49 - When Rules Hit Hard

800 92 6
                                        

Setelah sarapan pagi selesai, Lavisa langsung berpamitan pada kedua kakaknya. Setibanya di sekolah, ia menyapa teman-temannya seperti biasa. Di ruang kelas, Rafa, Ares, dan Gigi sudah menunggunya, jelas bukan karena rindu, tapi karena mereka ingin menyontek pekerjaan rumah yang dikerjakan Lavisa semalam.

"Akhirnya yang ditunggu datang juga. Sini, manis, duduk," kata Ares sambil menepuk kursi di sebelahnya dan pura-pura membersihkannya untuk Lavisa.

Lavisa memutar bola matanya. "Pasti mau nyontek, kan?" tebaknya, membuat ketiga temannya tertawa.

"Udah gue kerjain, kok. Tapi serius, tumben banget Miss Hyeri ngasih tugas sebanyak ini," keluh Lavisa sambil membuka bukunya dan menyerahkannya kepada mereka.

"Gue juga bingung. Kelas lain nggak dapet tugas sebanyak kita," tambah Rafa sambil menyalin jawaban dengan cepat.

"Mungkin karena Miss Hyeri wali kelas kita, jadi tugasnya dibikin lebih banyak," celetuk Gigi santai sambil ikut menyalin.

"Ya harusnya adil dong, jangan cuma kelas kita!" omel Ares kesal.

Belum sempat mereka lanjut mengeluh, suara lembut tapi tajam terdengar dari belakang.
"Nanti saya akan adil ke semua kelas. Kamu tenang saja."

Mereka semua menoleh, di sana Miss Hyeri sudah berdiri di depan pintu kelas dengan tatapan tajam.

"Miss... kok udah masuk?" tanya Lavisa gugup.

"Sengaja. Saya mau cek kelas dulu. Buat kalian bertiga, hentikan dulu nyonteknya. Nanti kalian saya kasih tugas dengan soal yang berbeda dan jumlahnya dua kali lipat sebagai hukuman."
Nada suara Miss Hyeri memang tidak keras, tapi cukup menusuk.

Lalu pandangannya beralih ke Lavisa.
"Dan kamu, Lavisa. Mulai hari ini, saat pelajaran saya, kamu duduk di depan. Saya tidak mau kamu memanjakan teman-temanmu. Jangan karena kamu pintar, mereka jadi bergantung padamu. Tugas kamu adalah membantu mereka belajar, bukan memberi contekan."

Lavisa menunduk malu. "Terus kenapa saya juga disuruh duduk depan, Miss?" tanyanya lirih.

"Itu hukumanmu karena memberi jawaban. Saya tidak mau anak pintar seperti kamu digunakan dengan cara yang salah. Saya ingin kamu jadi contoh yang baik."

Teman-temannya menunduk, merasa bersalah karena Lavisa harus ikut kena imbas.

Saat pelajaran dimulai, Lavisa pun duduk di depan seperti yang diperintahkan. Dalam hati, ia kesal bukan main harus duduk dengan anak-anak kutu buku yang menurutnya "culun." Ia tidak mau disamakan dengan mereka. Ia tetap ingin jadi bad girl di kelasnya, walau sekarang ia juga pakai kacamata.

Lavisa hanya mencoret-coret bukunya tanpa fokus, sampai suara Miss Hyeri kembali terdengar.
"Daripada mencoret-coret nggak jelas, kerjakan halaman sebelas. Ada sepuluh soal yang harus kamu jawab."

Lavisa langsung kaget dan buru-buru mengerjakannya. Tapi belum sempat selesai, suara Miss Hyeri kembali menggema.

"Saya beri kalian pekerjaan rumah. Karena namanya pekerjaan rumah, kerjakan di rumah bukan di sekolah. Kalau tidak mengerti, kosongkan dulu dan tanyakan ke saya nanti. PRnya dari halaman dua puluh sampai dua puluh lima. Tiap halaman ada sepuluh soal, jadi totalnya lima puluh soal."

Kelas langsung riuh.

"Kalau kalian tidak terima," lanjut Miss Hyeri santai, "berarti tugasnya saya tambah sampai halaman dua puluh enam."

"Misss...!" seru seluruh kelas bersamaan, tapi Miss Hyeri hanya tersenyum.

"Kalau protes lagi, saya tambahkan lagi."
Seketika, kelas menjadi sunyi.

"Untuk halaman dua puluh enam, soalnya cuma lima. Karena ini hari Jumat, kalian punya waktu di akhir pekan. Gunakan untuk belajar, bukan keluyuran."

Anak-anak hanya bisa mengangguk lesu.

"Khusus Ares, Rafa, dan Gigi, tugas kalian sampai halaman tiga puluh enam. Kalau tidak bisa, silakan tanya Lavisa. Kan katanya dia sumber jawaban kalian?" ucap Miss Hyeri sinis.

Begitu bel istirahat berbunyi, seluruh kelas bersorak dalam hati. Ketua kelas segera memberi aba-aba untuk memberi salam, dan Miss Hyeri pun keluar dari kelas.

Lavisa langsung menghampiri teman-temannya.
"Aura Miss Hyeri tuh kayak Kak Soyaa, serem banget," katanya, membuat ketiganya tertawa.

"Setuju banget!" timpal Gigi cepat.

"Dua puluh soal aja udah pusing, ini disuruh ngerjain hampir seratus," keluh Rafa.

"Kata Miss Hyeri, kalau nggak ngerti boleh dikosongin. Ya udah, kita kosongin aja semuanya, bilang aja nggak ngerti," ujar Ares santai.

"Bagus tuh... untuk nggak dilakuin," balas Lavisa, membuat mereka semua tertawa.

Tak lama, rasa kesal berubah jadi lapar. Lavisa membuka bekal yang disiapkan Jennie dan langsung melahapnya. Saat itu teman-temannya baru kembali dari kantin sambil membawa makanan tteokbokki, indomie, dan nasi goreng  yang aromanya menggoda.

Lavisa menelan ludah. Sejak Jennie mulai mengatur pola makannya, ia sudah tidak pernah lagi menyentuh makanan seperti itu.

Dalam hatinya ia bergumam,
Apa aku minta izin aja sama Kak Nini, biar bisa makan tteokbokki atau indomie lagi...?

———————
Indomie selerakuuu~

The DifferentCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang