa bersalah sama sekali." Gamma yang melihat punggung dua orang yang di maksud kian menjauh menyahut enteng.
"Kondisi An sekarang udah cukup buat jadi hukuman mereka. Kenapa Lo harus nambahin?"
"Lo ngomong seolah kondisi An cukup buat jadi hukuman Lo sama temen-temen Lo itu."
"Itu beda, perlakuan gue sama yang lain ke An ga sama kaya apa yang orang tua dia lakuin."
"Oh ya? Gue ga lihat perbedaannya tuh."
Ze ingin menyahut kembali, namun melihat beberapa orang yang tak asing di pandangan tengah berlarian membuat ia mengurungkan niat. Matanya sedikit memicing kala melihat Satifa berjalan cepat dibantu Ghani dan Ken. Tanpa instruksi, kedua orang itu segera berlari kearah yang sama.
"Kenapa?" Gamma menarik Keysha yang baru saja berhenti berlari.
"An, Kak, An."
"An kenapa?" Kali ini Ze yang bertanya tak sabaran.
"An, bangun."
╏ " ⊚ ͟ʖ ⊚ " ╏
Berucap syukur, dengan merapalkan banyak hamdalah serta senyuman yang beriring air mata bahagia. Akhirnya sang putri tidur membuka mata setelah sekian lama orang-orang menunggunya.
Sudah dua jam berlalu sejak saat para petugas medis berlarian setelah mendengar teriakkan yang mengatakan sang putri tidur akhirnya membuka mata. Saat di mana si adik yang senantiasa menemani kakak satu-satunya mengumumkan pada semua orang, bahwa akhirnya penantian mereka telah usai.
"Kalian pulang aja, nanti malam balik lagi. Sekarang ini biar keluarganya sama Satifa."
Jelas orang-orang itu menggeleng tak mau, mereka juga menunggu selama lebih dari satu bulan. Bergantian datang untuk menjaga sesuai dengan waktu yang Mada telah jadwalkan. Saat akhirnya waktu yang dinantikan telah sampai, mereka harus menunda untuk mengucapkan selamat datang kembali? Apa-apaan si Mada ini!
KAMU SEDANG MEMBACA
OSIS
Roman pour Adolescents"Curang! Mereka curang!" "Pembunuh! Kalian pembunuh!" "Orang-orang sombong itu. Gue bersumpah akan balas kalian semua!" "Berhenti mengatasnamakan dedikasi untuk sekolah! Kalian cuma sekumpulan sampah yang sembunyi di balik organisasi sekolah!" "Kita...
