06 - Sharing is Caring

2.3K 212 19
                                        

Jennie yang tahu keadaan hati adiknya sangat memburuk pun langsung menghampiri si bungsiu di kamarnya. Ia sangat lega saat bisa membuka pintu kamar Lavisa dengan membuka. Jennie takut kalau Lavisa menutup serta mengunci pintu kamarnya dan berbuat aneh-aneh di dalam kamar karena keadaan hatinya memburuk.

Di saat membuka pintu, Jennie hanya melihat adiknya yang menangis kejar sambil menutup wajah dengan tangannya di pinggiran kasur. Jennie tidak bisa membohongui perasaannya sendiri. Ia sangat sedih melihat pemandangan ini. Dalam sehari, ia bisa melihat Lavisa menangis tersedu-sedu sampai dua kali. Kejadian ini yang membuat Jennie terpukul. Pasalnya, ia lebih sering melihat adiknya menangis sedih daripada tertawa.

"Kamu udah makan?" Jennie langsung mengelus pucuk kepala Lavisa dengan lembut. Ia selalu berfikir kalau makanan adalah segala solusi disaat hati sedang memburuk.

Lavisa hanya bisa menggelengkan kepalanya saja sambil menangis karena tangisannya pun tidak bisa ia hentikan.

"Mau makan apa? Kita pesen aja yuk dari luar. Kamu suka makan apa? Ayam? Seafood? Burger? Pizza?" Lavisa hanya bisa terdiam mendengar perkataan kakaknya. Baru kali ini sang kakak menawarkan dirinya makanan junk food.

Si bungsu memang suka menyukai makanan junk food dari kecil namun ia selalu dilarang makan berlebih oleh mama serta kakaknya. Itulah kenapa di rumah Lavisa selalu memakan makanan sehat, apalagi jika ada sang kakak kedua. Pasti di dalam piringnya ada sayuran yang menemaninya.

"Hikss.. Tumben" Jennie hanya tersenyum emndengar jawaban sang adik

"Kata temen kakak, cewek kalau lagi moodnya ga baik. Langsung aja diajak makan kesukaannya. Pasti nanti setelah makan, keadaan hatinya langsung membaik. Teori itu di kakak sih pas ya, semoga di kamu juga" jawaban Jennie membuat Lavisa tersenyum walaupun matanya masih mengeluarkan air mata

"Aku mau burger sama kentang boleh?" ucapan Lavisa membuat Jennie tersenyum. Pasalnya adiknya ini seperti anak kecil yang sedang meminta izin makan junk food seperti dulu dengan mata yang berair

"Boleh, kakak pesenin. Mau apalagi? Ice cream?" tawaran Jennie membuat Lavisa menghapus air matanya dan tersenyum

"Oke, kakak pesenin. Kamu boleh bersih–bersih dulu. Habis dari luar, biasain langsung mandi biar kuman-kumannya ilang dan ga pindah ke kasur" ocehan Jennie membuat Lavisa mengernyitkan dahinya sambil mengerucutkan bibirnya.

"Kakaknya aja yang terlalu bersih" Lavisa langsung mengarahkan dirinya ke kamar mandi.

Jennie hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku sang adik, ia langsung memesan makanan yang diinginkan oleh adiknya. Ia juga memesan ayam goreng untuk kakaknya. Mungkin dengan ini, ia bisa membuat keadaan keluarganya sedikit menghangat dengan makanan kesukaan ereka masing-masing.

Dengan waktu yang cepat, Lavisa keluar dari kamar mandi dengan keadaan rambut yang basah serta menggunakan celana training serta kaos lengan pendek. Ia langsung menghampiri kakaknya yang sedang ada di sofa. Jennie yang fokus memainkan handphonenya sambil menunggu makanan mereka datang pun langsung tersadar dengan posisi adiknya yang sudah ada duduk di sebelahnya sambil meletakkan kepalanya di pundak Jennie.

"Haishh kamu tuh yaa. Selalu deh, setelah selesai keramas ga pernah dikeringin. Kayaknya kakak selalu nyediain hairdryer. Tapi kenapa kamu ga pernah pakai sih?" lagi-lagi Lavisa mendengarkan ocehan sang kakak. Ia senang jika diperhatikan oleh kakaknya yang satu ini. Walaupun Lavisa harus rela mendengarkan ocehan yang membuat kupingnya sakit.

"Males kak, nanti juga kering sendiri" jawaban Lavisa membuat Jennie berdiri serta mengambil tangan Lavisa untuk mengarahkannya ke meja rias yang ada di kamar si bungsu. Dengan perlahan Jennie langsung mengeringkan rambut Lavisa menggunakan hairdryer.

The DifferentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang