Keluarga dianggap rumah untuk setiap manusia di bumi, dijadikan tempat untuk pulang dan beristirahat di saat lelah. Tapi berbeda dengan Lavisa yang menjadikan keluarganya sebagai tempat kost-kostan aja. Tempat untuk tidur, makan dan mandi saja tapi...
Kejadian semalam membuat Lavisa sedikit bingung dengan tingkah laku sang kakak yang sedikit berubah. Setelah Lavisa ketahuan kembali balapan, kakak sulungnya tidak membentak seperti pertama kali ia mengetahui Lavisa mengikuti balapan. Soya terlihat lebih tenang daripada kedua adiknya yang sangat tegas dan menatap Lavisa dengan datar. Itulah yang membuat Lavisa semakin takut.
Saat ini, si bungsu masih di kamar karena dirinya masih taktu menghadapi ketiga kakaknya. Setelah pembicaraan semalam, Lavisa memang hanya bertemu dengan Soya tapi tidak dengan kedua kakaknya. Lavisa hanya berdoa semoga kedua kakaknya sudah melupakan kejadian kemarin dan tidak membahasnya hari ini.
Setelah bersiap, Lavisa pun menyiapkan hati serta diri untuk mehgadapi kakak-kakaknya. Ia langsung menuruni tangga untuk menuju ke ruang makan yang sudah lengkap dengan makanan serta kehadiran ketiga kakaknya.
"Pagi" sapaa Lavisa dengan senyuman yang membuat ketiga kakaknya langsung menhadap Lavisa secara bersamaan
"Pagii" balasa ketiga kakaknya dengan bersamaan yang membuat Lavisa kaget. Karena biasanya Soya tidak pernah menjawab sapaannya
"Wah kompak, pas buat dijadiin girlband" ucap Lavisa dengan sembarang yang membuat Jennie hanya menatapnya sekilas dan menggelengkan kepalanya.
Lavisa yang langsung duduk di tempatnya langsung membulatkan matanya karena melihat Jennie yang memberikannya salad sayur. Jika biasanya hanya tersedia sayur dan diselingi dagin, roti ataupun nasi. Kali ini Jennie benar-benar memberikannya salad sayur di pagi hari. Kakak serta adiknya sangat menerima dan menikmati dengan senang hati, tapi untuk Lavisa ini bencana.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kak Niniiii....." bisik Lavisa menggunakan nada sedihnya. Jennie yang sedang makan pun hanya melirik Lavisa
"Kenapa?" tanya Jennie dengan nada datarnya
"Boleh ganti sarapan gak? Aku ga suka sayur yang kayak gini. Ini terlalu sayur buat aku" jawaban Lavisa membuat Rose tertawa
"Terlalu sayur tuh apa sih La?" tanya Rose sambil tertawa dan diikuti senyuman tipis oleh kedua kakaknya
"Ini tuh sayur banget pokoknya. Rasanya beneran sayur, aku ga suka" jawab Lavisa dengan sedikit merengek
"Jangan keluarin rengekkan gitu di depan makanan. Kalau salad sayurnya tiba-tiba nangis karena kamu bilang ga suka sama dia, gimana?" Soya ingin tertawa mendengar celotehan Jennie yang dianggap serius oleh Lavisa.
Pasalnya, di saat Jennie berbicara seperti itu. Reaksi Lavisa malah menundukan wajahnya sambil melengkungkan bibirnya. Soya tidak percaya kalau adiknya yang satu itu sangat polos.
"Sayurr, maaafin aku. Tapi kamu ga enak" balas Lavisa yang membuat Rose dan Soya tertawa
"Udah udah, kamu makan setengahnya aja. Nanti dibuatin roti bakar coklat sama Bi Ijah" kali ini Soya yang berbaik hati dan Jennie yang mendengar hanya tersenyum tipis